Trubus.id-Saat berkunjung ke rumah makan khas Sunda, Marsya Salsabila selalu memesan lalapan daun pohpohan (Pilea trinervia). Perempuan asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu menyukai pohpohan karena memiliki cita rasa yang khas. Saat dikunyah terasa segar walau sedikit pahit, tetapi memberikan sensasi hangat di mulut seperti daun mint.
Marsya biasanya menyantap lalapan itu mentah bersama sambal terasi, sambal dadak, atau sambal oncom. “Lauknya tak usah mewah, cukup dengan ikan asin, tahu, dan tempe saja juga enak. Apalagi nasinya masih hangat. Pokoknya enak banget,” tutur Marsya.
Tak disangka, daun pohpohan ternyata memiliki beragam manfaat bagi kesehatan. Menurut peneliti senior di SEAFAST Center, IPB, Prof. Dr. Nuri Andarwulan, M.Si., daun pohpohan mengandung antioksidan, terutama vitamin C.
Dengan mengonsumsi 50 gram daun pohpohan segar dalam sekali makan, kebutuhan vitamin C tubuh dapat terpenuhi hingga 80%. Selain itu, daun pohpohan juga mengandung berbagai senyawa penting yang dibutuhkan tubuh.
“Selain mineral, daun pohpohan juga mengandung serat pangan dan komponen bioaktif kelompok senyawa fenolik yang bermanfaat untuk kesehatan saluran pencernaan,” ujar Nuri.
Makan Segar
Untuk mempertahankan kandungan antioksidan, daun pohpohan sebaiknya dikonsumsi dalam kondisi sesegar mungkin. Lalapan itu dianjurkan tidak dalam keadaan layu atau terkena panas berlebihan agar manfaatnya tetap optimal.
Sebaiknya daun dicuci bersih setelah dipetik, lalu ditiriskan dan segera dikonsumsi. Dengan cara itu, daun dari anggota famili Urticaceae tersebut terbebas dari kotoran, debu, maupun kontaminasi mikroorganisme yang tidak diinginkan.
Daun pohpohan juga terbukti memiliki aktivitas antidiabetes berdasarkan penelitian yang dilakukan dosen Fakultas Farmasi Universitas Bakti Tunas Husada, Dr. apt. Nur Rahayuningsih, M.Si. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada.
Penelitian tersebut bertujuan mengetahui efek penurunan kadar glukosa darah dari tanaman pohpohan sebagai obat tradisional. Nur menggunakan daun pohpohan yang berasal dari Desa Linggajaya, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Sebelum digunakan, bahan dicuci menggunakan air mengalir dan melalui proses sortasi basah. Setelah itu sampel dipotong-potong dan dikeringkan pada suhu ruangan.
Setelah bahan kering, dilakukan sortasi kering dan penghancuran hingga menjadi serbuk. Sebanyak 120 gram serbuk simplisia kemudian dimasukkan ke dalam maserator dan ditambahkan pelarut etanol 70% hingga seluruh bahan terendam.
Campuran itu didiamkan selama tiga kali 24 jam sambil sesekali diaduk. Maserat yang terkumpul kemudian disatukan dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator hingga menghasilkan ekstrak kental.
Ekstrak yang diperoleh lalu ditimbang dan dibuat menjadi tiga variasi dosis, yaitu 0,62 gram/kg bobot badan (BB) mencit, 1,2 gram/kg BB mencit, dan 2,4 gram/kg BB mencit. Ketiga dosis tersebut disuspensikan dalam Pulvis Gom Arab (PGA) 1%.
Nur menggunakan mencit sebagai objek penelitian. Sebelum perlakuan, mencit dipuasakan selama 18–24 jam, tetapi tetap diberi minum.
Selanjutnya mencit dibagi menjadi lima kelompok perlakuan. Kelompok I berfungsi sebagai kontrol negatif yang mendapat suspensi PGA 1% secara oral.
Kelompok II menjadi kontrol positif yang memperoleh suspensi glibenklamid dalam PGA 1% dengan dosis 0,65 mg/kg BB mencit secara oral. Sementara itu, kelompok III hingga V mendapat suspensi ekstrak etanol daun pohpohan dalam PGA 1% dengan dosis bertingkat.
Dosis yang diberikan masing-masing sebesar 0,62 gram/kg BB, 1,2 gram/kg BB, dan 2,4 gram/kg BB mencit. Semua perlakuan diberikan secara oral.
Satu jam setelah pemberian ekstrak, seluruh kelompok mendapat glukosa secara oral dengan dosis 2 gram/kg BB mencit. Kadar glukosa darah kemudian diukur pada menit ke-30, ke-60, ke-90, dan ke-120 menggunakan glukometer.
Flavonoid
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun pohpohan memiliki aktivitas antidiabetes. Persentase penurunan kadar glukosa darah terbaik mencapai 31,19% pada dosis 2,4 gram/kg BB mencit.
Menurut Nur, kemampuan daun pohpohan menurunkan kadar gula darah diduga berasal dari kandungan senyawa alkaloid, polifenolat, tanin, flavonoid, steroid kuinon, monoterpenoid, dan seskuiterpenoid. Di antara senyawa tersebut, flavonoid diketahui memiliki efek antihiperglikemik.
Pendapat serupa disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania, M.Si. Menurutnya, flavonoid merupakan senyawa fenolik yang bersifat hipoglikemik atau mampu membantu menurunkan kadar gula darah.
Selain itu, tanin juga diketahui mempunyai aktivitas antioksidan. Kedua senyawa tersebut berpotensi berperan dalam manfaat kesehatan yang dimiliki daun pohpohan.
Meski demikian, herbalis di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Agus Irwanto, mengaku belum pernah meresepkan daun pohpohan untuk membantu mengatasi diabetes. Ia lebih sering menggunakan daun kersen sebagai pendamping terapi herbal.
Agus menyarankan pasien merebus 7–9 daun kersen dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Rebusan itu dapat diminum dua kali sehari setelah makan.
Herbalis asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati, juga belum menggunakan pohpohan sebagai resep bagi penderita diabetes. “Saya biasanya menyarankan untuk mengonsumsi 15 gram jahe, 15 gram sambilata, 5 gram daun salam, dan 10 gram meniran,” kata Valentina.
Menurut Valentina, dosis herbal dapat berbeda pada setiap diabetesi atau penderita diabetes. Karena itu, penggunaan herbal perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Hasil penelitian mengenai kemampuan daun pohpohan menurunkan kadar glukosa darah menjadi kabar menggembirakan bagi Nur. Menurutnya, diabetes melitus merupakan penyakit yang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh akibat tingginya kadar gula dalam darah.
Karena dampaknya yang luas terhadap kesehatan, kalangan medis kerap menyebut diabetes melitus sebagai mother of diseases atau ibu dari berbagai penyakit. Oleh sebab itu, upaya pencegahan dan pengendalian kadar gula darah menjadi hal yang sangat penting.
