Ekshibisi Bonsai
Bonsai-bonsai kelas dunia beradu elok di Chang Hwa, Taiwan.

Bonsai-bonsai elok itu berkumpul di sebuah aula besar untuk beradu keindahan di Kota Chang Hua (500 km di sebelah selatan Taipe, 2,5 jam perjalanan dengan kereta) Taiwan, pada November 2016. Jumlah peserta lebih dari 500 tanaman. Panitia mengadu bonsai berdasarkan jenis. Misal bonsai berbuah beradu dengan bonsai berbuah, bonsai berbunga dengan yang berbunga. Tamu-tamu lebih dari 35 negara seperti Malaysia, Filipina, Vietnam, Australia, Korea, dan bahkan negara-negara di Eropa timur menghadiri pameran itu.

Membeludaknya peserta membuat area pameran berlangsung di beberapa tempat yang terpisah. Pada salah satu area acara berbentuk sebuah kebun tamanan yang sangat luas, ratusan bonsai dipamerkan di alam terbuka dari berbagai macam jenis. Salah satu peserta, bonsai beringin kimeng Ficus microcarpa menjadi maskot pameran. Bonsai raksasa anggota famili Moraceae itu menarik minat pengunjung sehingga banyak yang mengabadikannya dengan berfoto di depannya.
Persaingan ketat
Di area pameran dalam ruangan itu berlangsung di sebuah gedung berukuran luas, pemandangannya tidak kalah menarik. Panitia menata ratusan bonsai dengan latar yang amat rapi. Artis-artis Taiwan terkemuka menjuri pameran bergengsi itu. Ratusan bonsai yang rata-rata berukuran besar bersaing untuk menjadi yang terbaik. Keragaman jenis pohon amat tinggi, baik berdaun jarum maupun berdaun lebar dengan aneka gaya yang menarik.
Itulah sebabnya juri relatif sulit memilih yang terbaik. Pada akhir acara kontes, terpilih bonsai terbaik yaitu Juniperus chinensis varietas sargentii dan memperoleh penghargaan Hwa Ping. Sang juara sebuah pohon yang bahannya berasal dari Jepang. Di samping itu juga terpilih sebuah bonsai hibiscus yang nyaris sempurna sebagai salah satu bonsai terbaik. Sebuah Juniperus chinensis asli Taiwan juga terpilih sebagai bonsai terbaik.

Sosok Juniperus chinensis amat menarik. Pebonsai menerapkan teknik pembentukan tanaman jin dan shari. Sebuah bonsai pinus moyogi miring dengan cabang pertama yang bengkok ke bawah terpilih pula sebagai salah satu bonsai terbaik. Sebagai kelengkapannya, bonsai-bonsai shohin atau kecil yang tertata rapi dalam sebuah rak terdiri atas berbagai jenis, terpilih sebagai salah satu yang terbaik.
Bonsai bonsai kecil memang umumnya tidak dipamerkan secara individu. Pebonsai memamerkannya dalam sebuah rak yang terisi beberapa bonsai. Keindahan bonsai kecil secara individu dan kekompakan dalam pengaturan menjadi faktor utama dalam pemilihan sebagai bonsai mini terbaik. Berbagai keindahan selama gelaran berlangsung, membuat Hwa Fong menjadi salah satu acara yang selalu ditunggu pecinta bonsai seluruh dunia.
Sumber inspirasi
Panitia ekshibisi juga memberi kesempatan kepada pelaku bisnis untuk menjual peralatan pertanian dan bakalan bonsai. Lantaran iklimnya tropis, maka banyak tanaman-tanaman yang dijual cocok untuk ditanam di wilayah 2 musim. Wakil dari negara-negara kawasan Asia tenggara, termasuk Indonesia tidak melewatkan kesempatan itu dengan memborong tanaman bakal bonsai. Taiwan memiliki teknik dan kematangan bonsai yang sangat tinggi.

Oleh karena itu teknik mereka sering menjadi tolok ukur pebonsai Indonesia dalam membuat bonsai. Pencinta bonsai Indonesia pun sering menjadikan bonsai asal Taiwan sebagai sumber inspirasi dalam berkreasi. Dahulu hanya beringin kimeng ciri khas Taiwan. Sekarang Taiwan jauh lebih maju dengan berbagai macam tanaman. Contohnya, hibiscus, premna, bugenvil, podocarpus, sianto, santigi, pinus, dan cemara chinensis.
Taiwan mengembangkan tanaman-tanaman itu dengan berbagai variasi yang elok. Dalam membentuk juniper, misalnya, Taiwan sangat maju. Mereka meniru efek angin topan yang menerpa pohon cemara. Mereka membuat pohon cemara patah, kulit terkelupas dan tetap tumbuh dengan memanfaatkan sisa kulit yang terbatas. Proses pohon terkena angin topan itu mereka terapkan pada pohon-pohon cemara yang sengaja ditanam sebagai bahan bonsai.

Rata rata pebonsai Taiwan membuat karya dari bahan budidaya secara besar besaran sehingga menghasilkan bahan ideal. Bahan bonsai itu mempunyai perakaran, batang, dan cabang yang sudah “jadi” sehingga siap dibentuk menjadi bonsai ideal. Kini Chang Hua menjadi daerah industri bonsai di Taiwan. Bagi pehobi Taiwan salah satu kiblat membentuk bonsai. Di sana beragam festival dan kontes bonsai kerap berlangsung.
Salah satu yang paling terkenal ialah Hwa Fong atau Hua Fong. Ekshibisi amat bergengsi itu menjadi ajang mengumpulkan dan mempertemukan koleksi bonsai pilihan dari seluruh wilayah Taiwan. Persatuan Pecinta Bonsai Indonesia (PPBI) selalu mendapat undangan untuk berpartisipasi pada gelaran itu. Lokasi pameran di daerah Chang Hua, Taiwan bagian selatan yang beriklim tropis, mirip iklim Indonesia. Oleh karena itu tidak perlu perawatan ekstra untuk adaptasi lingkungan. (Budi Sulistyo, pengurus Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia dan Bonsai Club International)
