
Bermetamorfosis. Begitulah penampilan Trubus sejak pertama kali terbit pada Desember 1969. Waktu itu sosoknya lusuh. Maklum saat itu Trubus dicetak berupa stensilan terdiri atas beberapa halaman.


Namun, lihatlah kini: Trubus tampil gemuk dengan 160 halaman dan eksklusif. Semua halaman dicetak berwarna. Ditunjang oleh isi majalah yang selalu aktual menyebabkan Trubus layak menjadi referensi.
Bahasa yang digunakan dalam setiap tulisan di Majalah Trubus memang lugas dan mudah dipahami. Dengan segenap kelebihan itu pantas bila kerja keras kami dapat diterima oleh para pembaca. Penerimaan itu terbukti dari tiras majalah yang senantiasa meningkat secara signifikan.
Pada 1990-an tiras Trubus baru 20.000—30.000 eksemplar. Namun kini tirasnya melambung hingga 72.500 eksemplar.
Riset kami membuktikan, satu eksemplar Trubus dibaca oleh rata-rata 5 orang. Itu menunjukkan pembaca Trubus memang amat luas. Mereka tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, bahkan di mancanegara. Seiring dengan peningkatan oplah majalah, jumlah pemasang iklan juga menunjukkan hal serupa. Mereka, para pemasang iklan, merasakan betul dampak advertorial di majalah pertanian tertua di Indonesia. Seperti halnya makna kata Trubus yang berarti tumbuh, kami terus berkembang untuk menjadi lebih baik.
Trubus majalah pertanian tertua di Indonesia yang terbit sejak Desember 1969. Trubus rutin terbit sebulan sekali mengunjungi para pembacanya yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, bahkan di mancanegara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Itu membuktikan Trubus mampu beradaptasi di berbagai zaman sehingga diterima oleh para pembacanya.
