Bakteri endofit dari tanaman brotowali mengendalikan penyakit karat daun kedelai.
Trubus — Musim yang ditunggu-tunggu Phakopsora pachyrhizi telah tiba. Makhluk tak kasat mata itu menanti kemarau untuk menyebarkan spora lewat udara. Suhu 26°C dan kelembapan 90% kondisi paling pas bagi cendawan anggota famili Phakosoraceae itu untuk berbiak. Celakanya spora yang tersebar menyebabkan penyakit karat pada kedelai. Penyakit itu momok bagi para petani kedelai.

Pasalnya penyakit itu menyerang daun tanaman, artinya sekali terserang tanaman tidak mampu berfotosintesis. “Pengendalian kimia sintetis secara terus-menerus dapat menjadi bumerang bagi kita di kemudian hari,” kata periset di Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Abdul Munif, M.Sc.Agr. Petani kedelai kini memiliki pilihan lain untuk mengendalikan serangan karat daun.
Bakteri endofit
Desy Eka Putri, Wahyuning Dwi Novitasari, dan Lisa Bela Fitriani dari Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor (IPB) memanfaatkan bakteri endofit untuk mengendalikan karat kedelai. Bakteri endofit berasal dari tanaman brotowali Tinospora crispa. Dari perakaran tanaman brotowali, Desy dan timnya berhasil mendapatkan tiga spesies bakteri yang menjadi suplemen bagi Glycine max agar terhindar dari serangan karat daun.

Bakteri itu berasal dari kelompok gram positif dan genusnya Bacillus dan berperan sebagai biokontrol. “Jadi, sebagai pengendalian dari dalam,” kata Munif yang membimbing para mahasiswa. Bakteri endofit sejatinya juga berperan dalam pertumbuhan tanaman dan menjaga tanaman dari stres lingkungan. Desy memberi campuran air kelapa, sukrosa, dan minyak kelapa sawit dengan perbandingan tertentu.
Mereka memilih bahan-bahan itu karena mudah mendapatkannya. Sukrosa dapat digantikan dengan gula pasir, minyak kelapa sawit lazim untuk menggoreng makanan. Para periset mengaplikasikan formulasi itu dengan tiga cara yaitu perendaman benih, penyemprotan, dan injeksi di area perakaran. “Perendaman benih kedelai hanya 15—30 detik karena benih kedelai mudah rusak,” kata Munif.
Adapun penyemprotan membutuhkan 250 ml formulasi untuk 25 tanaman. Tujuannya untuk menghambat perkecambahan spora di udara. Sementara itu aplikasi injeksi atau pengocoran cukup 10 ml per tanaman. Harapannya bakteri endofit dapat masuk ke dalam jaringan tanaman dan memberikan perlindungan dari dalam. Pemberian formulasi bakteri endofit memberikan hasil yang baik.
Pertumbuhan tanaman lebih baik baik secara fisiologis maupun produktivitas. Persentase produksi kedelai meningkat menjadi 80% dibandingkan dengan kedelai tanpa bakteri endofit. Pada umur yang sama, tinggi tanaman selisih hingga 10 cm. Daun tanaman pun lebih rimbun. Pertumbuhan tanaman yang lebih baik, artinya perlawanan terhadap penyakit karat pun meningkat.
Penyebaran spora
Desy dan rekan tidak menemukan gejala bercak yang menyerupai karat pada permukaan daun baik di bagian atas maupun bawah. Berbeda dengan tanaman tanpa aplikasi bakteri endofit yang menunjukkan bercak-bercak cokelat kekuningan tanda penyakit karat. Ketiga bakteri itu mampu melarutkan fosfat dari alam menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman. Itulah sebabnya pertumbuhan kedelai yang diberikan bakteri endofit lebih baik.

Menurut Munif pengendalian secara biologis susah-susah gampang karena memanfaatkan makhluk hidup. Untungnya bakteri endofit dari tanaman Tinospora crispa itu mampu bertahan selama 8 pekan sehingga berpotensi untuk penyimpanan dalam jangka panjang. Tanaman kedelai menjadi inang utama penyakit karat daun. Inang lain bengkoang dan flamboyan.
Kemampuan spora untuk berpindah sangat tinggi. Menurut Desy penyebaran spora penyakit karat lewat udara bisa mencapai radius 1 kilometer. Hingga saat ini pengendalian karat masih terpaku pada mengendalian kimia sintetis dengan penyemprotan fungisida. Penemuan bakteri endofit dari brotowali itu harapan baru petani kedelai. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)
