Pacar air baru berbunga tumpuk mirip mawar dan berwarna cerah.
Trubus — Mochamad Rizky Faisal menyangka bunga merah muda itu mawar. Ternyata dugaan warga Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu keliru. Setelah dilihat lebih dekat bunga itu bukan mawar, tapi bunga pacar air Impatiens balsamina. “Lazimnya bunga pacar air kecil dan tidak menyerupai mawar,” kata penggemar tanaman hias itu. Bunga yang dilihat Rizky itu varietas pacar air teranyar yakni PCPK 01 kreasi PT Wira Agro Nusantara Sejahtera di Kediri, Jawa Timur.

Menurut pemulia PCPK 01, Ir. Subandi, tanaman itu berasal dari seleksi hasil persilangan antara galur PCP 1.3.1.5.3.1 dan PCM 1.1.4.1.2.1.2.1. Tanaman mulai berbunga pada 48—52 hari setelah tanam (hst). Adapun panen perdana pada 53—59 hst. Bunga PCPK 01 berdiameter 4,4—7,3 cm dan bermahkota 9—16 helai. Sosok dan bunga PCPK 01 yang lebih besar dan bertumpuk berbeda dibandingkan dengan pacar air lokal.
Inspirasi Bali
Peneliti di Balai PenelitianTanaman Hias (Balithi), Cianjur, Jawa Barat, Dewi Pramanik, S.P., M.Sc., menyatakan, bunga pacar air lokal berdiameter sekitar 3 cm dan bermahkota kurang dari 9 helai. Tinggi tanaman pacar air lokal 30—80 cm, sedangkan PCPK 69,6—116,1 cm. Sementara daun tanaman pacar air hibrida itu 12,3—16,3 cm. Bandingkan dengan panjang rata-rata daun pacar air lokal 6 cm.

Satu tanaman menghasilkan 395—921 bunga pacar air merah muda. Tanaman yang dirilis Kementerian Pertanian pada 2018 itu cocok ditanam di dataran rendah pada musim hujan. “Sebetulnya ada pacar air lokal berbunga tumpuk, tapi warnanya tidak menarik,” kata Bandi, sapaan akrab Ir. Subandi. Ia memerlukan minimal dua tahun untuk menghasilkan varietas pacar air anyar dari tanaman induk lokal.
Sejatinya PCPK 01 salah satu varietas pacar air kreasi Bandi. Pria kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur, itu juga memiliki bunga pacar air berwarna ungu (varietas PCU 01). Tanaman itu seleksi hasil persilangan antara galur PC.LK.PK.01 dan PCM 1.1.4.1.2.1.2.1. Tanaman yang dirilis Kementerian Pertanian pada 2018 itu pun bebunga besar dengan diameter 4,5—5,7 cm dan berpotensi produksi tinggi 8,2—17,4 ton bunga per hektare. Satu tanaman menghasilkan 196—578 bunga.

Sebelumnya Kementerian Pertanian juga merilis pacar air lain produk Bandi yakni PCP 01 dan PCM 01 pada 2017. PCP 01 berwarna putih, sedangkan PCM 01 berkelir merah. Kedua varietas itu pun berbunga tumpuk. “Pasar langsung menerima pacar air saya karena bunganya bertumpuk dan warnanya beragam,” kata alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jember, Jawa Timur, itu. Bandi memasarkan pacar air miliknya kepada seorang distributor di Bali.
Inspirasi mengembangkan tanaman anggota famili Balsaminaceae itu berasal dari kunjungan ke Pulau Dewata pada 2001. Saat itu ia menyaksikan banyak pacar air di Bali. Informasi dari toko pertanian di sana menyatakan, pacar air kebutuhan masyarakat Bali untuk keperluan upacara agama. Bandi baru merakit pacar air lokal pada 2008. “Saya fokus membikin pacar air karena berharga lebih murah, tapi produktivitasnya banyak. Selain itu, pacar air cepat panen serta berbunga kompak dan serempak,” kata pria berumur 47 tahun itu.

Berbeda dengan mawar yang berumur panjang dan produksinya hanya sekuntum per tanaman. Bandi berharap pacar air kreasinya menjadi pilihan alternatif masyarakat Bali untuk memenuhi keperluan upacara agama. Ia menjual benih pacar air dalam kemasan variatif, yakni terkecil 5 gram hingga 25 gram. Masing-masing kemasan terjual sekitar 500 pak setiap bulan. Kemasan 25 gram yang paling laku.
Menurut Dewi Impatiens satu-satunya genus dalam famili Balsaminaceae yang bernilai ekonomi. Terdapat sekitar 850 jenis Impatiens di dunia. Indonesia memiliki sekitar 50 jenis yang tersebar di Jawa sebanyak 10 jenis, sedangkan sisanya di Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Sembilan di antara genus itu berpotensi sebagai tanaman hias lantaran berbentuk daun mahkota unik dan berwarna seronok. Kini Bandi mengembangkan pacar air berwarna ungu muda yang berencana dirilis pada 2021. Pilihan warna itu sesuai dengan permintaan konsumen. (Riefza Vebriansyah)
