Ketergantungan Impor Sapi Australia Masih Tinggi, IPB Soroti Risiko dan Solusi

Rekomendasi

Ketergantungan Indonesia terhadap impor sapi, kerbau, dan kulit sapi masih cukup tinggi, terutama dari Australia. Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menyebut kondisi ini terjadi karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan daging, susu, dan bahan kulit.

Ia menjelaskan, populasi sapi lokal seperti Bali dan peranakan ongole (PO) memiliki pertumbuhan lambat dan produktivitas rendah. Selain itu, distribusi ternak belum merata, dengan konsentrasi di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah, sementara permintaan tinggi berada di wilayah seperti Jakarta dan Jawa Barat.

Di sisi lain, kebutuhan terus meningkat seiring pertumbuhan kelas menengah, perkembangan industri hotel dan restoran, serta adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini semakin mendorong ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Australia menjadi pemasok utama karena kedekatan geografis, harga kompetitif sekitar US$4 per kilogram bobot hidup, serta kualitas ternak unggul seperti Brahman Cross. Pada 2025, impor sapi hidup dari Australia diperkirakan mencapai 583.000 ekor dengan nilai US$611,6 juta.

Tak hanya sapi hidup, Australia juga menguasai lebih dari 60 persen pasar daging sapi beku impor Indonesia, termasuk jeroan dengan nilai mencapai US$127 juta. Untuk kulit sapi, Indonesia mengimpor sekitar 1.031 ton pada 2023 senilai US$0,86 juta, yang dimanfaatkan untuk industri sepatu, tas, furnitur, hingga konsumsi seperti kerupuk kulit.

Sementara itu, impor kerbau juga cukup signifikan. Indonesia menyumbang 3,52 persen impor global dan masuk dalam empat besar negara pengimpor. Pada 2023, impor kerbau hidup dari Northern Territory, Australia, mencapai US$3,54 juta dengan tren meningkat menjelang Iduladha.

Prof. Ronny mengingatkan, ketergantungan tinggi terhadap Australia berpotensi menimbulkan kerentanan ekonomi, terutama saat nilai tukar rupiah melemah. Depresiasi rupiah terhadap dolar Australia akan langsung meningkatkan biaya impor.

Untuk mengurangi risiko, ia menyarankan diversifikasi sumber impor dari negara lain seperti India, Brasil, Amerika Serikat, dan Selandia Baru. Selain itu, penguatan industri domestik melalui pengembangan feedlot, pembibitan, dan industri kulit menjadi langkah penting.

Pengelolaan risiko nilai tukar melalui skema hedging dan kontrak jangka panjang juga dinilai perlu dilakukan. Strategi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga daging, memperkuat ketahanan pangan, serta mendukung kedaulatan ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Artikel Terbaru

Jejak Petani: Buah Naga Fantasia, Menuju 3.000 Ton Tanpa Hormon Pembesar

Kali ini kita belajar langsung dari Bapak Johan Prasetio selaku Direktur Operasional PT DSAR atau Buah Naga Fantasia. Beliau...

More Articles Like This