Madu Lanceng Antikanker

Rekomendasi

Kanker merupakan salah satu penyakit akibat adanya sel-sel tak biasa yang bisa berkembang secara liar, menyerang, dan bergerak diantara sel-sel dan jaringan tubuh. Menurut peneliti yang menempuh gelar master di Program Studi Bioteknologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Institut Pertanian Bogor (IPB), Bustomi, kanker payudara, kanker paru, serta kanker kolon, adalah kanker yang paling umum di seluruh dunia. Sebagian besar penderita kanker biasanya melakukan tindakan operasi, terapi radiasi, kemoterapi, terapi bertarget (targetted therapy), serta imunoterapi.

Beberapa pengobatan itu mengakibatkan efek samping. Misal peluang terjadinya resistensi obat yang dipergunakan pada pengobatan kanker. Oleh karena itu, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terus menyebarkan penggunaan resep konvensional alami supaya lebih aman serta efektif untuk pengobatan kanker. Salah satunya penggunaan resep konvensional alami menggunakan madu Trigona sp. Menurut Bustomi pemanfaatan madu lanceng sebagai antikanker relatif menjanjikan.

Antioksidan tinggi

Namun, penelitian tentang madu Trigona sp. masih sangat kurang. Meskipun potensi madu Trigona sp. menjadi antikanker sudah banyak disebutkan dalam beberapa penelitian. Dalam penelitian sebelumnya, beberapa senyawa mendukung fungsi tersebut. Contoh madu Trigona sp. mempunyai kandungan total fenolik kurang lebih 784,3 mg GAE/kg. Madu Trigona sp. diklaim mempunyai kandungan antioksidan yang tinggi karena mempunyai kandungan fenolik yang tinggi.

Penelitian lainnya, madu Trigona sp. dari Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, dinyatakan mempunyai kandungan 106 mg/100 g fenolik total, 302,85 μg/g asam L-askorbat, 58,8% quercetin, serta 9,95 μg/g vitamin E. Fraksi etil asetat dalam madu Trigona sp. juga menunjukkan penghambatan terhadap sel kanker dengan nilai penghambatan sebanyak 52%. Nilai ini menunjukkan, fraksi etil asetat dalam madu Trigona sp. mempunyai aktivitas antikanker yang cukup baik. Dengan kandungan senyawa antioksidan yang tinggi, madu Trigona sp. mampu menjaga dari kerusakan organ.

Berbekal penelitian sebelumnya, maka Bustomi pun melakukan penelitian tentang aktivitas penghambatan sel kanker MCF-7 (sel kanker payudara), A549 (sel kanker paru-paru), dan WiDr (sel kanker kolon), setelah diberi madu Trigona sp. dari berbeda daerah. Hasil penelitian itu telah dipublikasikan dalam jurnal EnviroScienteae Vol. 19 No. 2, Mei 2023.

Dalam penelitian itu sampel madu yang digunakan yaitu madu Trigona sp. yang berasal dari Banten 1 dan Banten 2 (Provinsi Banten), Kabupaten Bogor, Sumedang, Garut (Provinsi Jawa Barat), Kabupaten Klaten (Provinsi Jawa Tengah), Provinsi Bangka Belitung, serta Batu Ampar (Provinsi Kalimantan Timur). Bustomi menjelaskan, uji yang digunakan adalah uji Microtetrazolium (MTT). Uji itu menggunakan metode uji sitotoksik kolorimetri untuk menghitung jumlah sel hidup dengan menghitung jumlah mitokondria aktif pada sel hidup.

Sel hidup itu mengubah larutan MTT berwarna kuning menjadi kristal formazan berwarna ungu. Hasil uji MTT Assay madu Trigona sp. terhadap sel kanker MCF-7 menunjukkan, masing-masing madu Trigona sp. memiliki aktivitas persentase sel hidup yang berbeda-beda. Madu Trigona sp. asal Bogor memiliki persentase sel hidup terendah yaitu 77,957%. Sementara persentase sel hidup tertinggi terdapat pada madu Trigona sp. asal Banten 1 dengan 89,459%.

Senyawa flavonoid

Nilai persentase sel hidup kanker MCF-7 itu menunjukkan bahwa madu itu memiliki aktivitas antikanker yang baik. Menurut Bustomi perbedaan persentase sel hidup yang tidak begitu jauh di antara kedelapan daerah asal madu Trigona sp. tersebut diduga akibat oleh tingginya aktivitas asam fenolik dan flavonoid. Hal itu menunjukkan bahwa aktivitas penghambatan sel kanker dipengaruhi oleh senyawa flavonoid dan asam fenolat yang besar dibandingkan dengan jumlah karbohidrat yang sedikit di madu. Hal itu bisa berdampak pada madu tersebut dan mampu menghambat proliferasi sel kanker.

Hasil uji MTT Assay madu Trigona sp. terhadap sel kanker A549 menunjukkan, pada madu Trigona sp. dari Banten 2 tidak menunjukkan aktivitas persentase sel hidup (0%). Hal itu diduga sel kanker A549 melakukan proliferasi dengan memakai gula pada madu Trigona sp. Gula juga memberikan nutrisi pada sel A549 sehingga memicu pertumbuhan sel.

Pada penelitian sebelumnya menunjukan, glukosa di madu bisa memberikan nutrisi pada sel kanker payudara sehingga bisa memicu pertumbuhan sel kanker lebih cepat. Sementara madu Trigona sp. dan Bangka memiliki nilai persentase sel hidup tertinggi sebesar 85,92%. Hal ini menujukkan bahwa madu Trigona sp. Bangka memiliki aktivitas antikanker yang baik.

Hasil uji MTT Assay madu Trigona sp. terhadap sel kanker WiDr menunjukkan, seluruh sampel madu Trigona sp. memberikan aktivitas penghambatan terhadap sel kanker WiDr. Madu Trigona sp. asal Bogor memiliki persentase sel hidup terendah yaitu 68,85%. Adapun persentase sel hidup tertinggi terdapat pada madu Trigona sp. dari Banten 1, yaitu 83,22%. Hal itu menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi.

Menurut Bustomi variasi aktivitas biologis pada konsentrasi yang tidak berbahaya bagi makhluk hidup, menimbulkan harapan akan potensi penggunaannya sebagai pengobatan kanker. Hasil penelitian uji toksisitas dengan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dari madu Trigona sp. menunjukkan, di daerah Banten 1, Bangka, dan Batu Ampar dapat berpotensi untuk dikembangkan sebagai antikanker. Pasalnya, madu dari ketiga daerah itu memiliki nilai toksisitas lebih kecil 30 μg/m.

Persentase penghambatan terbaik terhadap sel MCF-7, A549, dan WiDr, yaitu berturut-turut dari madu Banten 1, Bangka, dan Banten 1. Keampuhan madu Trigona sp. asal Banten 1 dan Bangka sebagai antikanker berkat kandungan 38 senyawa yang berhasil teridentifikasi menggunakan Liquid Chromatography-Tandem Mass Spectrometry (LC-MS/MS). Madu itu memiliki kandungan senyawa antikanker berupa kynurenic acid, oxyquinoline, dan glaucarubinone.

Senyawa antikanker terbaik ialah glaucarubinone yang memiliki interaksi sangat kuat terhadap reseptor estimated Glomerular Filtration Rate (EGFR) dengan nilai energi afinitas sebesar -8,8 kkal/mol dan konstanta inhibisi sebesar 3,4 x 10-7 μM. Senyawa itu memiliki potensi sebagai antikanker pankreas dengan menghambat enzim EGFR.

Menurut herbalis sekaligus dosen Fakultas Farmasi, Universitas Ahmad Dahlan, Dr. Apt. Kintoko, M.Sc., belum pernah menggunakan madu lanceng untuk membantu menyembuhkan kanker.

“Lazimnya saya menggunakan sarang semut dan rumput mutiara sebagai antikanker,” tutur Kintoko.

Cara membuatnya, siapkan masing-masing bahan berdosis 10 g. Ia biasanya menggunakan sediaan dalam bentuk simplisia kering karena lebih berkhasiat. Selanjutnya, rebus seluruh bahan dengan 3 gelas air hingga menjadikan 1 gelas. Setelah hangat, konsumsi air rebusan sehari 3 kali.

“Mekanisme kerja kedua ramuan itu adalah dengan menginduksi apoptosis, yaitu kematian sel kanker secara fisiologi,” ujar ketua Apoteker Praktik Herbal Indonesia itu.

Herbalis di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Valentina Indrajati, menggunakan madu lanceng untuk antikanker karena kandungan bioaktifnya cukup tinggi. Madu kelulut—sebutan lain madu lanceng—juga memiliki potensi sebagai antioksidan yang sering dikaitkan dengan efek antikanker.

“Kandungan senyawa flavonoid, polifenol, dan asam folat, membantu menetralkan radikal bebas yang dapat merusak DNA sel. Kerusakan DNA merupakan awal terbentuknya sel kanker,” tutur Valentina. Selain itu, madu lanceng juga dapat menghambat pertumbuhan sel kanker dengan memicu apoptosis (kematiaan alami sel kanker).

Namun, yang perlu diingat madu lanceng bukan obat utama kanker, melainkan pendukung kesehatan.

“Hanya berpotensi sebagai pencegah kanker dan kemampuannya mendukung sistem imun, bukan terapi utama,” kata Valentina. Madu itu dapat menjadi pembawa (carrier) yang baik untuk herbal karena membantu penyerapan senyawa aktif ke dalam tubuh. Madu lanceng dapat dipadukan dengan herbal yang bersifat antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator, dalam melawan perkembangan sel kanker, seperti kunyit, daun sirsak, temulawak, daun afrika, dan meniran.

Artikel Terbaru

El Nino Sangat Kuat Ancam Produksi dan Harga Pangan hingga 2027

Trubus.id — Fenomena El Nino yang semakin menguat berpotensi memberikan tekanan terhadap sektor pangan global. Kondisi tersebut tercermin dari...

More Articles Like This