Maraknya kasus perdagangan ilegal belangkas (horseshoe crab) di berbagai wilayah pesisir Indonesia menjadi alarm serius bagi upaya perlindungan satwa laut purba tersebut. Padahal, belangkas telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi. Dalam salah satu kasus terbaru, ratusan belangkas hasil penindakan aparat berhasil diamankan dan selanjutnya dilepasliarkan kembali ke alam.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), IPB University, Prof. Yusli Wardiatno, menegaskan bahwa penyelamatan satwa tidak berhenti pada proses penyitaan semata. Pelepasliaran harus dirancang secara hati-hati dan berbasis kajian ilmiah agar tidak justru memunculkan persoalan ekologis baru di wilayah pesisir.
“Pelepasliaran belangkas bukan sekadar memindahkan satwa dari tempat penampungan ke laut, tetapi merupakan bagian dari proses konservasi yang harus mempertimbangkan aspek biologis, ekologis, dan teknis secara terpadu,” ujar Yusli seperti yang tercantum dalam siaran pers IPB.
Dari sisi biologis, kondisi individu menjadi faktor utama yang tidak boleh diabaikan. Belangkas yang akan dilepasliarkan harus berada dalam kondisi fisik yang sehat, bebas dari luka serius, infeksi, maupun stres fisiologis berlebihan. Kondisi tersebut sangat menentukan kemampuan satwa untuk bertahan hidup setelah kembali ke habitat alaminya.
“Ukuran tubuh dan fase hidup juga penting diperhatikan. Individu yang masih terlalu kecil atau berada dalam kondisi lemah memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah ketika dilepasliarkan ke lingkungan alami,” tutur Yusli.
Aspek ekologi habitat juga memegang peranan penting. Lokasi pelepasliaran perlu memiliki karakter lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan hidup belangkas. Mulai dari jenis substrat dasar perairan, tingkat salinitas, kedalaman perairan, hingga dinamika arus dan gelombang.
Waktu pelepasliaran pun tidak kalah krusial. Idealnya pelepasliaran disesuaikan dengan kondisi alam serta periode aktivitas alami belangkas di wilayah pesisir agar proses adaptasi dapat berlangsung lebih optimal.
“Pelepasliaran idealnya dilakukan di habitat yang masih relatif baik dan minim gangguan manusia, agar belangkas dapat segera melakukan perilaku alaminya seperti mencari makan, bergerak secara lokal, dan—bagi individu dewasa—berpartisipasi dalam siklus reproduksi,” kata Yusli.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pelepasliaran tidak diukur dari jumlah individu yang dilepas ke alam. Tolok ukurnya yaitu kemampuan belangkas untuk bertahan hidup dan kembali menjalankan fungsi ekologisnya sebagai bagian dari komunitas bentik pesisir.
“Pelepasliaran dalam jumlah besar perlu mempertimbangkan daya dukung ekosistem setempat agar tidak menimbulkan tekanan baru bagi organisme bentik lain yang telah lebih dahulu menempati habitat tersebut,” Ujar Yusli.
Ia juga mengingatkan agar pelepasliaran dilakukan dengan kehati-hatian, terutama jika individu yang dilepasliarkan berasal dari lokasi geografis yang berbeda. Dalam perspektif konservasi modern, pencampuran populasi tanpa kajian ilmiah dapat berdampak pada struktur genetik populasi lokal yang telah beradaptasi secara alami.
Sebagai bagian dari praktik konservasi yang bertanggung jawab, pelepasliaran sebaiknya diikuti dengan pemantauan pascapelepasliaran melalui survei lapangan secara berkala. Pemantauan itu mencakup keberadaan individu di alam, kondisi habitat, hingga indikator keberhasilan jangka menengah dan panjang, seperti aktivitas reproduksi dan kemunculan juvenil.
“Pemantauan pascapelepasliaran merupakan bagian integral dari konservasi. Kegiatan ini perlu dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga konservasi, dan masyarakat pesisir,” ujar Yusli.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa upaya menghentikan perdagangan ilegal belangkas tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan pendekatan jangka panjang yang mengintegrasikan penegakan hukum, edukasi publik, serta dukungan riset ilmiah yang berkelanjutan.
“Masyarakat pesisir perlu diposisikan sebagai mitra konservasi. Dengan pemahaman yang baik tentang nilai ekologis dan status perlindungan belangkas, upaya pelestarian dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” tutur Yusli.
