Infeksi kecacingan Ascaridiosis masih menjadi persoalan serius di industri perunggasan. Selain mengganggu kesehatan ayam, serangan cacing ini juga berujung pada kerugian ekonomi bagi peternak. Di sisi lain, penggunaan obat cacing kimia secara terus-menerus dinilai berisiko memicu resistensi parasit sehingga efektivitasnya bisa menurun dalam jangka panjang.
Menanggapi kondisi tersebut, Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. drh. Risa Tiuria, menegaskan pentingnya sistem pertahanan selaput lendir atau mukosa pada saluran pencernaan ayam sebagai benteng alami melawan infeksi cacing.
Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada 24 Januari 2026, Risa juga menyoroti potensi fitoterapi dari kekayaan tanaman obat Indonesia sebagai strategi pengendalian yang lebih berkelanjutan.
Secara in vitro, beberapa tanaman obat Indonesia terbukti mampu menurunkan motilitas cacing. Zat aktif herbal bahkan dapat menembus kutikula cacing yang sangat tebal dan melumpuhkannya.
“Pengembangan obat cacing berbahan herbal seperti meniran, sambilata, temulawak, dan temuireng memiliki potensi sebagai antelmintik yang tidak mengakibatkan resistensi cacing sehingga bisa menjadi solusi jangka panjang,” kata Risa.
Ascaridiosis pada unggas disebabkan oleh nematoda Ascaridia galli yang menular melalui jalur fekal-oral dan hidup di lumen usus halus. Menurut Risa infeksi ini dapat menurunkan produksi ayam petelur, baik dari jumlah maupun bobot telur.
Selain itu, kerusakan jaringan usus akibat infeksi akan mengganggu penyerapan nutrisi dan pertumbuhan ayam. Infeksi kronis Ascaridia galli dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi bagi peternak ayam.
Lebih jauh ia memaparkan peran penting mekanisme pertahanan mukosa usus dalam melawan infeksi cacing. Sel goblet dan sel mast memiliki kontribusi besar dalam melindungi saluran pencernaan. Proliferasi dan hiperplasia sel goblet meningkatkan produksi mukus atau lendir yang mampu menghambat penempelan dan perkembangan cacing.
“Sementara degranulasi sel mast melepaskan mediator seperti histamin, proteoglikan, dan protease yang dapat merusak kutikula cacing dan membantu pengeluarannya dari tubuh ayam,” tutur Risa.
Terkait respons imun, ia menjelaskan bahwa antigen ekskretori–sekretori (ES) A. galli memiliki antigenisitas tinggi dan bersifat imunomodulator. Alasannya antigen ES bisa meningkatkan respons sel T dan sel B.
Pemberian antigen ES cacing dewasa dengan berat molekul 40—66 kDa terbukti mampu mempercepat pengeluaran larva dari jaringan usus dan mencegah perkembangan cacing secara normal.
Meski demikian, pengembangan vaksin cacing masih menghadapi banyak kendala. “Cacing merupakan helmin metazoa dengan siklus hidup yang kompleks dan respons imun yang berbeda pada setiap stadium sehingga vaksin sulit dikembangkan,” kata Risa.
Walaupun penelitian yang dilakukan saat ini masih berada pada tahap in vivo dan belum dapat diterapkan langsung di peternakan unggas, Risa menilai pemanfaatan herbal sebagai suplemen sudah banyak dilakukan untuk mendukung kesehatan dan imunitas saluran pencernaan ayam. “Kelompok kurkumin sering diberikan untuk meningkatkan kekebalan, meskipun belum sampai tahap terapi,” ujar Risa.
