Rumah Kawat Pintar Kultur Jaringan Selamatkan Aklimatisasi Planlet

Rekomendasi
- Advertisement -

Planlet pisang, aglaonema, dan anggrek hasil kultur jaringan berukuran mungil, tetapi menghadapi tantangan besar ketika keluar dari botol. Perubahan suhu, kelembapan, cahaya, dan ketersediaan air dapat menyebabkan tanaman stres, bahkan mati. Kelompok Tani Giat Bakti Lestari di Desa Cibadung, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, kini mengandalkan rumah kawat pintar berbasis Internet of Things (IoT) untuk melewati fase kritis tersebut.

Dari Rumah Paranet Sederhana Menjadi Berbasis Sensor

Rumah kawat merupakan pengembangan rumah paranet sederhana berkonstruksi bambu yang sebelumnya digunakan kelompok tani. Fasilitas baru dilengkapi paranet, plastik UV, meja tanam, tangki air, pompa, sistem penyiraman, serta sensor suhu, kelembapan udara, dan kelembapan media tanam. Sensor memantau kondisi lingkungan secara real-time. Data menjadi dasar pengaturan penyiraman dan misting sehingga pemeliharaan tanaman lebih terukur.

“Selama ini kami lebih banyak melihat kondisi tanaman secara langsung. Dengan sensor, kami mulai belajar membaca kondisi melalui data,” ujar Ketua Kelompok Tani Giat Bakti Lestari, Asep Yanto.

Kelanjutan Program Laboratorium Kultur Jaringan

Inovasi rumah kawat kultur jaringan ini melanjutkan pembangunan laboratorium kultur jaringan melalui program PkM Universitas Indraprasta PGRI pada 2024 dengan pendanaan Ditjen Diktiristek. Laboratorium dimanfaatkan untuk memproduksi bibit pisang dan tanaman hias. Pada 2026, tim kembali memperoleh pendanaan Pemberdayaan Berbasis Masyarakat–Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Hibah DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, untuk mengembangkan fasilitas aklimatisasi.

Hasil Evaluasi: Produksi dan Manajemen Kelompok Meningkat

Hasil evaluasi terhadap 22 anggota menunjukkan capaian produksi meningkat dari 63,57% menjadi 88,87%. Jumlah tanaman yang berhasil melewati aklimatisasi bertambah dari 62 menjadi 112 tanaman atau meningkat 80,65%. Kemampuan manajemen kelompok naik dari 69,66% menjadi 90,32%, dengan N-Gain 0,59.

Proses penyiraman otomatis di dalam rumah kawat pintar.

Menurut penyuluh BPP Wilayah IX, Anton Syatoto, S.Pt., inovasi tersebut menunjukkan penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan petani. Kepala Desa Cibadung, Bardie, S.E. melihat kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan kelompok tani sebagai peluang mengembangkan desa berbasis inovasi pertanian.

Pendampingan Menuju Kemandirian Kelompok Tani

Ketua tim PkM Prof. Dr. Fitri Damayanti, M.Si., menegaskan bahwa program tidak berhenti pada pemasangan sensor dan pompa. Mitra memperoleh pelatihan, pendampingan, SOP, serta buku panduan agar mampu mengoperasikan dan merawat fasilitas secara mandiri.

Tim bersama Dr. Acep Musliman, M.Si., dan Dr. Tri Anita, M.Pd., serta melibatkan mahasiswa Nazalla Zazkya dan Hasiyatul Aini, berharap rumah kawat menjadi penghubung antara laboratorium dan produksi tanaman. Setelah melewati fase aklimatisasi, tanaman dapat dikembangkan untuk budidaya maupun produksi bibit bernilai ekonomi.

Dari Cibadung, rumah kawat pintar kultur jaringan berbasis sensor mulai mengubah cara petani merawat tanaman. Dari sekadar melihat tanaman menjadi membaca data untuk menentukan tindakan. Langkah kecil itu membuka jalan bagi penerapan smart farming sekaligus pengembangan sentra tanaman hasil kultur jaringan di tingkat desa.

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Ekspor Florikultura Indonesia Tembus Rp3,51 Triliun, Kirim 59,6 Juta Komoditas

Trubus.id — Tanaman hias dan komoditas florikultura Indonesia semakin mendapat tempat di pasar internasional. Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat...

More Articles Like This