Monday, August 15, 2022

Bertani dengan Ujung Jari

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Lahan bawang merah tumpang sari bawang putih di Kampung Cikawari, Kabupaten Bandung sudah menggunakan sistem pertanian presisi. (Dok. Trubus)

Sistem pertanian presisi yang meningkatkan produktivitas lahan saat kemarau.

Trubus — Lereng-lereng perbukitan di Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, senyap. Puncak kemarau pada Oktober 2019 itu menyebabkan warga meninggalkan lahan. Mereka gagal panen akibat kekeringan. Sepetak lahan berukuran 0,25 hektare masih hijau oleh tanaman bawang merah varietas batu ijo dan bawang putih lumbu hijau. Itu lahan milik Ujang Margana yang tetap produktif selama musim kemarau.

Sensor tanah dapat mendeteksi kadar nutrisi makro dalam tanah. (Dok. Trubus)

Ujang panen bawang merah pada Januari 2020. Padahal, lahan-lahan di sekitarnya belum ada yang panen. Ia beruntung karena memasang sistem pertanian presisi. Di lahannya terdapat 26 sprinkler, 1 sensor lingkungan, dan 2 sensor tanah yang dilengkapi panel surya. “Jadi kita bisa tahu kalau tanaman kurang nutrisi, kita berikan pupuk,” kata petani berumur 27 tahun itu.

Produktivitas meningkat

Irsan Rajamin, pendiri dan CEO Habibi Garden. (Dok. Trubus)

Peranti modern itu berteknologi internet of things (IoT), sehingga Ujang mudah mengontrol kondisi lahan dan tanamannya. Ia cukup membuka aplikasi dari gawai miliknya. Seketika itu ia mengetahui kondisi kelembapan tanah dan udara, kadar nitrogen tanah, dan cuaca. Atas dasar informasi itu Ujang menentukan langkah budidaya. Fungsi mengatur irigasi otomatis untuk lahannya tersedia pada aplikasi itu.

Lahan milik Ujang menjadi proyek percontohan hasil kerja sama tiga institusi, yakni pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta PT Habibi Digital Nusantara—sering disebut Habibi Garden. Ujang dan kelompok tani Tricipta memiliki lahan bawang merah 50 hektare. Namun, baru 0,25 hektare yang dilengkapi peranti modern itu.

Meski kemarau, Ujang dapat menyiram tanamannya menggunakan air tampungan sesuai kebutuhan bawang. Menurut Ujang pemanfaatan peranti canggih itu meningkatkan produktivitas bawang merah. “Kalau yang tanpa Habibi Garden di luasan 0,25 hektare paling hanya panen 1 kuintal. Kalau dengan Habibi Garden bisa 3 kuintal,” kata pria alumnus Jurusan Administrasi Negara, Universitas Al-Ghifari, Bandung itu.

Sensor lingkungan
Habibi Garden dapat
mendeteksi kondisi
cuaca mikro. (Dok. Trubus)

Menurut Ujang biaya produksi bawang merah dan bawang putih berkurang hingga  Rp5 juta—Rp8 juta terutama untuk tenaga kerja. Keuntungan meningkat 5—10% karena bisa memanen lebih cepat dan hemat waktu. “Sebelum pakai perlengkapan dari Habibi Garden butuh waktu 2—3 hari untuk menyiram lahan, setelah menggunakan Habibi Garden hanya butuh 1 jam,” kata Ujang.

Bukan hanya Ujang yang merasakan kemudahan bertani. Setidaknya 90 petani di tiga provinsi di Indonesia sudah merasakan faedah pertanian presisi. Ada petani cabai di Lampung produksinya meningkat 200% dan petani kentang di Garut (30%). Peranti mutakhir itu dapat dipakai untuk beragam komoditas seperti bawang merah, cabai, tomat dan paprika. (Tamara Yunike)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img