Pasar Kepiting Soka Terbuka Lebar

Rekomendasi

Syeli Sugianto rutin memanen 5–10 kg kepiting soka setiap hari. Dengan harga jual Rp160.000 per kg, pembudidaya di Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, itu mampu meraup omzet Rp800.000–Rp1,2 juta per hari.

Syeli menjual kepiting soka kepada restoran dan rekan-rekannya. Ia membudidayakan kepiting soka menggunakan 840 kotak apartemen kepiting (vertical crab house). Sebanyak 80% atau 672 kotak digunakan untuk memelihara kepiting soka. Adapun sisanya dimanfaatkan untuk penggemukan kepiting bakau.

“Saya lebih banyak membudidayakan kepiting soka karena lebih mudah dan tidak ribet,” kata pemilik perusahaan VreshCrab itu.

Menurut Syeli, kepiting soka memiliki pasar lebih luas karena dapat dijual dalam bentuk beku. Dengan begitu, pengiriman kepada pelanggan lebih aman. Sementara itu, kepiting bakau harus dikirim dalam kondisi hidup sehingga berisiko selama perjalanan.

Budi daya kepiting soka kini menggeliat di beberapa daerah di Indonesia. Peluang pasarnya terbuka lebar karena permintaan ekspor belum terpenuhi. Kondisi itu menjadi peluang bagi pembudidaya untuk mengembangkan usaha kepiting soka.

Tubuh membesar

Syeli memanen kepiting soka setelah pemeliharaan sekitar tiga pekan. Ia memperoleh bibit berbobot kurang dari 100 g per ekor dari nelayan setempat.

Biasanya nelayan mengantarkan bibit pada malam hari. Keesokan harinya, Syeli memutilasi kaki-kaki kepiting untuk mempercepat pergantian cangkang lama ke cangkang baru atau molting.

Ia memberikan pakan berupa ikan rucah sekali sehari. Ikan rucah merupakan kumpulan ikan kecil atau spesies nonkomersial yang berasal dari hasil tangkapan sampingan nelayan. Meski bernilai ekonomis rendah, ikan tersebut kaya protein, mencapai 40–65%.

“Semua ikan yang diberikan harus masih segar. Tidak boleh busuk karena membuat kualitas air menjadi jelek,” tutur Syeli.

Ia biasanya memberikan pakan pada malam hari karena kepiting termasuk hewan nokturnal yang aktif mencari makan pada malam hari. Di habitat aslinya, sebagian besar spesies krustasea itu menghabiskan waktu pada siang hari untuk beristirahat dan bersembunyi di dalam liang.

Setelah sekitar tiga pekan pemeliharaan, sejumlah kepiting mulai mengganti cangkang lama dengan cangkang baru. Pada fase molting itulah pembudidaya harus segera memanen kepiting soka.

Jika terlambat memanen, kulit kepiting yang semula lunak akan kembali mengeras. Bila kondisi itu terjadi, pembudidaya harus menunggu hingga kepiting mengalami molting kembali.

Menurut Syeli, ukuran tubuh kepiting bertambah setelah mengalami pergantian cangkang. “Pada saat molting, rata-rata bobot tubuh kepiting soka bertambah menjadi 120 g atau sekilo isi 8 ekor,” kata Syeli.

Setelah panen, Syeli menyimpan kepiting soka di dalam lemari pembeku (freezer). Ia mengirimkan hasil panen kepada konsumen setelah jumlahnya mencukupi permintaan. Dengan sistem tersebut, Syeli dapat memasok kepiting soka dalam bentuk beku sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas.

Artikel Terbaru

Apartemen Kepiting, Inovasi Budidaya Kepiting Soka di Lahan Sempit

Trubus.id – Berbekal latar belakang Teknik Elektro, Opi Nopiansah sukses mengelola ribuan boks kepiting soka di laboratorium IPB IPMOS...

More Articles Like This