Peran perempuan dalam sistem pangan global kerap luput dari sorotan. Padahal, berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), perempuan menghasilkan lebih dari 50% produk pangan dunia, termasuk di kawasan Asia. Di Indonesia, kontribusi tersebut terlihat nyata dari keterlibatan perempuan di hampir seluruh rantai produksi pertanian.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Puji Lestari, Ph.D., menyatakan bahwa perempuan memegang peranan strategis dalam pembangunan pertanian nasional. Menurutnya, perempuan tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi menjadi aktor penting dalam keberlangsungan sistem pangan dan ekonomi pedesaan.
“Perempuan telah secara turun-temurun bergerak di bidang pertanian. Mulai dari produksi di lapang, pemasaran, hingga pemanfaatan hasil pertanian di rumah tangga dan industri,” ujar Puji.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat, dari total 38,8 juta tenaga kerja sektor pertanian, sebanyak 11,5 juta orang atau 29,6% merupakan perempuan. Keterlibatan tersebut mencakup pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen, hingga pemasaran hasil tani.
Di tingkat regional, data FAO menunjukkan bahwa perempuan berkontribusi lebih dari 50% produksi pangan dunia. Di kawasan ASEAN, Thailand menempati peringkat tertinggi keterlibatan perempuan di sektor produksi pangan sebesar 60%, disusul Indonesia 54%, Filipina 47%, dan Malaysia 35%.
Meski berperan besar, perempuan masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Dr. Puji Lestari, Ph.D., menuturkan bahwa stereotip masyarakat patriarkal kerap memosisikan perempuan sebagai pihak yang kurang dipercaya dalam usaha pertanian. Stigma bahwa sektor pertanian lebih layak dikelola laki-laki masih kuat di sejumlah wilayah.
Selain tantangan sosial dan budaya, perempuan juga dihadapkan pada keterbatasan akses terhadap lahan, modal, teknologi, serta pengambilan keputusan. BPS mencatat, hanya sekitar 14,5% pemilik lahan pertanian di Indonesia merupakan perempuan. Kondisi tersebut membuat perempuan cenderung bekerja di lahan milik suami, orang tua, atau pihak lain tanpa kepemilikan formal.
Untuk menjawab tantangan tersebut, berbagai program pemberdayaan perempuan terus digulirkan oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta. Program tersebut mencakup pendampingan Kelompok Wanita Tani (KWT), pelatihan agribisnis modern, pengolahan hasil pertanian, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran produk.
Perempuan banyak terlibat dalam komoditas hortikultura, padi (terutama pascapanen), peternakan skala kecil, serta usaha pengolahan pangan seperti keripik, jamu, dan makanan tradisional. Pemanfaatan lahan pekarangan juga menjadi strategi penting dalam diversifikasi pangan dan penguatan ekonomi keluarga.
Lebih lanjut, Dr. Puji Lestari, Ph.D., menekankan bahwa pemberdayaan perempuan merupakan bagian dari transformasi sistem pangan nasional dan sejalan dengan strategi pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) dalam pembangunan pertanian.
“Mulailah dengan langkah kecil dan terus menerus. Pertanian adalah ruang yang luas dan hangat, selalu terbuka bagi siapa saja yang bekerja dengan hati,” ujar Puji.
Melalui pemberdayaan yang berkelanjutan, perempuan menempati posisi strategis dalam agrobisnis Indonesia—mengisi rantai nilai dari produksi hingga konsumsi, memperkuat kelembagaan lokal, serta memastikan ketahanan dan kualitas pangan keluarga.
