Papita kentang goreng baru berproduksi tinggi.

Trubus — Pasokan french fries atau kentang goreng Indonesia hampir 100% impor dari Amerika Serikat. Berdasarkan data Asosiasi Industri Perdagangan dan Pengolahan Kentang Belgia, Indonesia mengimpor 7.000 ton kentang goreng beku pada 2016. Negara pemasok kentang goreng beku Indonesia adalah Amerika Serikat, Belanda, dan Kanada. Negara-negara itu berencana meningkatkan volume ekspor menjadi 20.000 ton pada 2021—2022.
Itu peluang bagi pengembangan kentang goreng. Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) merilis kentang goreng terbaru bernama papita agrihorti. Papita merupakan persilangan kentang jantan granola dengan betina atlantik. “Granola relatif tahan beberapa virus, sedangkan atlantik kualitas olahannya yang bagus,” kata periset Balitsa, Kusmana, S.P. Atlantik varietas kentang goreng yang banyak dikebunkan petani.
Produksi tinggi
Kusmana lantas menyeleksi hasil persilangan antara kedua kentang itu. “Dengan persilangan keduanya, diharapkan kualitas olahan bagus dan juga tahan terhadap virus,” kata Kusmana. Menurut Kusmana papita cocok untuk olahan kentang goreng. Bentuk umbi panjang berukuran 13—14,9 cm. Menurut mantan karyawan PT Indofoof Fritolay Corporation, Ir. Arif Budiman, M.S., industri kentang goreng menginginkan umbi dengan nilai bobot jenis 1,079 dan bobot umbi 170—280 gram.
Papita memiliki nilai bobot jenis 1,073 dan bobot umbi 133—155 gram. Menurut Kusmana untuk menghasilkan 1 kg kentang goreng produsen memerlukan 1,5 kg umbi kentang. Kusmana yang meriset papita sejak 2014 menuturkan, bobot jenis berhubungan dengan tekstur umbi yang dimasak. Umbi berbobot jenis rendah (1,050) menjadi basah setelah dimasak. Adapun umbi berbobot jenis tinggi (1,100) cenderung bertepung.
Kentang baru itu memiliki bobot umbi per tanaman 533—641 gram dan terdiri atas 7,0—8,6 umbi. Papita memiliki umbi yang panjang dan daging umbi berwarna kuning. Umur panen papita 110 hari setelah tanam dan potensi produktivitas 20,1—23,9 ton per hektare. Bandingkan dengan produksi kentang industri varietas impor atlantik yang hanya 18 ton per ha. Produktivitas papita lebih unggul dibandingkan dengan kedua tetuanya.

Uji spesifik lokasi di berbagai daerah seperti Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa produktivitas papita mencapai 23,9 ton per ha. Pada uji spesifik lokasi itu panen papita pada umur 110 hari. Populasi setiap hektare 35.000 tanaman papita. Petani membutuhkan 1,5—2 ton benih per hektare. Saat ini penyedia benih kentang papita hanya Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Balitsa.
Pemerintah merilis kentang papita pada April 2019 dengan nomor 060/Kpts/SR.120/D.2.7/4/2019. Selain papita, Kusmana tengah memuliakan klon kentang goreng lain. Kusmana menuturkan bahwa klon kentang tanpa nama itu akan lebih baik ketimbang papita. “Kentang itu persilangan varietas katahdin dari Amerika Serikat dan granola yang moderat resisten terhadap phytophthora,” ujar Kusmana.
Tahan phytophthora
Kentang belum bernama itu bisa tahan phytophthora hanya dengan 6—10 kali semprot fungisida selama masa tanam. Lazimnya petani mengendalikan phytophthora dengan 20—25 kali menyemprotkan fungisida dalam satu periode tanam. Kusmana mengatakan rendahnya frekuensi penyemprotan jelas menguntungkan. “Petani bisa lebih hemat biaya tenaga kerja, hemat biaya pestisida, dan lebih ramah lingkungan.”

Bentuk klon kentang juga memanjang, bobot jenis tinggi, dan kadar pati tinggi. Karakter-karakter itu meluluskan calon varietas kentang baru itu layak sebagai kentang industri. Status kentang masih dalam proses pengajuan varietas. “Kentang sudah banyak ditunggu swasta, karena menanam kentang akan lebih menguntungkan bagi mereka,” kata peneliti madya Balitsa itu.
Selama ini beberapa petani kentang goreng lokal memasok pasar dalam negeri. Petani di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, rutin memasok kentang goreng ke pasar Denpasar, Provinsi Bali. Namun, kentang itu tidak cocok untuk kentang goreng. “Jika mereka memakai varietas kentang khusus french fries pasti hasilnya akan lebih bagus,” ujar Kusmana. Sementara petani itu memanfaatkan varietas kentang granola.

Sejatinya varietas granola untuk kentang sayur. Oleh karena itu, varietas kentang goreng lokal mendapatkan harapan karena memeiliki kelebihan. “Pemerintah berencana menghentikan impor kentang olahan, termasuk kentang french fries pada tahun 2020,” kata Kusmana. Padahal, dari segi kualitas produktivitas dan olahan, kentang-kentang nasional tak kalah hebat.
Saat ini kentang goreng impor lebih diminati industri dan pengusaha lantaran harga lebih murah dan ketersediaan lebih melimpah. Kelebihan menggunakan kentang french fries lokal yaitu kondisi bahan lebih segar dibandingkan dengan kentang impor yang sudah dibekukan sekian lama. (Tamara Yunike)
