Hasil panen padi gogo meningkat hingga tiga kali lipat setelah menggunakan varietas unggul dan perawatan intensif.
Trubus — Sugeng Tri Mulyono semringah berhasil memanen 4,5 ton gabah kering panen (GKP) per hektare di lahan kritis bekas perkebunan karet. Hasil panen sebelumnya hanya 1,4—1,5 ton per ha di lahan sama. Artinya, hasil panen meningkat hingga 300%. Waktu panen pun lebih singkat sekitar 110 hari setelah tanam (hst). Sebelumnya masa budidaya padi gogo lokal 6—7 bulan. Sugeng dan 24 petani lain di Kecamatan Bintangara, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, sukses mendongkrak hasil panen setelah membudidayakan padi gogo varietas inpago LIPI Go1 dan inpago LIPI Go2.
Kedua varietas itu hasil kreasi Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sugeng dan rekan menanam Go1 di lahan 22 hektare dan Go2 di lahan 3 hektare. Menurut Dr. Enung Sri Mulyaningsih, M.Si.—peneliti inpago LIPI Go1 dan inpago LIPI Go2—kedua padi itu memang dirancang agar tahan kering dan adaptif di lahan berkadar aluminium tinggi, serta tanah asam dengan pH 3,2.

Unggul
Keunggulan lain padi yang rilis pada 2012 itu berumur genjah, yakni siap panen pada umur 100—113 hst. Namun, Sugeng sempat resah saat walang sangit, penggerek batang, dan hawar bakteri menyerang kedua varietas padi pada 30 hari pascatanam. Namun, berkat perawatan intensif kedua varietas padi itu selamat dari amukan hama dan penyakit. Hanya 3% dari populasi yang mati akibat serangan penggerek batang. Enung menuturkan sebetulnya potensi produksi padi varietas Go1 mencapai 8,18 ton per ha dan Go2 8,15 ton per ha.
Padi Go1 dan Go2 semula dirancang agar tahan di lahan kritis. Produksi kedua padi itu tentu saja lebih baik di lahan optimal. Penyuluh pertanian muda dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bintangara, Irwan Sanjaya, S.P., mengatakan hasil panen kedua padi dari LIPI itu 5,6—6,1 ton per ha di lahan optimal. Hasil panen itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hasil panen padi gogo lokal seperti lampung gajah, si buyung, dan maya yang rata-rata hanya mencapai 4 ton per ha di lahan sama.
Menurut Enung, selain pemilihan varietas padi yang tepat, budidaya intensif dengan menggunakan beragam produk inovasi dari LIPI turut andil mendongkrak hasil panen. “Produk yang kami pakai yaitu kompos, pupuk organik hayati, dan biopestisida,” kata Enung. Sugeng dan rekan mengandalkan kompos yang terbuat dari kotoran sapi dan starter bakteri untuk mengembalikan kesuburan tanah. Irwan mengatakan karet tergolong tanaman yang rakus hara sehingga hara yang tersisa sangat minim. Lapisan top soil atau lapisan tanah teratas yang kaya hara di lahan itu hanya 10 cm. “Di bawahnya pasir kerikil. Boleh dibilang lahan itu miskin hara,” tutur Irwan.
Terpadu
Oleh karena itu sebelum penanaman, Sugeng dan rekan berupaya mengembalikan kesuburan tanah. Sugeng meramu kompos dengan mencampurkan 1 kg bakteri starter dengan 500 kg pupuk kandang. Ia juga mencampur bubuk biomassa mikroalga ke dalam kompos agar tanah kembali subur. Menurut pengamatan Sugeng pemberian mikroalga membuat padi lebih hijau dan hanya sedikit gulma yang tumbuh. Sambil menyiapkan lahan, Enung dan rekan merendam benih Go1 dan Go2 ke dalam larutan berisi bakteri unggul penambat nitrogen (BioPlus) selama 24 jam lalu ditiriskan.

Takarannya 500 ml BioPlus untuk 15 kg benih. Setelah itu mereka merendam benih ke dalam Bio Vam, larutan biomassa yang mengandung fungi mikoriza arbuskular (FMA) penyerap fosfat selama 15—30 menit. Sebanyak 40 kg benih direndam dalam 15 ml Bio Vam. Setelah ditiriskan, benih siap ditanam. Agar produktivitas padi terjaga rekan Enung memakai pupuk organik hayati (POH) cair.
Pupuk itu mengandung beragam mikroorganisme unggul sebagai pemulih kesuburan tanah dan memperkuat daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit dan hama. “Bahan yang diperlukan sangat ekonomis dan tersedia di alam. Hanya starter yang tetap dipasok LIPI,” kata Irwan. Bahan pembuat POH yakni tauge, gula merah, tetes tebu, bekatul, pakan ikan atau tepung ikan, telur, tepung jagung, agar-agar, air kelapa, air mineral, dan batuan fosfat.

Sugeng dan rekan juga memberikan NPK dengan dosis 30% dari total larutan. Menurut Irwan kondisi tanah yang kepalang kritis memerlukan asupan unsur-unsur kimia supaya nutrisi dalam tanah kembali terbentuk. Selanjutnya Sugeng juga menyemprotkan POH tiga kali selama dua bulan setelah 10 hari pascatanam. Dosis POH yang digunakan yaitu 250 cc untuk 15 liter air. Ia kembali memberikan NPK saat tanaman berumur 15 hari.
Untuk mengatasi hama, Sugeng menggunakan pestisida nabati bikinan LIPI. Ia menyemprotkan biopestisida setiap 2 pekan hingga menjelang panen. Dosisnya 500 cc biopestisida dicampur 15 liter air. Ia juga menebarkan buah mengkudu untuk mengusir tikus. Berkat benih unggul dan perawatan tepat Sugeng dan rekan meraup hasil panen berlipat-lipat. (Tamara Yunike)
