Industri persuteraan menghadapi tantangan baru akibat perubahan iklim, meningkatnya ancaman penyakit, hingga berkurangnya keragaman genetik akibat proses domestikasi. Kondisi tersebut membuat upaya konservasi sumber daya genetik ulat sutra menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan produksi sutra di masa depan.
Saya melansir dari laman BRIN, peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Lincah Andadari, menjelaskan bahwa ulat sutra murbei (Bombyx mori L.) memiliki keragaman genetik yang sangat kaya. Setiap ras dan galur memiliki karakter berbeda, mulai dari sifat telur, larva, hingga kokon yang berpengaruh terhadap produktivitas, kualitas benang sutra, kemampuan adaptasi, dan ketahanan penyakit.
Keragaman genetik tersebut menjadi modal penting dalam menghasilkan varietas unggul ulat sutra. Melalui kegiatan pemuliaan, sifat-sifat yang diinginkan dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan industri persuteraan nasional.
Menurut Lincah, konservasi sumber daya genetik diperlukan untuk menjaga ketersediaan materi genetik yang dapat digunakan dalam penelitian dan pengembangan galur baru. Upaya tersebut dilakukan melalui pemeliharaan berbagai koleksi ras dan galur, regenerasi secara berkala, karakterisasi sifat unggul, serta pendokumentasian informasi genetik.
Koleksi plasma nutfah yang terjaga memberikan peluang bagi peneliti untuk menghasilkan ulat sutra dengan produktivitas lebih tinggi, kualitas serat lebih baik, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Selain itu, sumber daya genetik tersebut juga berperan dalam menghasilkan galur yang lebih tahan terhadap serangan penyakit.
Seiring perkembangan teknologi, pengelolaan sumber daya genetik ulat sutra kini semakin didukung pendekatan modern. BRIN memanfaatkan teknologi seperti analisis biomolekuler, teknologi multi-omics, penyuntingan genom (genome editing), hingga kecerdasan artifisial (AI) untuk memahami karakter genetik secara lebih mendalam.
Teknologi tersebut memungkinkan identifikasi sifat unggul dilakukan lebih cepat sehingga proses pemuliaan dapat berjalan lebih efektif. Dengan begitu, pengembangan ulat sutra unggul dapat lebih sesuai dengan kebutuhan industri dan tantangan lingkungan yang terus berubah.
Meski memiliki potensi besar, keberlanjutan industri persuteraan tetap menghadapi berbagai hambatan. Perubahan iklim, penyempitan keragaman genetik, serta meningkatnya risiko penyakit menjadi faktor yang perlu diantisipasi melalui konservasi dan inovasi berkelanjutan.
Lincah menegaskan bahwa konservasi sumber daya genetik bukan hanya bertujuan menjaga koleksi plasma nutfah, tetapi juga memastikan pemanfaatannya untuk menghasilkan inovasi. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing industri persuteraan nasional di masa mendatang.
