Thursday, February 9, 2023

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Rekomendasi

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gadjah Mada mendorong pemerintah dalam konversi LPG ke kompor listrik.

Menurut Ir. Sarjiya, S.T., M.T., Ph.D., Kepala Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gadjah Mada, konversi kompor gas ke kompor listrik bertujuan mengurangi ketergantungan LPG yang terus mengalami peningkatan.

Apalagi, impor gas LPG setiap tahun semakin meningkat dengan jumlah subsidi mencapai puluhan triliun rupiah per tahun. Selain itu, konversi tabung gas ke kompor listrik ini juga mendorong peningkatan pemakaian listrik di kalangan masyarakat.

“Kita sepakat bila ada kebijakan ke kompor listrik untuk mengganti LPG untuk mendukung elektrifikasi. Kita tahu 80 hingga 90 persen LPG yang dipakai adalah impor,” kata Sarjiya, melansir dari laman Universitas Gadjah Mada.

Lebih lanjut, Sarjiya menuturkan, saat ini PLN mengalami kelebihan kapasitas produksi, padahal kebutuhan listrik tidak begitu efisien. Kelebihan daya listrik yang dihasilkan mencapai 30–40 persen di beberapa PLTU.

“Kapasitas yang berlebih dengan investasi yang besar, tentunya ada peningkatan biaya risiko yang harus dikeluarkan,” jelasnya.

Ia menilai proyek listrik 35 ribu Megawatt yang dicanangkan pemerintah cukup berhasil. Namun, dari sisi kapasitas yang cukup besar tersebut diikuti permintaan kebutuhan listrik, baik di industri maupun masyarakat umum.

PLN sukses membangun PLTU dengan kapasitas yang sangat besar. Akan tetapi, kapasitas pembangkit melebihi kebutuhan. Melalui program elektrifikasi dengan penggunaan kompor listrik, diharapkan bisa memanfaatkan kelebihan kapasitas produksi listrik PLN.

Selain penggunaan kompor listrik untuk skala rumah tangga, ia juga sepakat pemerintah perlu mendorong penggunaan energi listrik untuk alat transportasi.

Menurut Filda C. Yusgiantoro, MBA, Ph.D., Pakar Energi Terbarukan dari Yayasan Purnomo Yusgiantoro Center, realisasi kontribusi Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional masih berada di bawah target yang telah ditetapkan.

Selain itu, batu bara masih mendominasi bauran energi nasional Indonesia, khususnya sektor pembangkit listrik Indonesia.

Indonesia memiliki sebagian besar sumber EBT dunia, tetapi pemanfaatannya masih rendah dengan potensi sumber daya sebesar 3.697 GW. Pemanfaatannya masih sekitar 11,6 GW atau 0,31 persen dari total potensi.

Filda merinci beberapa sumber energi terbarukan yang tersedia di Indonesia antara lain energi panas matahari, energi angin, air, bioenergi, panas bumi, energi gelombang laut, dan energi nuklir.

Ia berkeyakinan ke depan bioenergi akan mendominasi pemanfaatannya di sektor transportasi. Sementara itu, penggunaan sumber air, panas bumi, dan matahari akan mendominasi di sektor kelistrikan.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Meybi Kantongi Omzet Rp75 Juta Sebulan dari Daun Kelor

Trubus.id — Daun moringa alias kelor bagi sebagian orang identik dengan mistis. Namun, bagi Meybi Agnesya Neolaka Lomanledo, daun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img