Tuesday, January 27, 2026

Kiat Merawat Aglaonema Juara

Rekomendasi
- Advertisement -

Aglaonema-aglaonema juara kontes yang tampil prima membutuhkan perawatan ekstra.

Trubus — Merawat aglaonema kochin susah-susah gampang. “Kochin memiliki kelemahan, ketika lingkungan terlalu panas daunnya akan rebah. Sebaliknya, ketika suhu ruangan terlalu dingin akan tegak daunnya,” kata Farid Angga Dinata. Aglaonema kochin koleksi Angga meraih juara kontes nasional di Kota Depok, Jawa Barat, pada 3 November 2019. Angga datang dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berjarak 919 km dari Kota Depok.

Aglaonema juara ke-1 di kelas tunggal dewasa.

Selama pengangkutan menuju lokasi kontes tanaman terpapar suhu yang fluktuatif sehingga terjadi perubahan fisik. “Biasanya perubahan fisik itu terjadi di batang. Oleh karena itu, sebelum kontes kami perhatikan bentuk tanaman dari samping dan atas. Jika ada posisi batang yang kurang prospek lakukan pemijatan secara perlahan,” kata Angga. Pemijatan dengan gerakan berlawanan arah dari posisi pertumbuhan.

Kehujanan terus

Menurut Angga pemijatan bertujuan memosisikan batang tanaman sehingga susunan roset lebih sempurna. Jika posisi batang sudah kembali ke posisi semula, ia menghentikan pijatan. Angga merawat tanaman kontes sama seperti perawatan aglaonema lain. “Kalau tempatnya sudah cocok, kami tidak akan memindahkan,” kata Angga.

Pemindahkan tanaman meski hanya 5 meter, akan mengubah bentuk daunnya. Angga menggunakan media sekam fermentasi, sekam bakar, dan pasir malang dengan perbandingan 1:1:1. Ia juga memberikan vitamin saban 2 pekan agar tanaman tidak stres ketika dipindahkan ke pot lain.

Penyiraman tergantung kondisi media. Angga mengecek kelembapan media. Ia baru menyiram tanaman jika media terasa kering.  Selain kochin, aglaonema  emerald dragon juga tampil menawan. Tanaman koleksi Syaiful Rizal itu kampiun di kelas tunggal dewasa. Syaiful memilih media tanam berpori tinggi yaitu sekam bakar. “Di tempat saya memang cocoknya hanya menggunakan sekam bakar,” ujar pehobi di Lumajang.

Komunitas Lumajang meraih juara umum Kontes Aglaonema Nasional 2019. Syaiful Rizal (kedua dari kiri) pemilik aglaonema pemenang kelas tunggal dewasa dan Farid Angga Dinata (kedua dari kanan) pemilik aglaonema pemenang kelas juvenile kochin.

Syaiful tidak pernah memindahkan posisi tanaman dari lokasi yang hanya menggunakan jaring. Meski hujan deras sekalipun, ia membiarkannya. Padahal, aglaonema tidak menyukai media yang terlalu lembap. Namun, Syaiful yakin hujan deras tidak akan merusak penampilan tanaman.

Sekam merupakan media berpori tinggi sehingga air tidak akan terperangkap pada media. Oleh karena itu, tidak menyebabkan akar dan batang tanaman membusuk. Syaiful memanfaatkan pupuk lambat urai atau slow release sebagai sumber nutrisi bagi emerald dragon yang kini berumur 1,5 tahun. Interval pemupukan 6 bulan sekali.

Sinar matahari

Aglaonema koleksi Koswara juga meraih juara di kelas rumpun. Pehobi di Sawangan, Kota Depok, itu hanya menggunakan pupuk daun semprot sebagai selingan pupuk slow release setiap dua pekan sekali. Aglaonema snow white koleksi Koswara menggunakan media sekam mentah, kaliandra, dan pakis. Perbandingannya 70% sekam mentah, 20% kaliandra, dan 10% pakis.

Ia mengganti media setiap 3 bulan sekali. “Kalau media ketika dipegang sudah hancur, berarti media sudah jelek dan mesti diganti,” kata Koswara. Tujuan penggantian media menghindari pH rendah sehingga mempengaruhi penampilan tanaman yang kini berumur 3,5 tahun.

Aglaonema snow white koleksi Koswara dari Kota Depok, Jawa Barat, meraih juara ke-1 kelas rumpun.

Frekuensi penyiraman dua hari sekali. “Yang paling penting dari perawatan tanaman kontes adalah bebas hama, khususnya ulat. Ulat bisa memakan 1 daun dalam sehari,” kata Koswara. Oleh karena itu, Koswara menyemprotkan insektisida setiap pekan. Sebelum kontes, Koswara memberikan pengilap daun supaya tampilan daun lebih indah. Pemilik aglaonema kampiun lain, Andi Wicaksono, menganggap pengilap daun tidak terlalu penting.

Aglaonema berjenis first love koleksi Andi pemenang kelas juvenile. Menurut Andi daun aglaonema yang sehat sudah mengilap. Pehobi dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah, itu hanya menggunakan air dan kapas untuk membuat tampilan daun aglaonema lebih kinclong. Jika ada noda, Andi memakai sabun pencuci piring lalu menggosokkan ke permukaan daun menggunakan kapas.

Andi mencari tempat dengan sinar matahari paling merata dan tidak miring supaya daun tidak tumbuh miring. Setelah menemukan tempat yang tepat, ia meletakkan tanaman di lokasi itu. “Perbedaan cahaya dan angin mempengaruhi warna,” ujar Andi. Ia memanfaatkan media sekam mentah, serbuk sabut kelapa atau cocopeat, dan pasir malang dengan perbandingan 4:1:0,5 sebagai media tanam.

Pehobi itu tidak mengontrol penggunaan pupuk supaya tidak berlebih untuk menghindari loncatan atau jumping pada daun. “Jumping itu dalam arti yang semula kecil menjadi besar sehingga bentuk roset tidak sempurna,” kata Andi. Ia menaburkan pupuk lambat urai setiap 6 bulan sekali. Andi juga menggunakan vitamin B1 setiap 2 pekan dengan takaran 1 sendok teh untuk 2 liter air.

Menurut ketua kontes, Gunawan Setyono, panitia menyelenggarakan 4 kelas, yakni juvenile dengan peserta 58 tanaman, juvenile kochin (24), tunggal dewasa (35), dan rumpun (23). Total tanaman yang mengikuti kontes adu elok tingkat nasional itu 140 tanaman. Kunci kemenangan mereka adalah perawatan intens. (Tamara Yunike)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img