
Komunitas tanaman hias menyelenggarakan beragam kontes di ajang Flora Fauna.
Enam tangkai anggrek Dendrobium spectabile itu tengah memamerkan bunga. Warnanya perpaduan antara kuning dan cokelat muda amat kontras. Penampilan tanaman kerabat vanili itu juga bugar. Itulah modal anggrek koleksi Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) cabang Kabupaten Jayapura, Papua, meraih jawara saat kontes di pameran Flora Fauna, Jakarta Pusat. Menurut ketua juri, Dr Irawati, D. spectabile itu layak meraih gelar bergengsi. “Bunganya paling siap berlomba,” kata Irawati.

Lihat saja pesaingan-saingannya, seperti D. flavio-flavens, bunga di ujung tangkai belum mekar; bunga Grammatophillum, ada beberapa yang rontok sehingga tampak “ompong”. D. spectabile sukses menjadi yang terbaik di antara 130 anggrek beragam jenis. Semula anggrek-anggrek itu beradu cantik di 16 kelas berbeda. Kontes yang dihelat Perhimpunan Anggrek Indonesia itu terbagi dalam 2 kategori, spesies dan hibrida—terdiri atas beberapa seksi, beberapa anggrek yang kekerabatannya dekat diadu cantik.
Perawatan minim
Di seksi Latuoria Dendrobium spectabile meraih gelar terbaik. Para jawara di setiap seksi kemudian beradu molek di partai puncak. Di situlah anggrek berumur 36 bulan itu bertemu Dendrobium flavio-flavens dan Grammatophyllum scriptum. Ketiga juara spesies lolos ke “partai puncak” setelah tampil sebagai juara di kelas yang diikuti. Tiga juri, yakni Dr Irawati, Frankie Handoyo, dan Ramadani Yudha Prasetya sepakat mendapuk D. spectabile yang terbaik sehingga dinobatkan sebagai the best in show.

Keberhasilan si keriting menjadi yang terbaik membuat tim PAI Jayapura, amat bangga. Menurut Wakil Ketua PAI, Corry Purseponi, keikutsertaan mereka di lomba anggrek pun baru pertama kali dan langsung menang.
Dua pekan kemudian, giliran pencinta adenium yang menyelenggarakan adu indah tanaman gurun. Sebanyak 146 adenium bertanding di 16 kelas. Thai soco koleksi Indra meraih gelar best of the best di kelas utama. Adenium itu meraih nilai tertinggi, 321,33 mengungguli juara di 15 kelas lain seperti rachine pandok yang meraih nilai 317,67 dan arabicum besar (312,33).
Menurut juri dari Malang, Jawa Timur, Agustinus Agus Setia Rinta, adenium thai soco itu sangat matang penampilannya. Batang kekar, percabangan dan ranting sudah jadi. Memang belum sempurna, tetapi sudah sangat baik. “Kalau pun ada kelemahan, itu karena masih ada akar kecil. Namun, akar kecil itu tetap dibutuhkan untuk mempercepat pembentukan batang dan cabang,” kata Agus.

Pemula berprestasi
Untuk mencapai penampilan optimal itu thai soco butuh waktu pembentukan lebih 5 tahun, bahkan 10 tahun. Yang menambah keindahannya ialah warna batang keemasan sehingga amat menarik. Daya tarik lainnya ialah bonggol besar sehingga terlihat kokoh dengan alur dasar yang benar. Peserta lain yang tampil memukau ialah arabicum pemula. Adenium koleksi Vie Vie itu menakjubkan sosoknya.
Meski bertanding di kelas pemula, penampilannya tidak kalah menarik dibandingkan juara-juara yang bertanding di kelas utama. Bahkan raihan nilainya pun 321,00, terpaut tipis dengan thai soco yang meraih the best di kategori utama.
Kontes lain juga berlangsung pada pekan ketiga Flona 2015. Maniak anthurium menggelar kontes diikuti lebih dari 140 tanaman. Tanaman anggota famili Araceae itu beradu molek di kelas pemula, prospek, madya, utama, kobra katalog, mix nonvariegata, mix variegata, junior variegata, dan senior variegata. Anthurium koleksi Cobra Bandung tampil segar dan daun bulat utuh. Urat-uratnya sedikit, tetapi tulangnya tegas. Daunnya licin tanda perawatan maksimal. Dengan penampilannya itu, para juri menobatkan anthurium itu sebagai juara di kelas madya.

Pemenang lain yang juga menarik perhatian yaitu jenmani variegata koleksi Tan Bing Kiat. Persentase variegatanya cukup menonjol, lebih dari 40%. Keberadaan variegata itu stabil pada semua daun. Selain corak indah, kesehatan tanaman pun sangat baik. Meski variegata, tidak satu pun daun rusak terbakar. Pada lomba itu, anthurium koleksi Dwi Bintarto meraih 5 gelar juara. Ia meraih piala bergilir dari Kepada Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta.
Lidah mertua terindah
Pada saat bersamaan 150 sansevieria mengikuti kontes sansevieria. Mereka datang dari berbagai kota, seperti Kediri, Madiun, dan Surabaya—Provinsi Jawa Timur, Klaten dan Wonosobo (Jawa tengah), Bogor dan Bekasi (Jawa Barat), serta Yogyakarta. Yang menarik banyak perhatian juri dan penonton ialah hibrida baru bersosok mini alami di kelas mini. Meski belum juara, koleksi Didi itu menyedot perhatian karena tanpa dibuat mini pun, sosoknya kecil.

Selain itu di kelas variegata aurea muncul juara berpenampilan paling ngejreng. Warnanya kuning cerah, dengan hanya garis tipis warna hijau di pinggir daun untuk berfotosintesis. Meski minim zat hijau daun, koleksi Oma Lien Said, tetap tumbuh normal dan indah. Wajar bila juri yang terdiri atas Sapto Nugroho (Surabaya), Taufiq Hidayat (Tangerang), Sentot Pramono, dan Arisanto Eko (Jakarta), menobatkan sansevieria itu sebagai juara satu di kelas variegata aurea.
Komunitas pehobi kaktus dan sukulen tanahair Cactus and Succulent Society of Indonesia (CSSI) juga menggelar ekshibisi di Lapangan Banteng pada 3—4 Oktober 2015. Beragam tanaman anggota keluarga kaktus seperti ariocarpus, astrophytum, lophophora, dan ariocarpus hadir di sana. Ada pula tanaman sukulen seperti caudiciform dan euphorbia, serta sukulen daun seperti agave, haworthia, dan gasteria.

Adenia globosa milik Budiman Silalahi dari Jakarta Selatan tampil sebagai best in show. Tanaman berdiameter 15 cm itu memang sangat menarik. Bonggolnya membulat berwana hijau dengan permukaan kasar. Cabang di bagian atas bonggol berjumlah puluhan, berduri, dan memanjang seperti tentakel. Para juri terdiri atas Eko Wahyudi, Hendick Purwanto, dan Muhammad Habib Widyawan sepakat menabalkan tanaman asal Somalia itu sebagai yang terbaik. (Syah Angkasa/Peliput: Andari Titisari)

