Wednesday, January 28, 2026

Dewi Sri Berbalut Jerami

Rekomendasi
- Advertisement -

Representasi budaya dalam rangkaian bunga.

Warna-warni bunga lambang kemajemukan dalam rangkaian karya Willy dan Eman. (Dok. Trubus)

Trubus — Dewi Sri atau Nyi Pohaci identik dengan dewi kesuburan dan padi. Maria T. Dellaocta, I Komang Budinata, dan Sri Utami menghadirkan Dewi Sri dalam balutan busana dan mahkota dari jerami dan malai padi kering. “Dewi Sri identik dengan padi. Oleh karena itu, kami menggunakan padi sebagai materi utama penyusun rangkaian,” kata perangkai bunga itu. Busana dewi kian indah dengan bunga-bunga lokal yang menghiasi sekujur busana seperti helikonia, anggrek bulan, anggrek dendrobium, anthurium, dan seruni.

Dellaocta dan rekan menyuguhkan rangkaian itu dalam acara simposium Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta Pusat, pada 10 Oktober 2019. Simposium dalam rangkaian kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional menghadirkan 9 desainer bunga profesional. Mereka menciptakan berbagai rangkaian flora yang sarat dengan budaya Nusantara.

Multikultural

Rangkaian penghias ruangan yang terinspirasi dari kuda lumping. (Dok. Trubus)

Selain Dellaocta dan rekan, ada juga Willy dan Eman Sulistian yang menampilkan rangkaian bertema Rona Pesona Nusantara. Willy dan Eman membuat rangkaian dari berbagai macam warna bunga yang melambangkan kemajemukan Willy menuturkan dalam dunia merangkai bunga warna merupakan unsur desain yang sangat kuat yang menjadikan sebuah rangkaian enak dipandang. Kesan tradisional makin terasa tatkala mereka menggunakan tampah sebagai wadah.

Wujud reog dalam rangkaian flora karya Ruth Widyasari, Aldi Pardiansyah, dan Sahrul Anwar. (Dok. Trubus)

Rangkaian buatan Sawab dan Ni Nyoman Yuni Juniati juga menarik. Mereka membuat rangkaian yang terinspirasi dari seni tari kuda lumping dan barong ket. Sawab membuat rangkaian penghias ruangan menggunakan berbagai macam dedaunan seperti monstera, ruskus, dan asparagus. Mereka juga memanfaatkan bunga matahari, anggrek, helikonia, anthurium, dan anyelir.

Sementara rambut reog terbuat dari sisal. Penampilan reog makin apik dengan tambahan berbagai flora seperti lili, jengger ayam. gomprena, janur, monstera, dan philodendron. Ruth dan rekan memilih palet warna merah, hitam, jingga, dan kuning. Menurut Ruth pilihan warna itu mewakili kesan mistis yang identik dengan budaya asal Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, itu.

Materi daur ulang berupa selang air bersalin rupa menjadi rangkaian flora nan artistik. (Dok. Trubus)

Bangga

Penampilan karya Rining Hastuti, Iqbal Aditya, dan Nansi Tjahjadi dengan rangkaian bertema Borneo Bertumbuh Kembang pun memukau. Ide untuk menuangkan kodisi alam Borneo dalam rangkaian flora tersaji apik oleh tangkan ketiga perangkai itu. Rining menghadirkan rangkaian dalam wujud burung enggang berselimut kelopak anggrek. Ia lalu meletakkan hamparan bunga seperti helikonia, babys breath, jengger ayam, dan limonium di sekitar kaki burung.

Ada pula rangkaian dari materi daur ulang yang dibawakan oleh Varick Simenon, Benedictus Nugroho, dan Natalia Laetitia. Menurut Varick kesadaran untuk menjaga lingkungan dengan menerapkan sistem reuse, reduce, dan recycle bisa dilakukan siapa saja, termasuk pelaku industri kreatif seperti perangkai bunga. Varick menuturkan perangkai bunga bisa memanfaatkan barang-barang bekas menjadi barang baru yang bernilai seni, misalnya selang air, busa, dan rafia.

Burung enggang bersama aneka flora bikinan Rining Hastuti. (Dok. Trubus)

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IPBI, Lucia Raras, menuturkan, simposium ini membuktikan bahwa rangkaian bunga juga bisa berpadu dengan ragam budaya bangsa. Indonesia sepatutnya bangga memiliki anak bangsa yang terjun di dunia merangkai bunga dengan semangat mengggelora. Mereka berkontribusi mengangkat derajat flora menjadi sebuah karya seni.

Pun sebagai seniman bunga selayaknya bangga lahir di Indonesia. “Tempat ratusan juta orang hidup dengan beragam adat dan budaya. Juga tempat dedaunan dan warna-warni bunga tersedia sepanjang tahun,” kata Raras. Mereka hidup harmoni di tanah pusaka berjuluk zamrud khatulistiwa. (Andari Titisari)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img