Royal Botanic Garden Edinburgh merawat Vireya asal Indonesia.

Trubus — Rumah kaca di Royal Botanic Garden, Edinburgh, Skotlandia, merupakan rumah bagi koleksi rhododendron Vireya budidaya terbesar di dunia. Rhododendron Vireya yang kerap dijuluki Rhododendron Asia Tenggara menjadi bagian sekitar 30% dari total keanekaragaman genus Rhododendron. Kebun Raya Kerajaan Edinburgh yang genap berumur 350 tahun pada 2020 membudidayakan 210 spesies dari total 300 spesies rhododendron Vireya di Asia Tenggara. Termasuk di antaranya koleksi rhododendron Vireya dari Indonesia.

Sejak abad ke-19, Royal Botanic Garden Edinburgh membudidayakan rhododendron jenis vireya yang kala itu hanya segelintir spesies yang dikenal oleh masyarakat Edinburgh. Contoh jenis rhododendron Vireya perintis di Royal Botanic Garden Edinburgh yaitu Rhododendron javanicum subsp. javanicum dari Pulau Jawa dan Rhododendron javanicum subspesies teysmannii dari Sumatera.
Konservasi Vireya
Kini koleksi Kebun Raya Kerajaan Edinburgh menampung lebih dari 2.000 tanaman yang bersumber dari 902 aksesi (tambahan yang dimasukkan dalam suatu koleksi, red). Sebanyak 93% dari aksesi diketahui dari sumber asli yang liar dan mencakup rentang grup geografis: 40% dari aksesi liar berasal dari Indonesia 25% Malaysia, 20% Papua Nugini, 15% Filipina, dan sisanya berasal dari beberapa negara di Asia.

tumbuh di Malaysia dan Indonesia. Ditemukan di
Gunung Kongkemul, Kalimantan. (Dok. Alan Elliott)
Vireya berasal dari Asia Tenggara di daerah tropis, maka menumbuhkan Vireya di utara Skotlandia, tempat kebun raya berada, menjadi tantangan besar. Sebagian kecil Vireya ditemukan pada ketinggian sekitar 1.000 m pada kondisi benar-benar tropis. Kebanyakan Vireya tumbuh di ketinggian 1.000—2.500 meter di atas permukaan laut (dpl), di tengah-tengah hutan pegunungan nan dingin dan berawan.
Di lokasi itu Vireya tumbuh sebagai epifit di pohon. Namun, di ketinggian yang lebih tinggi, hingga 4.000 m, beberapa spesies Vireya tumbuh di lahan terbuka dan tumbuh dari tanah seperti kerabat rhododendron kelompok lain yang menghuni bagian Asia dan belahan bumi utara yang beriklim subtropis.
Vireya dipastikan tidak akan bertahan hidup di musim dingin Skotlandia jika ditanam di luar. Oleh karena itu, mereka membutuhkan perlindungan dalam rumah kaca yang hangat nan bebas embun beku atau frost. Koleksi Vireya di rumah kaca Royal Botanic Garden Edinburgh dirawat pada kondisi suhu malam serendah-rendahnya 10oC. Pada siang hari ventilasi rumah kaca baru dibuka ketika suhu udara di luar rumah kaca mencapai 17°C.
Kerja sama global
Hampir dua pertiga dari semua Vireya di dunia (201 taksa) dalam masalah konservasi, terancam, atau hampir terancam. Sayangnya, hanya 32% (66 spesies) yang terwakili dalam koleksi konservasi eks-situ. Royal Botanic Garden Edinburgh memiliki 63 dari 66 taksa sehingga menjadi salah satu koleksi konservasi terpenting dari rhododendron Vireya di dunia. Royal Botanic Garden Edinburgh kini menjadi koordinator Konsorsium Konservasi Global untuk rhododendron.

Royal Botanic Garden bekerja sama dengan kebun raya dan lembaga botani dari 13 negara, termasuk Kebun Raya Bogor, Indonesia. Konsorsium Konservasi Global Rhododendron bekerja untuk melestarikan tanaman indah ini dan memastikan tak membiarkan lebih banyak jenis Vireya punah. Koleksi Vireya di Royal Botanic Garden Edinburgh merupakan warisan dari almarhum Dr. George Argent, ilmuwan dari Royal Botanic Garden Edinburgh.
Royal Botanic Garden Edinburgh bekerja sama dengan Botanic Garden Congress International. (BGCI) dan organisasi mitra seperti Kebun Raya Bogor sebagai bagian dari Konsorsium Konservasi Global untuk Rhododendron untuk membantu melindungi semua spesies Rhododendron. Pada 2010, ekspedisi kerja sama antara Royal Botanic Garden Edinburgh dan Kebun Raya Cibodas, dilaksanakan ke Kalimantan.

Dr. Argent memimpin ekspedisi untuk mempelajari spesies Rhododendron yang kurang dikenal di Bukit Raya. Dua spesies target pada ekspedisi itu adalah Rhododendron fortunans dan Rhododendron mogeanum yang merupakan endemik Bukit Raya dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Ekspedisi berhasil menemukan kedua spesies dan mengumpulkan data yang cukup untuk menilai status konservasi mereka.
Rhododendron mogeanum digambarkan sebagai spesies baru oleh Dr. Argent pada tahun 2003 dari spesimen tunggal yang diawetkan di Herbarium Nasional Indonesia, Herbarium Bogoriense. Sebuah setek batang tunggal dibawa kembali ke Skotlandia dari 2010 ekspedisi dan selama satu dekade terakhir stek tanaman itu telah tumbuh perlahan-lahan. Spesies itu perdana berbunga di rumah kaca Botanical Garden of Edinburgh di Oktober 2019.
Tragisnya Dr. Argent meninggal pada April 2019 tanpa sempat melihat spesies ini berbunga. Hibrida Vireya adalah tanaman hias populer di Jepang, Australia, dan Selandia Baru. Namun, kurang diminati di Inggris. Sebaliknya Rhododendron subtropis jauh lebih populer. Ada sekitar 1.000 nama Vireya hibrida dalam hortikultura, tetapi masih ada potensi besar untuk pengembangan pada masa depan.
Kerja sama produktif antara agribisnis, organisasi konservasi seperti Konsorsium Konservasi Global untuk Rhododendron, dan lembaga nasional seperti Kebun Raya Bogor mampu membuat langkah besar untuk mengangkat citra Vireya sebagai tanaman hias yang elok. Terlebih penting lagi, melakukan kontribusi yang signifikan untuk konservasi dan pelestarian tanaman yang indah ini. (Dr. Alan Elliott, Manajer Konservasi Keanekaragaman Hayati Royal Botanic Garden Edinburgh)
