Trubus.id — Propolis dari lebah tanpa sengat (Trigona spp.) yang berasal dari kawasan budidaya kelor (Moringa oleifera) berpotensi menjadi imunomodulator alami untuk membantu mengendalikan toksoplasmosis. Potensi itu terungkap dalam penelitian tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga yang menunjukkan ekstrak etanol propolis mampu menekan respons inflamasi pada mencit yang terinfeksi Toxoplasma gondii.
Propolis merupakan resin yang dikumpulkan lebah dari berbagai jenis tanaman. Komposisi kimianya sangat dipengaruhi oleh vegetasi di sekitar sarang. Pada kawasan yang didominasi tanaman kelor, propolis diketahui kaya akan flavonoid, polifenol, dan berbagai metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antioksidan sehingga berpotensi berperan sebagai imunomodulator alami.
Potensi tersebut menjadi menarik karena toksoplasmosis masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang perlu mendapat perhatian. Penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii itu dapat menginfeksi manusia maupun berbagai hewan berdarah panas. Sebagian besar infeksi memang tidak menimbulkan gejala, tetapi pada ibu hamil dan individu dengan sistem imun lemah, toksoplasmosis dapat memicu gangguan serius, bahkan membahayakan janin.
Selama ini pengobatan toksoplasmosis mengandalkan obat antiparasit, seperti kombinasi pyrimethamine dan sulfadiazine atau kotrimoksazol. Meski efektif, penggunaan dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan efek samping berupa gangguan fungsi hati, gangguan sumsum tulang, hingga resistensi obat. Kondisi itu mendorong peneliti mencari alternatif terapi yang lebih aman dan berasal dari bahan alam.
Untuk menguji potensinya, tim peneliti menggunakan 36 ekor mencit yang dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kelompok sehat, kelompok terinfeksi tanpa terapi, kelompok yang mendapat kotrimoksazol, serta tiga kelompok yang diberi ekstrak etanol propolis dengan dosis 1 mg, 2 mg, dan 4 mg per ekor. Seluruh mencit yang terinfeksi diinokulasi dengan 100 takizoit T. gondii. Selanjutnya, peneliti mengamati ekspresi sitokin proinflamasi Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α) dan Interferon-gamma (IFN-γ) menggunakan metode flow cytometry.
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol propolis mampu menurunkan kadar TNF-α dan IFN-γ. Efek terbaik diperoleh pada pemberian dosis 4 mg per ekor. Bahkan, kadar kedua sitokin proinflamasi tersebut lebih rendah dibandingkan kelompok yang mendapat terapi kotrimoksazol. Temuan itu menunjukkan propolis berpotensi membantu mengendalikan respons inflamasi berlebihan tanpa mengganggu mekanisme pertahanan tubuh.
Peneliti juga mengevaluasi ekspresi caspase-3 sebagai indikator apoptosis. Hasilnya tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna pada seluruh kelompok perlakuan. Demikian pula pada jaringan hati, ekspresi TNF-α, IFN-γ, maupun caspase-3 tidak berbeda nyata pada hari kelima setelah infeksi. Peneliti menduga fase inflamasi akut mulai mereda pada waktu pengamatan sehingga respons imun di jaringan hati telah mengalami penyesuaian. Meski demikian, secara keseluruhan propolis terbukti mampu memodulasi respons imun sistemik melalui penurunan sitokin proinflamasi.
Kemampuan tersebut diduga berasal dari kandungan flavonoid, polifenol, dan Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE). Ketiga senyawa itu diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi dengan cara menghambat pembentukan radikal bebas serta menekan aktivasi jalur NF-κB yang berperan dalam produksi sitokin proinflamasi. Dengan demikian, kerusakan jaringan akibat inflamasi berlebihan berpotensi diminimalkan.
Selain berpotensi dikembangkan sebagai terapi pendukung penyakit infeksi, pemanfaatan propolis lokal juga dapat meningkatkan nilai tambah hasil perlebahan sekaligus mendorong budidaya lebah tanpa sengat yang berkontribusi terhadap pelestarian vegetasi dan keanekaragaman hayati.
Meski hasil penelitian tersebut menjanjikan, peneliti menegaskan bahwa pengembangan propolis sebagai terapi pendukung masih memerlukan penelitian lanjutan. Studi ini belum mengevaluasi jumlah parasit di dalam jaringan maupun melakukan penilaian histopatologi hati secara kuantitatif sehingga hubungan antara penurunan sitokin dan tingkat infeksi masih perlu dikaji lebih mendalam. Uji praklinis lanjutan, identifikasi senyawa aktif, hingga uji klinis pada manusia menjadi tahapan penting sebelum propolis dapat diaplikasikan secara luas sebagai produk kesehatan
