Thursday, February 12, 2026

Dampak Buruk Bila Berpadu

Rekomendasi
- Advertisement -
Konsumsi herbal meningkat. Waspadai interaksi herbal dan obat ketika konsumsi dalam waktu bersamaan.
(foto : dok. Trubus)

TRUBUS — Antisipasi efek samping konsumsi herbal dan obat konvensional secara bersamaan.

Eka Lidya mengonsumsi obat resep dokter untuk meredakan mag. Sejam berselang ia mengonsumsi ekstrak sambilata Andrographis paniculata untuk menjaga imunitas tubuh. Perempuan 45 tahun di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu terbiasa mengombinasikan obat konvensional dan herbal. Namun, tidak semua jenis herbal dapat mendampingi obat konvensional karena dapat menimbulkan dampak interaksi.

Ika Aulia Rahmi, S.Farm., M.Si. Dosen di Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal (ISTA), Jakarta Barat.

Menurut dosen di Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal (ISTA), Jakarta Barat, Ika Aulia Rahmi, S.Farm., M.Si., baik obat konvensional maupun herbal memiliki senyawa aktif yang memiliki aktivitas metabolisme di dalam tubuh. Interaksi itu berupa saling menguatkan atau sinergis atau justru bertolak belakang alias antagonis. Keruan saja interaksi antagonis membahayakan kesehatan atau melemahkan khasiat herbal atau obat.

Interaksi herbal

Menurut Ika sinergis artinya senyawa aktif yang terkandung dalam herbal dengan obat konvensional bekerja sama, yakni bersama-sama memberikan efek tertentu. Interaksi antarsenyawa yang bersifat sinergis biasanya memberikan efek lebih besar dibandingkan dengan bila hanya senyawa tertentu yang bekerja. Sementara itu efek antagonis bermakna senyawa aktif tidak memberikan efek yang lebih besar.

Magister Ilmu Herbal dalam Keperawatan dan Estetika alumnus Universitas Indonesia itu mengatakan, pada efek antagonis senyawa aktif antara kedua bahan tidak saling mendukung. “Efek sampingnya tidak selalu buruk. Bisa jadi efektivitasnya menurun,” kata penemu media edukasi herbal daring, herbalexpert.id itu. Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatian sebelum mengonsumsi kombinasi obat dan herbal secara bersamaan.

Sarjana Farmasi alumnus Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Tangerang, Provinsi Banten, itu mengatakan bahwa sifat senyawa aktif yang satu dengan yang lain berbeda. Ika mengatakan, kandungan senyawa aktif dalam satu tanaman sangat beragam. Sekadar contoh daun sambilata mengandung lebih dari 55 diterpenoid ent-labdane, 30 flavonoid, 8 asam kuinat, 4 xanthone, dan 5 noriridoid. Jadi, komponen senyawa aktif yang menyusun suatu tanaman sangat kompleks.

Itulah sebabnya mengonsumsi herbal dan obat konvensional atau obat pabrikan harus berjeda minimal satu jam seperti dilakukan Eka Lidya. “Kita tidak tahu apa yang terjadi apabila terjadi interaksi senyawa aktif, jadi baiknya kita hindari,” kata Aulia. Dokter anggota Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Nadia Bunga Anggraini, M.Si., mengatakan, interaksi obat dalam farmasi terbagi menjadi dua.

Pertama, farmakologi dinamik yaitu antagonis dan sinergis. Adapun interaksi kedua yakni farmakologi kinetik, yakni interaksi yang memengaruhi absorbsi senyawa aktif ke plasma darah, distribusi ke organ tujuan, metabolisme, dan eksresi senyawa. Nadia mencontohkan penelitian terkait konsumsi suplemen vitamin C dan E. Jika konsumsi keduanya bersamaan dengan daging lidah buaya meningkatkan konsentrasi vitamin C dan E dalam plasma darah.

Antihipertensi

dr. Nadia Bunga Anggraini, M.Si. anggota Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI).

Nadia Bunga Anggraini mengatakan, saat mengonsumsi herbal sebaiknya memperhatikan bentuk antara ekstrak atau simplisia. “Simplisia dan ekstrak berbeda. Ekstrak sudah sarinya, konsentrat asli. Adapun simplisia masih mengandung banyak senyawa lainnya,” kata dokter alumnus Universitas Trisakti itu. Menurut Nadia masyarakat sebaiknya menghindari konsumsi bersamaan obat konvensional antihipertensi dan daun sambilata.

Menurut herbalis di Jakarta Barat, Zahra Nur Maryam, S.Si, Apt., M.Si (Herb) bukti terbatas menunjukkan bahwa sambilata memiliki efek antihipertensi akan meningkatkan efek hipotensi jika digunakan secara bersamaan dengan obat antihipertensi. Adapun contoh interaksi sinergis yakni cabai dengan obat golongan aspirin atau pencegah penggumpalan darah. Cabai yang mengandung senyawa capsaicin itu berdampak positif.

Uji praklinis membuktikan, konsumsi cabai (misal dalam bentuk sambal) dan aspirin bersamaan justru terjadi pengurangan kerusakan mukosa lambung yang akibat aspirin melalui mekanisme motilitas aspirin oleh capsaicin dari ekstrak cabai. Magister Herbal alumnus Universitas Indonesia, itu mengatakan, masyarakat juga harus memperhatikan kondisi produk, baik dari segi perizinan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), kedaluwarsa, anjuran konsumsi, dan komposisi. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Artikel Terbaru

Ancaman Cacing Ascaridia pada Ayam dan Peluang Obat Herbal Indonesia

Infeksi kecacingan Ascaridiosis masih menjadi persoalan serius di industri perunggasan. Selain mengganggu kesehatan ayam, serangan cacing ini juga berujung...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img