Saturday, January 24, 2026

Arab Saudi Meminta Patin dan Lele

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Patin (Pangasius sp.), dan lele (Clarias sp.), merupakan menu rutin masyarakat Arab Saudi, baik lokal dan ekspatriat atau pendatang. Indikatornya saat gelaran Indoensian Haji Expo 1444 H, pada 1—2 Februari 2023 di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Arab Saudi, banyak pengunjung tertarik dengan dua komoditas itu.

Tidak sedikit pula pengusaha meminta 2 komoditas itu untuk kebutuhan supermarket dan katering. Lele dominan dikonsumsi ekspatriat sedangkan patin sudah masuk sebagai bahan baku untuk menu restoran. Artinya, masyarakat setempat pun sudah familiar dengan cita rasa patin.

Harap mafhum, warga negara Indonesia (WNI) banyak juga yang berada di negeri Raja Salman itu. Berdasarkan data dari Kementerian Luar Negeri, terdata Arab Saudi peringkat kedua terbanyak jumlah WNI hingga 665.552 jiwa.

Terbanyak atau peringkat 1 WNI di luar negeri berada  di Malaysia dengan jumlah 1.330.303 jiwa. Mayoritas sekitar 93% WNI di luar negeri adalah tenaga kerja Indonesia (TKI). Sayangnya, pasokan patin dan lele ke timur tengah sementara didominasi dari negeri jiran antara lain Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

Ceruk pasar patin dan lele ke Arab Saudi sejatinya lebih besar, pasalnya faktor umrah dan jemaah haji membuat perminataan kedua komoditas itu makin meningkat. Permintaan melambung bisa hingga 100% saat musim haji atau Idul Adha tiba.

Potensi kedatangan jamaah haji pada 1444 H atau tahun 2023 mencapai 221.000 jamaah dan 2 juta jamaah umrah. Prediksi permintaan patin untuk memenuhi permintaan haji dan umrah bisa mencapai 530 ton per tahun.

Adapun untuk lele mencapai 132 ton per tahun untuk kebutuhan jamaah haji dan umrah. Hal itu tentu menjadi potensi pasar baru yang makin tinggi. Andai pembudidaya patin dan lele di Indonesia bisa mengisi ceruk pasar itu tentu bisa menyumbang devisa besar.

Menurut data dari Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), pada 2021 produksi lele nasional mencapai 365.200 ton adapun patin 408.538 ton. Produksi itu sejatinya cukup jika mengalokasikan sebagian produksi untuk mengisi ceruk pasar baru.

Adanya potensi ceruk pasar baru itu bisa diartikan seperti bertambahnya kanal penjualan, sehingga memicu industri budidaya ikan khususnya patin dan lele menjadi kian langgeng. Kriteria produk yang diinginkan konsumen antara lain dalam bentuk potongan 100 gram untuk patin, dan potongan tanpa kepala per 100 gram untuk lele.

Adapun syarat memasok pasar timur tengah atau khususnya Arab Saudi adalah budidaya ikan mesti bersih sesuai dengan standardisasi cara budidaya ikan yang baik (CBIB) sesuai dengan aturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Adapun dari segi fisik mesti segar, bebas cemaran mikrobiologi patogenik, dan bebas logam berat. Dari segi organoleptik atau cita rasa pun mesti lolos uji spesifikasi ikan segar. Terpenting ikan tidak bau lumpur.

Jika berhasil lolos serangkaian uji itu pembudidaya dan eksportir bisa memasok kebutuhan patin dan lele untuk pasar timur tengah. Harga jual yang ditawarkan pun lebih bisa 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan pasar dalam negeri.

Harap mafhum, harga tinggi itu juga sesuai dengan risiko pengeriman dan standardidasi yang relatif butuh perlakuan khusus. Antara lain pajak dan biaya pengiriman. Pengiriman produk mesti menggunakan penyimpanan khusus dengan suhu -18oC agar produk kian awet.

Perjalanan menggunakan kapal laut dari Indonesia ke Jeddah, Arab Saudi memakan waktu hingga 2 pekan. Peluang pasar jemaah haji dan umrah itu mesti dioptimalkan eksportir Indonesia.

Tentu dengan menggunakan ikan hasil pembudidaya di Indonesia. Diharapakan efek dominonya menyejahterakan para pelaku yang turut ambil bagian pada industri budidaya ikan. Di antaranya pembudidaya dan karyawan pabrik ikan.

Kolaborasi antar pihak penting demi hasil optimal. Dari sisi pembudidaya mesti menjaga kualitas dan efisiensi sehingga tetap bisa bersaing dengan negara lain. Adapun dukungan pemerintah amat diperlukan baik dari sisi kebijakan dan infrastruktur industri perikanan.

Pasalnya, kebutuhan umrah dan jemaah haji komoditas lain seperti bandeng dan ikan dalam kemasan kaleng tak kalah besar. Kebutuhan kedua produk itu masing-masing mencapai 132 ton untuk memenuhi menu makan jemaah haji dan umrah asal Indonesia.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img