Pehobi kian menggemari petunia lantaran cantik dan mudah dirawat.

Petunia tengah naik daun di kalangan petani bunga di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kotamadya Batu, Jawa Timur. Sebelumnya petani hanya bisa menjual rata-rata 10 pot petunia setiap pekan. Kini, mereka mampu menjual hingga 100—150 pot. Harga tanaman bervariasi sesuai dengan ukuran pot. Untuk pot berdiameter 7 cm, petani membanderol Rp8.000. Adapun pot berdiameter 9 cm, mereka memberi harga Rp12.500. Dari perniagaan selama sepekan itu petani memperoleh pendapatan hingga Rp1,2-juta setiap pekan.
Petani menjual petunia langsung ke pedagang maupun konsumen akhir. Mayoritas konsumen adalah masyarakat atau pehobi bunga. Mereka terpesona pada kecantikan warna-warni petunia yang sangat beragam. Mereka membeli petunia sebagai cenderamata maupun dirawat sendiri. Biasanya mereka menanam kerabat terung itu di pot mini lalu menggantungnya di teras atau balkon rumah. Cabang yang menjuntai dan sarat bunga menampilkan pemandangan yang begitu cantik.
Bandel

Ada pula pehobi yang meletakkan petunia sebagai penghias pergola. Dengan begitu tiang-tiang pergola yang semula kaku menjadi sedap dipandang. Tanaman asal Amerika selatan itu memiliki corak bunga sangat banyak. Kembang-kembang nan cantik itu muncul dari ujung cabang. Ada yang berwarna tunggal dalam satu mahkota seperti ungu, putih, dan merah. Ada pula yang berwarna majemuk seperti ungu bertotol putih, merah bergaris putih, dan merah muda bertepi putih. Petunia merah putih tampak semerak seperti warna bendera nasional Indonesia.
Warna bunga yang seronok itu memang berhasil menciptakan keindahan tersendiri. Itu sebabnya banyak masyarakat yang jatuh hati. Apalagi petunia tergolong bandel. Mereka tidak butuh perawatan istimewa agar tumbuh sempurna. Cukup penyiraman dan pemupukan berkala. Soal media tanam pun gampang. Sebab tanaman anggota keluarga Solanaceae itu cocok dengan segala media tanam asal porous. Biasanya pehobi menggunakan campuran tanah dan sekam. Ada pula pehobi yang memadukan serbuk sabut kelapa dan arang sekam.

Petunia menyukai lingkungan berhawa sejuk dan bersinar matahari banyak. Mereka hidup sentosa di dataran tinggi dengan ketinggian 800 m di atas permukaan laut (m dpl). Suhu ideal bagi petunia 16—20°C. Bila syarat tumbuhnya itu terpenuhi maka bunga-bunga petunia akan muncul serempak. Namun, bagi pehobi yang tinggal di dataran rendah tak perlu risau. Petunia masih hidup layak, tetapi ukuran bunga akan mengecil. Selain itu, kecerahan bunga cenderung berkurang.
Di negara empat musim petunia berbunga menjelang musim panas. Masa berbunga tanaman berlangsung selama 2 bulan. Biasanya pehobi memotong ujung tangkai agar tanaman banjir bunga. Sayangnya, petunia hanya berbunga sekali sepanjang hidupnya. Karena itu pehobi harus mengganti dengan tanaman baru. Apabila enggan membeli tanaman baru pehobi dapat menyemai biji dari bunga yang telah rontok.

Secara umum petunia terbagi menjadi 3 kelompok berdasarkan jenis bunga yakni grandiflora, multiflora, dan miliflora. Kelompok grandiflora memiliki bunga paling besar. Sebagian bunga berkelopak tunggal, tetapi ada pula yang berkelopak ganda. Sementara kelompok multiflora memiliki bunga berukuran sedang dan paling bandel terhadap cuaca ekstrem. Bunga multiflora bermahkota tebal dan berwarna-warni. Adapun kelompok miliflora mempunyai bunga berukuran lebih kecil.
Percabangan petunia sangat banyak, tetapi lemah. Itu sebabnya, petunia sangat cocok diletakkan di pot gantung. Panjang cabang bisa mencapai 40 cm. Dari cabang-cabang itu muncul dedaunan dengan posisi saling berhadapan. Daun berwarna hijau itu memiliki panjang sekitar 5—10 cm dan lebar 4—6 cm. Bila diamati lebih dekat tampak bulu-bulu sangat halus menutupi permukaan cabang dan daun.
Persilangan

Jika bosan dengan corak bunga yang sudah ada. Pehobi dapat melakukan persilangan sendiri dengan teknologi sederhana. Ambil saja dua bunga petunia yang sedang mekar sesuai selera. Misalnya, petunia berbunga merah disilangkan dengan petunia bunga putih. Gunakan cotton bud untuk mengambil serbuk sari bunga lalu tempelkan pada kepala putik. Selang 1,5 bulan bunga yang terserbuki akan layu. Saat itu muncul pentil berisi calon benih. Tunggu hingga pentil mengering lalu pecah secara alami sehingga benih pun keluar.
Semai benih pada media tanam berupa kompos, serbuk sabut kelapa, dan sekam bakar. Sepekan kemudian bibit berisi 2—3 daun pun mulai tampak. Segera pindahkan bibit pada media tanam berupa tanah lempung hingga jumlah daun bertambah menjadi 4—5 lembar. Selanjutnya, tanam bibit pada pot tunggal berisi media tanam campuran serbuk sabut kelapa, kompos, dan sekam bakar.

Lakukan pemupukan menggunakan pupuk NPK seimbang Berikan dalam bentuk butiran dan cair. Untuk pupuk berupa butiran tabur setiap bulan. Adapun pupuk cair semprotkan setiap 2 pekan. Lakukan pula penyiraman rutin setiap hari agar tanaman segar. Terakhir saat tanaman berumur 3 bulan lakukan seleksi bunga. Pilih motif bunga yang diinginkan lalu pindahkan pada pot gantung. Petunia idaman pun siap dinikmati keindahannya. (Ir Emy Budiyati, peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia)
