Pendidik Beradaptasi dengan Zaman

Rekomendasi

Para guru dari Pulau Giligenting mengikuti pelatihan pembelajaran mendalam dengan memanfaatkan akal imitasi.

“Sebagai guru kami tidak memperhatikan secara detail saat berkomunikasi di kelas,” ujar guru bahasa Indonesia di MTs Anwaruddin, Ahmad Fauzi. Model pembelajaran yang lazim adalah ceramah. Fauzi mengatakan, guru tidak memperhatikan kondisi siswa. Kesannya penyampaian materi di kelas sudah baik. Belum lama ini ia mengikuti pelatihan, salah satu materinya wicara publik (public speaking) di kelas. Setelah mengikuti pelatihan itu ia menilai komunikasi publik sangat penting untuk diterapkan kepada peserta didik selama pembelajaran. “Materi itu sangat berguna,” kata Fauzi.

Ia mengatakan, “Saya sekarang menyadari jika penyampaian kurang tepat, maka pembelajaran pun tak maksimal.” Materi pelatihan lain berupa pemanfaatan akal imitasi (artficial intelegence) dan literasi digital dalam pembelajaran mendalam. Menurut Fauzi pelatihan ini membantu dan mempermudah guru dalam menyiapkan materi pembelajaran. “Kami harus beradaptasi dengan dunia digital,” kata Fauzi.

Materi bermanfaat

Setelah mengikuti pelatihan, Fauzi juga akan menularkan pengetahuan baru itu kepada rekan-rekan guru di sekolahnya. Alasannya, “Jika hanya saya yang melakukan, maka perubahan itu akan berjalan lambat. Kolaborasi dengan guru-guru lain justru mempercepat perubahan itu,” kata Fauzi. Perubahan yang dimaksud adalah cara pemanfaatan akal imitasi dan teknik penyampaian materi pembelajaran kepada peserta didik.

Fauzi salah satu di antara 29 peserta pelatihan literasi digital bagi guru MTs dan SMP di Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, pada 8—9 Juli 2026. Penyelenggara pelatihan itu Medco Energi Sampang Pty. Ltd, Medco Energi Madura Offshore, dan Medco Foundation bekerja sama dengan Kelas Trubus—divisi Majalah Trubus yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Para peserta pelatihan merupakan guru MTs dan SMP di Pulau Giligenting—45 km sebelah tenggara Pulau Madura.

Mereka ke darat dengan menaiki kapal menuju Tanjung Saronggi selama rata-rata 1 jam. Masyarakat Giligenting terbiasa mengatakan ke darat jika hendak ke Sumenep. Sementara jika hendak pulang ke Giligenting, mereka mengatakan ke pulau. Pembicara pelatihan Dr. Sardi Duryatmo, M.Si. dan Hafidama, A.Md., S.I.Kom. dari kelas Trubus. Di kelas para guru itu kembali belajar. Menurut Fauzi guru tidak berhenti belajar, tetapi terus belajar agar bisa meningkatkan keterampilan sekaligus beradaptasi dengan zaman.

Guru-guru dari Pulau Giligenting, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, peserta pelatihan pembelajaran mendalam.

Manager Field Relation and Community Enhancement Medco Energi Madura Offshore, Hartono, mengatakan pelatihan ini bertujuan meningkatkan pendidikan. “Melalui pelatihan kualitas pendidikan lokal bisa terangkat,” kata Hartono. Medco Energi, ujar Hartono, menyelenggarakan pelatihan karena mengacu ke regulasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Lembaga pengelola kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi itu menetapkan tata kelola program berupa pelibatan pengembangan masyarakat.

Menurut Hartono acuannya adalah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s), terutama pada tujuan ke-4, yakni kualitas pendidikan. Hartono mengatakan, Medco Energi Sampang Ltd. dan Medco Energi Madura Offshore memiliki total lima titik anjungan. Kelima lokasi penambangan itu berada di atas 4 mil dari garis pantai di kedua wilayah (Sampang dan Sumenep). Artinya berdasarkan regulasi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) kewenangan perizinan dan pengelolaan pertambangan berada di tangan pemerintah provinsi. Provinsi menangani perizinan jika lokasi penambangan berada 4—12 mil.

Sebaliknya jika jarak kurang dari 4 mil, kewenangan perizinan dan pengelolaan pertambangan di tangan pemerintah kabupaten atau kotamadya. Meski demikian, Medco Energi rutin menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat Sumenep dan Sampang setiap tahun. Hartono mengatakan, usulan pelatihan bisa dari bawah ketika berlangsung musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang). Musrenbang merupakan forum partisipatif tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah desa hingga nasional—untuk menyusun rencana pembangunan.

Menerapkan di kelas

Mengapa semua peserta pelatihan guru-guru MTs dan SMP swasta dari Giligenting? Education & Literature Program Lead, Medco Foundation, Oktin Catur Palupi, mengatakan, “Guru-guru sekolah negeri mendapat banyak program pelatihan dari pemerintah. Pelatihan ini bentuk perhatian untuk guru-guru swasta,” kata Oktin. Pelatihan pemanfaatan akal imitasi dan komunikasi publik kali pertama bagi mereka. Itulah sebabnya, peserta pelatihan sangat antusias.

“Materi pelatihan ini merupakan hal baru bagi saya,” ujar Anwar Sidqi. Guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di MTs Toha Praktika itu berencana menerapkan pengetahuan baru dalam pembelajaran. Guru MTs Nurul Ulum, Muhammad Sahli Isfiraini, menuturkan, “Kami sangat menantikan pelatihan ini karena bermanfaat. Materi lain yakni komunikasi di kelas juga sangat bermanfaat.”

Pendapat serupa juga disampaikan oleh banyak peserta lain seperti Sriyatun (MTs Toha Praktika), Johan Budiman (MTs Al Arief), Annisa Yuliatin (MTs Al Arief), dan Qurrotul A’yyun (SMP Islam Nurul Hikmah). Selama pelatihan mereka tak hanya mendapat teori, tetapi juga praktik membuat bahan ajar yang dipandu para narasumber. Penerapan akal imitasi di Giligenting menghadapi berbagai hambatan seperti keterbatasan jaringan internet dan listrik yang menyala hanya pada malam hari.

Pulau Giligenting, Kabupaten Sumenep, seluas hampir 19 km2 sebetulnya sangat eksotis. Pantai Sembilan—bentuk menyerupai angka 9—berpasir putih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Di pulau itu rumah-rumah warga berdiri megah. Namun, ironisnya sebagian besar tak berpenghuni. Itu karena penduduknya, menurut warga setempat 70%, meninggalkan Giligenting.

Mereka bekerja di luar pulau dengan membuka toko kelontong atau toko Madura di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Slogan toko itu tersohor yakni buka 24 jam dan tutup hanya pada hari kiamat. Para pemilik toko itu memanfaatkan laba perniagaan untuk membangun rumah-rumah di desa. Oleh karena itu, rumah mereka di Giligenting tampak mewah. Meski menghadapi hambatan, para guru yang mengikuti pelatihan optimis dapat mewujudkannya. Mereka akan menyiasatinya di tengah keterbatasan. (Sardi Duryatmo)

Artikel Terbaru

Potensi Sukun Jadi Pangan Lokal, Bisa Diolah Menjadi Tepung hingga Tapai

Sukun berpotensi menjadi salah satu sumber pangan lokal untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia. Selain kaya karbohidrat, buah ini dapat...

More Articles Like This