Kegiatan penanaman pohon di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta Timur berlangsung meriah. Sebanyak 70 siswa mengikuti program kolaborasi bersama tim Trubus dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional. Meski konsep awalnya sederhana, kegiatan ini justru menjadi pengalaman baru yang memberi banyak pembelajaran bagi para siswa mulai dari mengenal jenis pupuk, memahami cara merawat tanaman, hingga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Zahwa Anindita Fauzi, siswi kelas 7, terlihat sangat antusias. Ia merasa kegiatan ini membuka kesadarannya untuk lebih peduli terhadap tanaman. Zahwa menyukai tanaman buah seperti stroberi dan apel karena dapat dikonsumsi sekaligus memiliki nilai ekonomi. Ia mulai membayangkan suatu hari nanti memiliki kebun kecil di rumah. Di kebun itu, ia ingin menanam berbagai sayuran secara hidroponik agar kebutuhan sayur keluarganya bisa dipenuhi tanpa harus membeli dari luar. Zahwa juga mendapatkan wawasan baru, seperti fakta bahwa kompos berasal dari kotoran sapi dan kambing, serta cara menyiram, memupuk, dan menanam yang benar.
Hal serupa disampaikan Rayhan Afandi, siswa kelas 7 SRMP 6. Ia senang dapat mempelajari teknik menyiram tanaman, mengenal jenis pupuk, dan memahami proses pertumbuhan pohon. Rayhan menyukai pisang dan jeruk karena rasa manisnya dan potensi untuk dijual. Baginya, kegiatan urban farming sangat penting karena membuat lingkungan lebih hijau dan nyaman. Ia berkomitmen untuk merawat tanaman yang ia tanam agar membantu mengurangi polusi serta menghasilkan oksigen. Rayhan pun ingin memiliki kebun kecil berisi pisang, jeruk, apel, semangka, pir, dan berbagai tanaman lain, baik untuk dikonsumsi maupun dijual.
Kepala sekolah SRMP 6, Regut Sutrastro, menyambut baik semangat para siswa. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bentuk pendidikan lingkungan yang sangat berarti karena membantu menumbuhkan kecintaan anak-anak pada alam sejak dini. Sekolah memiliki lahan kosong yang dapat dimanfaatkan, dan bantuan pohon buah dari Trubus sangat mendukung upaya tersebut. Regut juga mengapresiasi bantuan tim Trubus yang mendampingi sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Ia melihat bagaimana siswa begitu aktif bertanya, membaca buku literasi bercocok tanam, hingga mencoba penggunaan pupuk cair.
Regut menilai kegiatan ini juga melatih karakter siswa. Setiap pohon dirawat oleh kelompok kecil sehingga mereka belajar bekerja sama, memimpin, dan bertanggung jawab. Sekolah berencana memperluas kerja sama ini, termasuk melakukan kunjungan edukatif ke kebun Trubus di Cimanggis. Ia berharap kolaborasi ini terus berlanjut agar pembelajaran lingkungan tetap hidup di sekolah.
Guru coding SRMP 6, Zulfadri, juga memiliki harapan serupa. Ia ingin kerja sama ini berkembang sehingga siswa bisa semakin mahir dalam bercocok tanam dan menjaga lingkungan sekolah. Sementara itu, Septi Rinasusanti dari tim Trubus menjelaskan bahwa penanaman pohon ini bertujuan mengenalkan urban farming sebagai cara membangun ketahanan pangan keluarga. Trubus memilih pisang dan alpukat agar siswa dapat merasakan manfaatnya langsung ketika buah mulai berproduksi. Septi mengatakan bahwa respon siswa sangat positif; mereka semangat merawat tanamannya dan menunggu-nunggu waktu panen. Ia berharap kegiatan seperti ini menyebar luas ke sekolah-sekolah lain di berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan menanam pohon di SRMP 6 Jakarta Timur ini bukan hanya perayaan Hari Guru Nasional, tetapi juga langkah awal bagi tumbuhnya kesadaran lingkungan pada generasi muda. Dari bibit yang mereka tanam, tumbuh pula rasa tanggung jawab, kemandirian, dan impian untuk menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
(Naya Maura Denisa)
