Tanaman kelapa sawit memasuki masa peremajaan saat berumur 15—20 tahun. Pada fase itu, batang-batang tua ditebang untuk diganti dengan tanaman baru. Namun, di balik proses tersebut tersimpan potensi ekonomi yang belum banyak dimanfaatkan, yakni nira dari batang sawit tua.
Hal itulah yang dimanfaatkan Edi Sulistiantoro, warga Desa Pegajahan, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara. Ia mengolah nira dari batang sawit tua menjadi gula merah bernilai ekonomi. Satu batang sawit tua bahkan mampu menghasilkan sekitar 10 liter nira per 24 jam.
Proses pengambilan nira dilakukan dengan mengiris pucuk batang sawit hingga bagian dalam berwarna putih. Dari irisan tersebut, nira akan keluar dan ditampung menggunakan ember yang ditutup rapat agar tetap bersih dari kotoran dan air hujan.
Setelah 24 jam, nira siap dipanen. Cairan berwarna putih dengan rasa manis itu kemudian disaring sebelum dimasak. Proses pemasakan dilakukan menggunakan tungku kayu bakar selama 3—5 jam hingga mengental dan berubah warna menjadi cokelat kemerahan.
Selanjutnya, nira kental dicetak menggunakan wadah dari bambu, kayu, atau tempurung hingga mengeras menjadi gula merah. Produk tersebut dijual dengan harga Rp18.000—Rp20.000 per kg. Dalam sehari, Edi mampu memproduksi hingga sekitar 1 ton gula merah.
Menurut dosen Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Negeri Pontianak, Ledy Purwandani, nira sawit memiliki kandungan gula tinggi. Komposisinya meliputi glukosa hingga 86,9%, sukrosa 15,892%, serta total gula mencapai 17,603%. Kandungan tersebut menjadikan nira sawit potensial sebagai bahan baku industri pangan.
Pemanfaatan nira sawit juga dinilai sebagai sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat di sekitar perkebunan. Apalagi, luas perkebunan sawit yang memasuki masa replanting cukup besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2018 luas kebun sawit di Kalimantan Barat mencapai 1,1 juta hektare, dengan sekitar 203.218 hektare di antaranya memasuki masa peremajaan.
Kondisi tersebut membuka peluang pemanfaatan batang sawit tua secara optimal sebelum akhirnya terbuang. Dengan pengolahan yang tepat, nira sawit tidak hanya menjadi produk bernilai ekonomi, tetapi juga mendukung pemanfaatan limbah perkebunan secara berkelanjutan
