Tuesday, June 9, 2026

Ikan Gabus Kaya Albumin, Berpotensi Menjadi Pangan Fungsional

Rekomendasi

Trubus — Ikan gabus selama ini lebih dikenal sebagai sumber albumin yang kerap dikonsumsi untuk membantu pemulihan pascaoperasi. Namun, potensi ikan air tawar itu sebenarnya jauh lebih besar. Selain mengandung albumin tinggi, ikan gabus juga kaya protein, vitamin, mineral, dan asam lemak tak jenuh yang bermanfaat bagi kesehatan.

Dosen Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Indun Dewi Puspita, S.P., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa kandungan protein ikan gabus sedikit lebih tinggi dibandingkan ikan air tawar pada umumnya. Jika rata-rata sumber protein hewani mengandung sekitar 20% protein, ikan gabus memiliki kandungan protein mencapai 23—25%.

“Ikan gabus mungkin bukan ikan yang umum dikonsumsi masyarakat. Memang ikan ini punya segmen pasar tersendiri,” ujar Indun.

Menurut Indun, salah satu alasan utama masyarakat mencari ikan gabus ialah kandungan albuminnya yang tinggi. Albumin merupakan protein penting yang berperan dalam proses regenerasi sel, menjaga keseimbangan cairan dalam darah, serta membantu distribusi berbagai zat gizi seperti vitamin dan mineral ke seluruh tubuh.

Ia menduga tingginya kandungan albumin pada ikan gabus berkaitan dengan habitat alaminya. Ikan gabus umumnya hidup di rawa atau perairan berlumpur dengan kadar oksigen relatif rendah. Kondisi lingkungan itu diduga membuat ikan beradaptasi dengan memproduksi albumin dalam jumlah lebih tinggi.

“Biasanya orang-orang mencari albumin, misalnya setelah operasi. Albumin dapat membantu mempercepat regenerasi sel,” kata Indun.

Selain albumin, ikan gabus juga mengandung berbagai nutrisi penting lainnya. Di antaranya vitamin, mineral, dan asam lemak tak jenuh omega-3. Meski kandungan omega-3 ikan laut masih lebih tinggi, ikan gabus tetap unggul dibandingkan sebagian besar ikan air tawar lainnya.

Karena manfaat kesehatannya, saat ini banyak tersedia produk ekstrak ikan gabus dalam bentuk suplemen. Namun, menurut Indun, konsumsi ikan gabus secara langsung tetap lebih dianjurkan karena memberikan asupan gizi yang lebih lengkap.

“Kalau mengonsumsi ikannya langsung, kita bisa mendapatkan nutrisi lainnya. Misalnya beberapa laporan menyebutkan adanya asam lemak tak jenuh,” ujarnya.

Agar kandungan gizinya tetap terjaga, Indun menyarankan masyarakat menghindari pengolahan dengan suhu terlalu tinggi. Metode memasak seperti dikukus atau direbus menjadi sup dinilai lebih baik dibandingkan menggoreng atau membakar dalam waktu lama yang berpotensi merusak struktur protein dan zat gizi lainnya.

Peluang Budidaya dan Diversifikasi Produk

Di balik nilai gizinya yang tinggi, pemanfaatan ikan gabus masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya ketersediaan pasokan yang hingga kini masih banyak bergantung pada hasil tangkapan alam. Berbeda dengan lele atau nila yang telah dibudidayakan secara luas, ikan gabus masih relatif jarang diproduksi secara massal.

Menurut Indun, kondisi tersebut membuka peluang riset dan inovasi, mulai dari teknologi pembenihan, pembesaran, hingga sistem budidaya yang efisien. Pengembangan budidaya menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan populasi ikan gabus di alam sekaligus memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.

“Penting menjaga keberlangsungan ikan ini di alam. Jangan sampai karena eksploitasi berlebihan populasinya justru menurun,” tuturnya.

Tidak hanya dari sisi produksi, peluang pengembangan produk olahan ikan gabus juga masih sangat terbuka. Selama ini pemanfaatannya masih didominasi konsumsi segar atau ekstrak albumin. Padahal ikan gabus berpotensi diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah sehingga dapat dikonsumsi sehari-hari, tidak hanya saat seseorang sedang dalam masa pemulihan kesehatan.

Indun juga menilai edukasi kepada masyarakat perlu terus ditingkatkan. Bentuk fisik ikan gabus yang berbeda dengan ikan konsumsi populer lainnya diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat masyarakat untuk mengonsumsinya.

Menurutnya, jika ketersediaan ikan gabus meningkat dan teknologi pengolahannya berkembang, diversifikasi produk akan semakin beragam. Kondisi itu berpotensi meningkatkan konsumsi masyarakat sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan komoditas lokal tersebut.

Sebagai sumber protein berkualitas tinggi, ikan gabus menjadi salah satu pilihan pangan yang layak dipertimbangkan. Indun mengingatkan pentingnya meningkatkan konsumsi ikan sebagai bagian dari pola makan sehat.

“Apapun jenis ikannya, semuanya punya kualitas protein yang baik. Jadi mungkin bisa mulai menambah menu ikan paling tidak dua kali seminggu agar manfaat gizinya dapat dirasakan,” ujarnya.


Artikel Terbaru

Gula Cair Kian Diminati, Peluang Usaha dari Aren hingga Singkong

Kopi gula aren kini menjadi salah satu minuman favorit kalangan muda. Perpaduan rasa manis khas gula aren dan aroma...

More Articles Like This