Tren pernikahan dengan cendera mata bibit tanaman melahirkan celah bisnis. Omzetnya mencapai Rp25juta per bulan.

Trubus — Deretan bibit trembesi Samanea saman teronggok di sudut kebun Puriyani Hasanah. Tinggi bibit tanaman penghijauan yang piawai menyerap polutan itu hanya 20—30 cm. Jumlahnya mencapai ratusan. Ukuran bibit tergolong kecil. Banyak konsumen menghendaki bibit trembesi setinggi minimal 1 meter. Oleh karena itu, bibit-bibit itu tergolong apkir alias tidak sesuai permintaan pasar.
Seorang pesohor mendatangi kebun Puriyani di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada tahun 2013. Ia memesan 500 bibit untuk cendera mata pernikahannya. Puriyani Hasanah bak mendapatkan durian runtuh. Sejak itu, Puriyani menjual bibit berukuran mini untuk suvenir. “Standar pembibitan biasanya tinggi minimal 50 cm. Banyak bibit kami yang berukuran kecil sehingga ditolak pembeli,” ujar perempuan yang kini berusia 33 tahun itu.
Jenis langka
Puriyani membibitkan berbagai jenis tanaman khususnya tanaman kehutanan untuk penghijauan sejak 2012. Perempuan kelahiran Bogor 33 tahun silam itu membibitkan trembesi, mahoni, merbau, dan kamper. Ia memperbanyak bibit secara generatif atau dari biji.
Konsumen kian menghendaki bibit untuk suvenir. Permintaannya mencapai 1.500 bibit setiap bulan. Harga sebuah bibit berkisar Rp12.000—Rp25.000. Bibit tanaman kehutanan pilihan favorit para pegiat lingkungan. Mereka cenderung memesan jenis yang langka, seperti eboni Diospyros sp. dan kecapi Sandoricum koetjape. Ada pula pesanan bibit leda Eucalyptus deglupta sebanyak 2.000 bibit untuk November 2019 mendatang. Konsumen menggemari jenis itu lantaran kelir batang yang unik.

Dua tahun terakhir permintaan konsumen juga lebih beragam. Mereka menghendaki bukan hanya bibit tanaman kehutanan atau penghijauan, juga tanaman hias (antara lain lili paris dan krokot), buah (kecapi dan mangga), dan tanaman obat (sambang darah dan tapak dara). Harga bibit berdasarkan ukuran polibag. Popon―sapaan akrab Puriyani Hasanah―membaginya menjadi tiga yakni mini berdiameter 8 cm, kecil 10 cm, dan besar 18 cm. Puriyani mematok harga Rp12.000―Rp25.000 per bibit. Omzet Popon rata-rata Rp10 juta―Rp25 juta per bulan.
Perempuan 33 tahun itu mengatakan, khusus penjualan satuan bibit tanaman kehutanan paling murah Rp17.500 per polibag. Ukurannya berkisar 20―30 cm. Bibit buah paling mahal di antara tanaman lain yakni rerata Rp20.000. Adapun tanaman ukuran mini ada 10 jenis antara lain tanaman krokot, ginseng jawa, dan lili paris. Terdapat 37 jenis tanaman ukuran kecil di antaranya pucuk merah, seribu bintang, lidah mertua, dan 31 jenis tanaman seperti dracaena, sambang darah, aglaonema, dan tapak dara. Teknik perbanyakan bibit meliputi biji, setek, dan okulasi.
Pot bambu

Puriyani mengemas bibit dalam wadah anyaman bambu setinggi 15 cm. Bambu tak ubahnya menjadi pot. Puriyani lebih dahulu menyiram tanaman hingga jenuh agar mampu bertahan beberapa hari. Ia lantas memasukkan bibit ke polibag kecil berdiameter 10 cm. Puriyani memenangkan penghargaan lingkungan Shell Live Wire 2013 lantaran memanfaatkan bambu sebagai pot. Ia bekerja sama dengan perajin bambu di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kapasitas produksinya mencapai 100 buah per hari. Setidaknya ia menyimpan 600 wadah untuk mengantisipasi pesanan dadakan. Popon menyarankan pembeli untuk tidak menyertakan wadah bambu saat tanam. Setidaknya perlu waktu satu tahun agar wadah bambu bisa lapuk. Popon yang mengurus nurseri seluas 1.500 m² dibantu dua orang pekerja. Lahan Popon’s Nursery mampu menampung hingga 10.000 bibit.

Ia memindahkan lokasi nurseri ke Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, berjarak hampir 25 km dari lokasi pertama. Luasnya lebih kecil sekitar 200 m². Itulah sebabnya ia bekerja sama dengan empat pembibit di Bogor. Mereka masing-masing menyediakan bibit tanaman kehutanan, tanaman hias, tanaman buah, dan tanaman obat.
Perempuan yang gemar mendaki gunung itu melihat aspek edukasi sebagai peluang. Ia selalu menyampaikan informasi dasar tentang pemilihan benih bagus, karakter tanaman, dan cara perawatan. Misalnya kulit benih eboni yang tergolong rekalsitran—benih cepat rusak jika diturunkan kadar airnya—harus mulus tanpa lubang. Meski mampu tumbuh dan berkecambah, daun akan muncul dan rontok. Tak lama kemudian tanaman akan mati. (Sinta Herian Pawestri)
