

Suminah masygul mendengar dokter mendiagnosis kanker payudara. Perempuan 47 tahun itu bingung apa yang mesti ia lakukan. Beruntung sang suami, Warsito, bertindak cepat. Ia memperoleh informasi bahwa daun sirsak berkhasiat antikanker. Warga Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu segera memetik 7 daun sirsak, merebus dalam 3 gelas air hingga mendidih, dan memberikan kepada istrinya. Tak jauh dari halaman rumahnya, tumbuh pokok sirsak.
Ketika sang suami bekerja, Suminah merebus sendiri daun anggota famili Annonaceae itu. Ibu 3 anak itu mengonsumsi 3 gelas rebusan sirsak setiap hari. Sebulan berselang, Suminah meraba permukaan payudara dan tak menemukan benjolan. Baru pada awal Mei 2011, ia berencana memeriksaan diri. Walau begitu Suminah tetap rajin merebus daun sirsak untuk mengantisipasi si kepiting maut itu datang. Amankah dosis konsumsi daun sirsak seperti dilakukan Suminah?
Herbal lebih aman
Menurut dr Paulus Wahyudi Halim, konsumsi herbal berupa segar atau kering—bukan ekstraksi—seperti dilakukan Suminah masih aman. Dokter alumnus Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu mengungkapkan dalam herbal terdapat komposisi yang bersifat menetralisir atau sinergi. Contoh daun pulepandak Rauwolfia serpentina mengandung zat aktif rauwolfia yang berkhasiat antihipertensi. Kini terdapat senyawa rauwolfia sintetis yang lebih cespleng mengatasi hipertensi.
Namun, konsumsi rauwolfia sintetis bisa menyebabkan pingsan, bahkan kematian, karena tekanan darah anjlok. Konsumsi daun segar atau kering tanaman anggota famili Apocynaceae itu relatif aman karena di dalamnya juga terdapat antidot, yakni yohimin yang menetralisir senyawa rauwolfia. Walau begitu konsumsi daun pulepandak dalam jumlah banyak mungkin menyebabkan pusing. Pada daun sirsak juga terdapat senyawa antidot. Meski demikian, Paulus menyarankan pasien kanker sebaiknya bergegas menghubungi ahli medis atau herbalis. Bahkan, jika pasien itu dokter sekalipun.
Sebab, menurut Paulus, jika orang lain yang mengobati, maka lebih objektif. Ketika bertugas di Uganda, seorang dokter bedah yang istrinya sakit meminta Paulus untuk mengoperasi. Setelah pasien mengunjungi dokter, paramedis itu dengan tepat menentukan dosis dan herbal pendamping. Menurut Paulus dosis tak bisa berlaku umum untuk semua pasien. Artinya, antara pasien yang satu dengan yang lain dosis obat berbeda-beda alias bersifat individual. Itu karena kondisi tubuh manusia juga berlainan.
Ketika menentukan dosis, ia melihat fungsi ginjal, hati, dan empedu. Artinya dosis mesti menyesuaikan kondisi organ-organ itu. “Apa yang dia minum akan dibuang melalui ginjal,” kata Paulus yang pernah berpraktek di Ethiopia dan Uganda itu. Jika fungsi ginjal lambat, misalnya, dokter yang meresepkan daun sirsak lima tahun terakhir itu menambahkan kumiskucing, alang-alang, atau kejibeling. Ketiga herbal itu berkhasiat diuretik alias melancarkan urine.
Fungsi lever harus baik karena berperan mengolah. Itulah sebabnya tak satu pun dokter memberikan kemoterapi kepada penderita kanker darah atau leukemia yang mengidap hepatitis. “Kemoterapi oral itu mengganggu fungsi dan kerja lever sehingga orang mual dan muntah,” kata Paulus. Jika menemukan pasien seperti itu, ia menambahkan daun sukun Artocarpus communis atau rimpang temulawak.
Penderita kanker memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Buktinya sel kanker mampu menyerang karena pertahanan tubuh lemah. Oleh karena itu Paulus juga menambahkan herbal untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh seperti sambiloto Andrographis paniculata. Pada umumnya pasien kanker mudah stres karena sangat cemas akan keselamatan hidupnya. Wajar jika keluarga acap kali merahasiakan jenis penyakit kepada pasien untuk mengurangi kecemasan itu.
Kondisi itulah yang mendorong Paulus selalu meresepkan herbal secara majemuk, untuk mengatasi gangguan kesehatan lain sehingga mempercepat proses kesembuhan. Untuk mengatasi kecemasan pasien kanker, umpamanya, dokter berusia 65 tahun itu menambahkan herbal yang bersifat sedatif alias menenangkan seperti pala Myristica fragrans atau kangkung Ipomoea reptans. Singkat kata untuk mempercepat proses kesembuhan perlu penanganan menyeluruh (baca: Peran Herbal 40%, Trubus edisi April 2011).
Tergantung stadium
Herbalis di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Valentina Indrajati, juga menerapkan metode serupa. “Saya mengecek pasien dari ujung kuku sampai ujung rambut,” kata Valentina yang juga mengajar yoga di India dan Thailand itu. Valentina mendiagnosis pasien dengan getaran elektromagnetik. Dari pengecekan itulah ia menentukan dosis dan jenis herbal yang semuanya majemuk, bukan herbal tunggal.
Menurut Valentina, resep majemuk untuk memerangi kanker karena, “Herbal bukan sniper yang langsung menembak sasaran (penyakit, red). Peran herbal lebih banyak mengembalikan sel tubuh ke fungsi sel masing-masing,” kata alumnus Universitas Katolik Parahyangan itu. Valentina meresepkan daun sirsak dalam bentuk serbuk. Keruan saja dosis untuk setiap pasien berbeda-beda, berkisar antara 3—10 gram per hari. Ia menambahkan herbal pendamping yang juga berbentuk serbuk. Pasien tinggal merebus campuran serbuk herbal dalam sebuah kemasan itu sehingga praktis.
Valentina—juga Lina Mardiana, dan Paulus Wahyudi Halim—menentukan dosis daun sirsak berdasarkan stadium kanker pasien. Pasien kanker stadium awal, tentu saja dosisnya rendah dan sebaliknya (lihat ilustrasi: Pemula atau Lanjut?). Dosis 10 daun bagi penderita kanker stadium pemula itu jika konsumsi dalam bentuk daun segar. “Penggunaan daun sirsak kering jumlahnya lebih banyak, 1,5 kali dari daun sirsak segar,” kata Lina Mardiana, herbalis di Yogyakarta. Artinya 10 daun segar setara 15 lembar kering.
Dosis untuk anak-anak pengidap kanker, 5 daun sirsak yang direbus dalam satu gelas air hingga mendidih. Setelah daun layu dan air berubah warna menjadi kekuningan, hentikan perebusan. Sedangkan herbal pendamping tergantung penyakit ikutan kanker. Berdasarkan pengalaman Valentina, penyakit atau organ tertentu yang bermasalah cenderung terjadi pada pasien kanker. Ia mencontohkan, pasien kanker payudara biasanya memiliki gangguan di serviks dan uterus.
Jika menemukan gangguan pada organ tertentu akibat kanker, maka dokter dan herbalis segera menangani penyakit ikutan itu bersamaan dengan kanker. Jika pasien memiliki penyakit lain, dosis konsumsi daun sirsak tidak perlu dinaikkan. Namun, pasien dapat menambahkan herbal lain sebagai pendamping. Contoh, pasien kanker yang juga mengidap mag, maka sebaiknya menambahkan rimpang temulawak Curcuma xanthorriza; diabetes mellitus, daun salam Syzygium polyanthum. Dengan demikian semua penyakit pun tuntas. (Sardi Duryatmo/Peliput: Desi Sayyidati Rahimah)
Keterangan foto
- Serbuk daun sirsak siap rebus, dosis 3—10 g per hari
- Dosis daun sirsak bersifat individual, tiap orang berbeda–beda
- Kapsul hasil ekstraksi daun sirsak lebih praktis dikonsumsi
- Biji pala herbal pendamping untuk penenang
- Konsumsi herbal relatif aman karena mengandung komposisi yang bersifat menetralisir atau sinergi
