Wednesday, January 28, 2026

Bintaro Local Food Festival 2025: Pangan Lokal sebagai Gerakan Kebudayaan

Rekomendasi
- Advertisement -

16 Oktober 2025- Aroma jamu rempah dan wangi kopi santan khas Blora menyambut pengunjung di area Bintaro Local Food Festival 2025. Sejak pagi, tenda-tenda UMKM pangan lokal sudah ramai. Di antara meja kayu sederhana, tersaji beragam olahan bahan pangan nusantara dari tempe sorgum, keripik sukun, wedang jamu, hingga kopi yang diseduh dengan cara unik: mengganti susu sapi dengan santan kelapa.

Festival yang digelar secara gratis dan terbuka untuk umum ini merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang dan Lewi’s Organic. Tak sekadar pameran kuliner, acara ini menjadi ruang perjumpaan antara petani, akademisi, musisi, dan masyarakat urban yang ingin kembali mengenal kekayaan pangan Indonesia.

Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah kopi santan khas Blora. “Biasanya kita minum kopi pakai susu sapi, tapi di sini kita balik ke bahan alami santan kelapa,” ujar Lewi Cuaca, pendiri Lewi’s Organic, sambil menunjukkan proses penyeduhannya. “Rasa gurih dan lembutnya justru datang dari alam, bukan dari olahan industri. Ini bukti bahwa pangan lokal bisa sekaligus sehat dan berkarakter,” tambahnya.

Lewi menilai, inovasi seperti kopi santan adalah contoh nyata bahwa kemandirian pangan bisa lahir dari kreativitas lokal. Tak hanya soal cita rasa, tetapi juga tentang keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem pertanian.

Di sela kegiatan, Prof. Dr. Ir. Mangku Purnomo, M.Si., Dekan Fakultas Pertanian UB, menyampaikan gagasan besarnya tentang pentingnya menjadikan pangan lokal sebagai gerakan kebudayaan nasional.

“Pertanian bukan hanya sektor ekonomi, tapi bagian dari jati diri bangsa. Kami ingin hasil riset dan inovasi pangan lokal bisa kembali ke masyarakat hadir di dapur, di warung, dan di meja makan keluarga Indonesia,” ujarnya.

Prof. Mangku juga memperkenalkan gagasan “Piagam Bintaro”, sebuah komitmen bersama untuk memperkuat posisi pangan lokal dalam sistem pangan nasional yang berdaulat dan berkelanjutan.

Acara semakin semarak dengan penampilan musisi Trie Utami dan Gilang Ramadhan, musisi yang juga berperan aktif dalam pangan lokal. “Kalau kita bicara pangan, kita bicara kehidupan,” tutur Trie dalam sela penampilannya.

Menjelang sore, tawa pengunjung masih terdengar di antara aroma jamu dan kopi santan yang mengepul. Dari festival ini, tersirat pesan kuat: pangan lokal bukan masa lalu, melainkan masa depan yang tumbuh dari akar budaya bangsa sendiri.

(Naya Maura Denisa)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img