Thursday, January 29, 2026

Amarilis Berkelir Anyar

Rekomendasi
- Advertisement -

Sepuluh amarilis anyar dari Taiwan.

Amarilis double king, mahkota berdiameter hingga 15 cm. (Dok. Dian Widiasih)

Trubus — Amarilis baru itu bernama easy dance. Sosok bunga bermula dari helaian daun panjang dan berwarna hijau. Semakin lama, warna hijau itu berubah menjadi kuning pekat seolah disemprot cat hitam di bagian dalam mahkota bunga. Warna hitam itulah yang membedakan easy dance dengan amarilis lain. Proses munculnya bunga hingga mekar sempurna membutuhkan 20—25 hari.

Lazimnya sejak kuncup hingga berbunga perlu 15 hari. Setelah mekar sempurna bunga mampu bertahan hingga 10 hari. Pemilik easy dance, Yenny Mirza, sangat berbahagia memiliki amarilis itu. Kesabarannya menunggu berbunga terbayar dengan lamanya ia menikmati kesegaran amarilis unik itu. “Sebab, amarilis lain hanya tahan 4—5 hari,” ujar pehobi di Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat, itu.

Mimpi ganda

Amarilis samba, bersosok kerdil, bunga berwarna putih dengan percikan merah di dalam mahkota. Kelopak bunga berbentuk bulat seperti adenium. (Dok. Dian Widiasih)

Yenny Mirza mendapatkan koleksinya saat berkunjung ke Taiwan pada Oktober 2016. Di sana ia mengunjungi sebuah nurseri tanaman hias. Yenny tertarik dengan amarilis yang terletak di sudut kebun. Menurut ibu dari 1 anak itu bunga asal Afrika Selatan itu jarang ditemui di Indonesia. Tanpa berpikir panjang, ia memboyong tanaman kerabat lili itu dengan harga Rp500.000 per umbi.

Tidak hanya easy dance, perempuan berusia 25 tahun itu juga mengoleksi double dream. Warna merah jambu dengan semburat putih pada mahkota membuat si mimpi ganda itu tampak atraktif. Bukan hanya atraktif, amarilis anyar itu juga berpetal tumpuk tiga sehingga mirip bunga mawar. Itulah sebabnya memandangi amarilis lembut lembut itu tiada pernah bosan.

“Warna pink bertahan hingga 7 hari,” ujar Yenny. Bunga asal Eropa itu tangkainya mencapai 100 cm. Pada umumnya panjang tangkai amarlis lain hanya 60—80 cm. Keindahan amarilis juga menarik minat Dian Widiasih. Pada awal Maret 2017, ia mendatangkan sosok istimewa lain di tanahair, amarilis double king dan samba. Amarilis double king berwarna merah solid. Sekilas serupa dengan amarilis lokal.

Sosok amarilis lady jane, salah satu koleksi Dian Widiasih yang dibeli dari Taiwan Rp300.000 per umbi. (Dok. Dian Widiasih)

Namun, jika diperhatikan terdapat corak putih pada ujung mahkota. Amarilis double king memiliki empat tumpuk mahkota. Bunga juga mampu tahan hingga 7 hari. Mahkota bunga berdiameter 13—15 cm. Adapun amarilis samba bersosok kerdil, daunnya lancip, bunga berwarna putih, dan percikan merah di dalam mahkota. Uniknya bentuk mahkota mirip adenium, yakni membulat.

Samba memiliki 8 kuntum bunga yang mekar bergantian. Bunga-bunga itu datang dari Taiwan. Pehobi di Kecamatan Sukajadi, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, itu memboyong 10 jenis amarilis baru dari Taiwan. Amaryllis (dari bahasa Yunani, amarysso berarti berkilau) baru varian lain juga sangat unik. Ada yang memiliki empat tumpuk mahkota, yakni amarilis exotic peacock alias merak eksotis.

Bunga exotic peacock berwarna merah dengan kelir dan semburat putih dari bagian tepi mahkota. Kelopak bunga tanaman kerabat krinum Crinum asiaticum itu oval dan tumbuh saling tindih. Sepintas bunga amarlis pendatang baru itu bak kincir angin yang sedang berputar. Kelebihan lain warna merah dan putih akan terus bertahan hingga bunga layu, tidak luntur. Bunga exotic peacock mampu bertahan hingga 1,5—2 bulan.

Lebih bermotif

Koleksi lain Dian bernama lady jane. Sosok bunga besar berdiameter mencapai 15—17 cm. Itu hampir seukuran piring makan. Warna merah muda terang berpadu dengan putih serasi menghias mahkota tumpuk tiga. Garis merah membatasi tepi bunga. Petal tegak dan kokoh dengan warna selongsong bunga jingga. Lima jenis amarilis lainnya yaitu ice queen, estella, minerwa, nymph, dan prety nymph.

Amarilis exotic peacock, memiliki
mahkota tumpuk empat. (Dok. Dian Widiasih)

Dengan penampilan yang istimewa itu pantas bila Dian rela memboyong 10 jenis umbi amarilis petal tumpuk dari sebuah nurseri di Taiwan. Padahal, harga umbi tanaman anggota famili Amaryllidacecae itu relatif mahal. Pemilik nurseri di sana membanderol harga Rp300.000 per umbi. Taiwan kini tengah menunjukkan taringnya sebagai pencipta varietas baru. Itu membuat Thailand sedikit “gerah”.

Maklum, selama ini negara Gajah Putih itu menjadi kiblat tanaman hias. Menurut pemulia lili di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) di Cianjur, Provinsi Jawa Barat, Dr. Ir. Liauw Lia Sanjaya, amarilis tahan lama itu menggambarkan kandungan giberelin dan sitokinin sangat tinggi. “Itu diawali dengan tetap terbentuknya daun walaupun proses pembungaan sudah terjadi,” ujar Lia.

Amarilis nymph berwarna putih bersih
dengan coretan merah di dalam mahkota. (Dok. Dian Widiasih)

Menurut Lia dampak kadar giberelin yang tinggi itu mahkota berawal seperti daun, tapi kemudian giberelin mendominasi sehingga kumpulan mahkota berbentuk daun itu berubah membentuk bunga. Sementara masa berbunga amarilis yang lama karena kandungan giberelin dan sitokinin yang sangat tinggi. “Hal itu menghalangi dampak negatif dari hormon auksin dan zat penghambat seperti asam absisat,” ujar peneliti di Balithi.

Asam absisat memicu rontoknya daun atau bunga pada tanaman. Meski amarilis berasal dari daerah tropis, tetapi untuk membungakan cukup sulit. Tanaman itu akan menghasilkan bunga bagus bila ditanam di tempat bersuhu ideal 20—25°C. Bila ingin menikmati bunga secara terus-menerus, pehobi dapat mengatur waktu tanam umbi. Misalnya dengan interval setiap 2 pekan. Dengan demikian, sebelum satu selesai berbunga, tanaman lain sudah mengeluarkan tangkai bunga. (Tiffani Dias Anggareni)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img