Elok Dendrobium Anyar

Rekomendasi

Penemuan subspesies asal Aceh dan hibrida baru memperkaya khazanah dendrobium.

Dendrobium salah satu genus anggrek dengan jumlah spesies sangat banyak dibandingkan dengan genus Phalaenopsis dan Vanda. Bahkan, hingga kini, peneliti masih menemukan jenis baru. Pada Juni 2020, Jurnal Die Orchidee terbitan Jerman merilis deskripsi Dendrobium kruiense subspesies alboflavum yang berasal dari Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Naggroe Aceh Darussalam.

Dendrobium tasiman beradaptasi sangat baik dan mudah berbunga.

Penulis turut menjadi tim peneliti D. kruiense subsp. alboflavum bersama Yuda Rehata Yudistira dan Jim Cootes. Penyematan nama subspesies alboflavum berasal dari bahasa Latin albus bermakna putih dan flavus kuning. Itu mengacu pada sepal dan petal yang berwarna putih serta pangkal labelum atau bibir bunga berwarna kuning. D. kruiense subsp. alboflavum termasuk ke dalam seksi Calcarifera. Lazimnya tanaman anggota Calcarifera hidup secara epifit dan berukuran sedang hingga besar.

Hutan hujan

Pseudobulb bulat berdaging dan relatif menjuntai ke bawah saat tumbuhan dewasa. Calcarifera tidak memiliki rizom. Daunnya tipis dengan ujung lancip. Biasanya daun gugur setelah tanaman berusia satu atau dua tahun. Calcarifera memiliki akar silindris dengan permukaan tidak rata dan berwarna cokelat. Bunganya memiliki mentum alias dagu yang panjang dengan labelum cukup lebar dan menyempit tiba-tiba pada bagian dalam (pangkal).

Alboflavum hidup secara epifit pada batang pohon sekitar 1—10 meter di atas permukaan tanah. Tinggi pohon inang biasanya 3—20 meter dengan kerapatan antarpohon berkisar 0,5—1,5 meter.

Mentari Senja Surakarta silangan Dendrobium Morning Sun dan Samarai

Habitat asalnya di hutan hujan Kecamatan Kutepanang, Kabupaten Aceh Tengah. Lantai hutan sebagian besar tertutup serasah daun. Daerah itu berketinggian 1.400—2.000 m di atas permukaan laut (dpl) dengan topografi bergelombang. Pepohonan banyak tumbuh di lereng curam dengan kemiringan 45º. Suhu rata-rata berkisar 16—20ºC. Wilayah itu teduh dan terisolasi serta terkadang berkabut pada pagi dan sore.

Hingga tulisan ini terbit, peneliti masih mengupayakan perbanyakan alboflavum secara in vitro. Hal itu penting untuk mempertahankan kelestarian plasma nutfah yang makin hari terancam punah akibat kerusakan hutan.

Hibrida baru

Pada November 2020, penulis menghasilkan dua hibrida baru yang terdaftar di Royal Horticultural Society di London, Inggris. Hibrida baru itu berjuluk Dendrobium Tasiman dan Dendrobium Mentari Senja Surakarta. Secara khusus penulis mendedikasikan Tasiman untuk ayahanda bernama Tasiman.

Itu hasil persilangan Dendrobium antennatum dan Dendrobium taurulinum. Bentuk bunga tasiman menyerupai D. antennatum dengan ciri khas petal seperti tanduk antelop. Petal berwarna hijau kekuningan sedangkan labelum bermotif garis-garis ungu. Keunggulan lain, tasiman memiliki daya adaptasi sangat baik dan mudah berbunga. Kuntum bunga semarak dan terdapat lebih dari satu peduncle pada setiap bulb.

D. antennatum dan D. taurulinum memiliki karakter kuat dalam mewariskan tangkai dan kuntum bunga yang semarak. Bukan hal mustahil Dendrobium Tasiman menjadi jembatan dalam menghasilkan hibrida berkualitas di kemudian hari.

Peneliti memperbanyak dendrobium baru secara in vitro.

Hibrida lain, Dendrobium Mentari Senja Surakarta pun tidak lepas dari sumbangsih karakter D. antennatum. Mentari Senja Surakarta berasal dari persilangan Dendrobium Morning Sun dan Samarai. Dendrobium Samarai lahir dari induk D. stratiotes dan D. antennatum. Mentari senja surakarta memiliki karakter bunga berwarna kuning cerah dengan labelum merah marun, berbentuk intermediat.

Daya adaptasi serta ketahanan hama dan penyakit penting untuk memilih tetua silangan.

Pengalaman menghasilkan dua hibrida itu menunjukkan, pemilihan tetua persilangan anggrek tak hanya berdasarkan bentuk atau warna bunga, tetapi juga daya adaptasi serta ketahanan terhadap hama dan penyakit. Kemudahan berbunga serta tangkai dan kuntum bunga semarak turut menjadi pertimbangan. Tak dipungkiri potensi unggul itu juga ada pada alboflavum seksi Calcarifera.

Oleh karena itu, mari lestarikan plasma nutfah anggrek Indonesia sebagai warisan anak cucu pada masa mendatang. (Romiyadi, S.P., M.P., Dosen di Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti sekaligus pemulia dan petani anggrek)

Artikel Terbaru

Tanam Serentak Kelapa, Dorong Produktivitas dan Hilirisasi Perkebunan

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan melaksanakan penanaman kelapa seluas 10 hektar di Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang,...

More Articles Like This