Saturday, February 21, 2026

Asian Waterbird Census 2026 di Jakarta: 83 Anak Muda Sensus Burung Air di Pesisir

Rekomendasi
- Advertisement -

Di tengah tekanan urbanisasi dan degradasi lingkungan pesisir, upaya menjaga keanekaragaman hayati kian mendesak. Menjawab tantangan itu, Biodiversity Warriors ambil bagian dalam Asian Waterbird Census (AWC) 2026 dengan menggelar sensus burung air serentak di tiga kawasan pesisir Jakarta. Ketiga wilayah itu yakni Hutan Lindung Angke Kapuk (HLAK), Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, dan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA).

Kegiatan ini melibatkan Kelompok Pengamat Burung (KPB) Nycticorax Universitas Negeri Jakarta, KPB Nectarinia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Himpunan Mahasiswa Biologi Rafflesia Universitas Islam As-Syafi’iah. Dukungan juga datang dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Mangrove Resort TWA Angke Kapuk, TFCA Sumatera, dan Yayasan Lahan Basah.

Data Sensus Burung Air Jakarta 2026

Pengamatan dilakukan pukul 07.00–17.00 WIB pada 14 Februari 2026. Hasilnya terdapat 38 jenis burung, total 289 individu; 18 jenis di antaranya burung air dengan total 206 individu di HLAK. Nun di TWA Angke Kapuk, para pengamat menemukan 34 jenis burung, total 117 individu; 12 jenis burung air dengan total 54 individu. Sementara di SMMA ditemukan 27 jenis burung, total 126 individu; 13 jenis burung air dengan total 42 individu.

Beberapa jenis burung yang terpantau antara lain blekok sawah (Ardeola speciosa), pecukpadi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecukular asia (Anhinga melanogaster), cangak abu (Ardea cinerea), dan cangak merah (Ardea purpurea).

Burung Air, Indikator Kesehatan Ekosistem

Kawasan pesisir Jakarta memiliki nilai ekologis penting sebagai habitat burung air sekaligus benteng alami dari abrasi dan perubahan iklim. Namun, kawasan ini juga menghadapi pencemaran, alih fungsi lahan, dan aktivitas manusia yang belum berkelanjutan.

Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI, Rika Anggraini, menegaskan pentingnya kegiatan ini.

“Asian Waterbird Census bukan sekadar kegiatan pengamatan burung, tetapi bagian dari mekanisme ilmiah pemantauan ekosistem lahan basah yang dilakukan secara serentak di tingkat global. Data yang dikumpulkan dari kawasan pesisir Jakarta akan berkontribusi pada pembaruan basis data nasional dan regional mengenai populasi burung air, yang sangat penting untuk mendeteksi tren penurunan, perubahan pola migrasi, hingga tekanan terhadap habitat’” tutur Rika.

Peran Generasi Muda dalam Konservasi

Sebanyak 83 peserta muda dari siswa SMA/sederajat dan mahasiswa terjun langsung ke lapangan. Mereka berasal dari Saka Wanabakti Daerah Provinsi DKI Jakarta dan mahasiswa Kelompok Studi Hidupan Liar Comata Universitas Indonesia, serta komunitas lain.

“Melibatkan generasi muda dalam proses ini juga berarti membangun kapasitas sains warga (citizen science) yang kredibel dan berbasis metodologi, sehingga konservasi tidak hanya berbasis kepedulian, tetapi juga berbasis data,” kata Rika.

Mengusung tema “Kenali dan Lindungi Burung Air di Sekitar Kita”, AWC 2026 di Indonesia berlangsung sepanjang Januari–Februari dan mencakup berbagai habitat lahan basah, baik alami maupun buatan. Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan sensus burung air terbesar di Asia yang dilakukan setiap tahun secara serentak.

Melalui pengamatan, pencatatan, dan kolaborasi lintas pihak, Biodiversity Warriors menegaskan bahwa konservasi bukan sekadar melindungi satwa, tetapi menjaga keberlanjutan kehidupan manusia yang bergantung pada ekosistem sehat.


Artikel Terbaru

Norwegian Forest Cat: Si Kucing Hutan Skandinavia yang Gagah, Anggun, dan Pemberani

Norwegian Forest Cat atau kucing norwegia dikenal sebagai kucing hutan dari kawasan Skandinavia yang tangguh, berbulu lebat, dan berwibawa....

More Articles Like This