Trubus.id — Minyak kayu putih merupakan salah satu produk yang berasal dari tanaman asli Indonesia. Namun, produksi minyak kayu putih dalam negeri hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Kebutuhan minyak kayu putih untuk industri farmasi mencapai lebih dari 4.000 ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri baru sekitar 800 ton.
Kondisi tersebut menyebabkan terdapat kesenjangan pasokan hampir 3.200 ton. Kesenjangan itu kemudian dipenuhi melalui impor minyak substitusi, yaitu minyak eukaliptus.
Hal tersebut disampaikan Anto Rimbawanto dalam tayangan BRINovasi. Menurut Anto, minyak eukaliptus dan minyak kayu putih berasal dari dua spesies tanaman yang berbeda.
“Minyak eukaliptus dihasilkan dari pohon eukaliptus, sedangkan minyak kayu putih dihasilkan dari pohon kayu putih. Ini adalah dua spesies yang berbeda,” ujar Anto.
Meski berbeda spesies, keduanya sama-sama mengandung senyawa 1,8-sineol. Namun, minyak kayu putih memiliki karakteristik aroma yang berbeda dengan minyak eukaliptus.
Menurut Anto, kondisi tersebut menjadi alasan perlunya mendorong pengembangan minyak kayu putih di Indonesia. Apalagi, tanaman kayu putih merupakan tanaman asli Indonesia.
Benih unggul
Untuk meningkatkan produktivitas minyak kayu putih nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan seleksi dan pengembangan benih unggul kayu putih.
Benih unggul yang dikembangkan BRIN memiliki sejumlah keunggulan, terutama dari sisi rendemen dan kadar 1,8-sineol. Hasil pengujian menunjukkan kadar 1,8-sineol minyak kayu putih yang dihasilkan dapat mencapai 70%.
Rendemen merupakan proporsi antara daun yang disuling dan minyak yang dihasilkan. Kebun kayu putih yang tidak menggunakan benih unggul umumnya menghasilkan rendemen sekitar 0,6–0,8%.
Sementara itu, penggunaan benih unggul dapat meningkatkan rendemen hingga 1,2%, bahkan mencapai 1,4%.
“Biji unggul pohon kayu putih yang dikembangkan BRIN tentu memiliki banyak keunggulan, baik dari sisi rendemen maupun kadar sineol,” kata Anto.
Peningkatan produktivitas tidak hanya berkaitan dengan jumlah minyak yang dihasilkan, tetapi juga kualitas minyak. Kadar 1,8-sineol pada minyak kayu putih dari benih unggul dapat mencapai lebih dari 70%.
Dikembangkan melalui Desa Inovasi Kayu Putih
Untuk memperluas produksi, BRIN telah membuka dan mengembangkan sejumlah kebun kayu putih di beberapa wilayah Indonesia. Salah satunya berada di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, dengan luas kebun mencapai 4.000 hektare.
Kebun tersebut menggunakan benih unggul kayu putih yang telah dikembangkan. Selain itu, BRIN juga mengembangkan skema Desa Inovasi Kayu Putih yang tersebar di beberapa wilayah di Sumatera.
Kebun-kebun dalam program tersebut menggunakan benih unggul dan hingga kini masih beroperasi. Pengembangan kebun di berbagai daerah diharapkan dapat menambah pasokan minyak kayu putih untuk kebutuhan dalam negeri.
Dengan semakin meluasnya kebun Desa Inovasi Kayu Putih, kebutuhan industri farmasi nasional diharapkan secara bertahap dapat dipenuhi dari minyak kayu putih produksi dalam negeri.
Pengembangan tersebut juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak eukaliptus sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia.
Sumber: YoutuBe BRIN
