
Keelokan Astrophytum asterias membuat pehobi jatuh hati.
Keelokan kaktus Astrophytum asterias cv kishin koleksi Andre Atmadja tersirat pada namanya. Tanaman asal Texas, Amerika Serikat itu, meminjam nama dari bahasa Yunani, astro berarti bintang, phytum berarti tanaman. Begitu pula nama spesies, asterias juga bermakna bintang. Astrophytum asterias berparas cantik menjadi bintang di antara kaktus. Tubuh kaktus berdiameter 6 cm itu berselimut warna putih kekuningan.
Makin mendekati ujung tanaman, warnanya berubah hijau. Yang menarik, di bagian ujung tanaman berwarna hijau itu terdapat bintik-bintik putih. Oleh karena itu, kishin tampak sangat elok jika dilihat dari atas. Kesan eksotis pun makin terpancar lantaran terdapat kerutan di setiap punggung ribs atau lekukan. “Penampilan kishin unik dan sangat langka,” kata Andre, pehobi kaktus di Kota Surabaya, Jawa Timur.
Harga Rp10 juta

Menurut pehobi kaktus senior di Surabaya, Sugita Wijaya, asterias kishin jenis asterias yang paling langka. Sejatinya tubuh kishin berwarna semburat merah muda. Namun, perbedaan kelembapan dan paparan sinar ultraviolet mempengaruhi perubahan warna. “Kelembapan udara yang tinggi serta sinar ultraviolet yang melimpah di tanah air membuat warna merah muda kishin memudar,” kata Sugita.
Akibatnya warna merah muda si kaktus bintang itu berubah menjadi kehijauan. Peyote—nama lain Astrophytum asterias—koleksi Andre berumur 7 tahun. Dengan berbagai keistimewaan itu pantas bila Andre menebus kaktus itu hingga Rp10 juta pada pertengahan 2017. Ia juga mengoleksi kaktus abnormal lain yang berpenampilan tak kalah unik, yakni A. asterias variegata. Kaktus itu unik lantaran berkepala lima.
Tiga kepala di antaranya berwarna cokelat kemerahan. Adapun dua kepala yang lain masing-masing memiliki 3 kombinasi warna yakni jingga, kuning, dan hijau. Setiap kepala berbentuk membulat dengan diameter 3 cm. Tujuh lekukan atau ribs terdapat di setiap kepala. Tampilan kaktus berumur 3 tahun itu makin aduhai dengan adanya bulu halus berwarna putih yang terdapat di setiap punggung lekukan.

Asterias unik lain koleksi Andre adalah A. asterias cv superkabuto hanazono. Kaktus berselimut totol-totol putih itu memiliki enam kepala. Setiap kepala tersusun rapi membentuk klaster. Lima kepala berada di bagian bawah menghadap ke arah berbeda. Sementara itu satu kepala berada di bagian tengah menghadap ke atas. Setiap kepala berdiameter 10 cm.
Andre memperoleh tanaman berumur 25 tahun itu dari seorang kolektor di Jepang pada awal 2017. Pria berkacamata itu juga mengoleksi asterias lain yang membentuk klaster, seperti A. asterias cv kikko, A. asterias cv ruri kabuto, dan A. asterias variegata. Asterias kikko milik Andre sangat istimewa. Lekukan atau ribs tubuhnya mengalami mutasi membentuk lipatan tak beraturan. Bulu berwarna putih keabuan tampak menghiasi tubuh kaktus berumur 4 tahun itu di beberapa titik.
Tanaman membentuk klaster dengan diameter masing-masing kepala sekitar 3 cm. Sosok asterias ruri kabuto juga tak kalah cantik. Tubuh kaktus berbentuk membulat itu berselimut warna hijau. Bulu-bulu putih kecokelatan tersusun rapi di setiap punggung lekukan. Kaktus berumur 5 tahun itu memiliki 5 kepala yang tersusun menggerombol. Setiap kepala berdiameter berbeda. Ada kepala yang berdiameter 7 cm, 5 cm, dan 3 cm.

Budidaya
Data dari United States Fish and Wildlife Service yang bermarkas di Washington, Amerika Serikat, menyebutkan asterias masuk dalam daftar tanaman yang terancam punah karena langka. Sementara International Union for Conservation of Nature’s Red List mencatat asterias sebagai spesies vulnerable alias rentan musnah. Adapun Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), menggolongkan asterias pada kategori apendiks 1. Artinya, pencabutan dan perdagangan asterias dari habitatnya dilarang.

Asterias hanya dapat dijumpai di kawasan dataran rendah Rio Grande Valley di Texas, Amerika Serikat, juga negara bagian Nuevo Leon dan Tamaulipas di Meksiko. Di habitat asalnya populasi asterias tersisa 2.000 tanaman pada kawasan seluas 80,9 hektare di Texas. Pemerintah setempat menjaga wilayah itu karena keberadaan asterias di alam kian terancam.

Sejumlah lembaga konservasi dunia bahkan mencatat asterias sebagai spesies kaktus yang harus dilindungi. Di habitat aslinya asterias biasanya berbentuk tubuh menyerupai bola, tapi cenderung pipih alias discoid. Tanaman anggota famili Cactaceae itu juga tak berduri. Tinggi tanaman sekitar 2,5—6 cm dengan diameter 5—15 cm. Tubuhnya terbagi atas 7—10 rib atau segmen. Di bagian tengah ribs terdapat tonjolan berbulu atau areola.
Beruntung para kolektor dan pehobi kaktus melakukan upaya budidaya untuk melestarikan asterias. Para pemulia kaktus kerap menyilangkan beragam jenis asterias untuk memperoleh varietas baru yang memiliki corak dan bentuk menarik. Pehobi di Jepang paling getol melakukan percobaan untuk menghasilkan asterias-asterias cantik itu. Kini beberapa karya para penyilang asterias asal Negeri Matahari Terbit itu hidup sejahtera di tangan para pehobi di tanah air. (Andari Titisari)
