Monday, January 26, 2026

Caladium Naik Daun

Rekomendasi
- Advertisement -

Popularitas caladium menanjak. Para pehobi memburu daun elok itu.

Para pehobi di berbagai kota memburu caladium new thai series. Harap mafhum daun caladium itu amat elok, yakni paduan tiga warna antara hijau tua dengan bagian dalam berwarna merah muda dan bintik putih di sepanjang daun. Daun utama selebar 8—12 cm. Anak daun selebar 5—7 cm. Namanya caladium new thai series, termasuk keladi double leaf alias berdaun ganda.

Caladium daun ganda hasil silangan Dena Sukardi yang belum diberi nama.

Mereka berlomba-lomba mengoleksi keladi daun ganda karena masih langka. Penangkar caladium new thai series Dena Sukardi. Ia hanya sanggup melayani permintaan 7—8 tanaman per bulan. Penangkar di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu membanderol new thai series berumur tiga bulan Rp500.000 per tanaman. Keladi baru itu unik karena sebuah tangkai menopang dua daun.

Makin tren

Ukuran daun pertama new thai series lebih lebar. Daun kedua lebih kecil hadir di tangkai mampu menutupi kekurangan keladi. Keladi pun terlihat unik dengan kehadiran daun kecil itu. Persentase kemunculan warna daun pada keturunannya pun belum bisa diprediksi. Warna daun new thai series akan terus berubah hingga berumur 2 tahun. Setelah itu warna daun akan stabil. “Langka dan sulit untuk membudidayakan keladi double leaf,” kata Dena.

Selain itu pehobi juga mengincar keladi tanpa nama yang memiliki warna seperti semangka juga hasil silangan Dena. Penangkar kelahiran 8 September 1981 itu belum memberi nama untuk caladium silangannya.

Caladium mangkuk new thai koleksi Djojohadi Haristiono Eko Putro.

Warna daun merah muda dengan tulang daun merah. Semburat putih di bagian dalam daun serta warna hijau tua di sekeliling mulut daun menambah kesan tegas pada keladi belum bernama itu. Ukuran daun utama 7—13 cm. Adapun anak daun yang berada di tangkai selebar 3—4 cm.

Caladium tida sawan memiliki daun tebal dan mengkilap seperti daun plastik.

Tangkai setinggi 8—12 cm menopang daun. Hasil silangan kedua berdaun keperakan dengan tipe batang sedikit menjalar. Caladium itu memiliki 8 tangkai yang menopang lebih dari 15 daun. “Meskipun masih kecil, keladi ini termasuk yang cepat pertumbuhannya,” ujar Madeng—sapaan Dena. Daun utama memiliki lebar 5—8 cm, sedangkan anak daun selebar 2—3 cm.

Dua tahun terakhir caladium makin naik daun. Tanaman hias daun itu mencuri hati para pehobi. Buktinya permintaan caladium melonjak drastis. Dena melayani permintaan domestik rata-rata 10 pot caladium per bulan. Padahal, sebelum 2016 ia hanya memenuhi permintaan 2—3 tanaman per bulan. Lonjakan permintaan itu seiring dengan produksi para penangkar di berbagai daerah seperti Bogor, Jawa Barat, Semarang, Jawa Tengah, dan Malang, Jawa Timur.

Menurut Madeng harga jenis biasa atau lama hanya Rp50.000—Rp200.000 untuk anakan terdiri atas 5—6 daun. Namun, bila jenis baru yang gencar dicari, maka harganya bisa mencapai Rp500.000 per tanaman terdiri atas 3—4 daun. Bahkan harga keladi yang hanya ada satu di Indonesia seperti jenis kujang mencapai Rp10 juta per tanaman terdiri atas tiga daun.

Caladium new thai berdaun ganda hasil tangkaran Dena Sukardi.

Penangkar di Semarang, Jawa Tengah, Wawan Santoso menuturkan, permintaan caladium memang melonjak. Sejak awal 2018 ia rata-rata menjual 15—20 tanaman per bulan. Sebelumnya paling banter hanya menjual 3—5 tanaman per bulan. Para pehobi meminta caladium jenis new thai series, hot chocolate, dan beberapa jenis daun ganda.

Caladium makin diburu.

Bahkan permintaanya tidak hanya datang dari dalam negeri. Pehobi dari mancanegara seperti Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan negara-negara di Eropa pun kerap membeli keladi. Madeng melayani permintaan hingga 15 tanaman untuk para pehobi di mancanegara per bulan. Mereka meminta jenis mangkuk, daun ganda, dan keladi berdaun lebar. Selain itu kontes juga kian sering. Pada 2018 tercatat dua kali kontes. Peserta pun membeludak. Kontes terakhir pada Juli 2018 tercatat 120 peserta yang beradu molek.

Caladium mancanegara

Sejatinya tidak hanya daun ganda yang sedang tren pada 2018. Caladium berdaun tunggal juga masih mendapat tempat. Pehobi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Djojohadi Haristiono Eko Putro, membuat rumah tanam khusus untuk merawat caladium berdaun tunggal koleksinya seperti jenis mangkuk. Tekstur daun lebih tebal dan kaku dari jenis lainnya. Bentuk daunnya pun lebih bulat seperti anthurium.

Caladium tida sawan menjadi kesayangan Djojohadi. Ayah 4 anak itu mengagumi sosoknya yang cantik, kombinasi warna merah hitam yang kontras. Tangkai hitam dan daun kokoh. Keistimewaan lain, daunnya lebat dan kompak. “Untuk mendapatkan jenis seperti ini—warna memikat, sosok vigor, butuh waktu lama,” katanya. Tida sawan hasil persilangan 5 kali selama 5 tahun.

Para pemain menduga, ramainya perniagaan caladium dipicu oleh tren aglaonema sejak 2 tahun terakhir. “Corak dan warna keladi tidak kalah menarik dibandingkan dengan aglaonema. Harganya pun relatif terjangkau,” kata Djojohadi yang hobi sejak 2013 itu. Kehadiran kerabat alokasia asal Thailand dan Florida, Amerika Serikat, pun turut andil meramaikan caladium.

Caladium kuning dengan semburat hitam di pangkal daun.

Keladi-keladi impor itu memperkaya corak dan warna keladi di tanah air. Tak hanya bermotif hijau dengan bintik merah dan putih seperti jenis lokal, tapi ada yang merah pekat, merah kecokelatan, hijau berpadu merah muda, dan banyak lagi. Pantas konsumen pun jatuh hati. Djojohadi semula hanya sekadar hobi menyilangkan keladi miliknya. Ia memperbanyak caladium dengan menyilangkan dua jenis tanaman melalui bunga, bukan mencacah umbi.

Keladi memiliki keunikan warna dan bentuk tersendiri, sehingga sebuah tantangan untuk mengoleksi dan menyilangkannya. “Caladium itu unik. Satu jenis yang ditanam, anakan yang muncul bervariasi corak warnanya,” kata pengusaha pengeboran minyak itu. Ketika kini caladium tren, sebaran pehobi di berbagai daerah mengindikasikan bahwa caladium makin tren di berbagai wilayah. Di Banjarnegara, Jawa Tengah, Yanti Nur Eka keranjingan keladi sejak setahun silam.

Djojohadi Haristiono Eko Putro (kanan) dan Dena Sukardi (tengah), pehobi caladium di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Di kediamannya ia mengoleksi beberapa pot sebagai penghias halaman. “Rasa penat selepas bertugas seperti hilang ketika memandang keladi,” ujar ibu 2 anak itu. Agus Surya di Semarang, Jawa Tengah, lebih memilih untuk mengoleksi keladi jenis lokal. “Ternyata yang lokal juga beragam warna, saya jadi kepincut,” ujarnya. Siapa mengira tanaman yang semula diabaikan kini tengah menapak jalan menuju popularitas.

Keladi impor atau lokal kini sama-sama tengah menjadi incaran sama seperti pada tahun 2008, saat ratu daun menjadi rebutan semua kalangan. Bahkan menurut Djojohadi dan Madeng, popularitas kerabat talas-talasan itu akan bertahan hingga 5 tahun ke depan. (Tiffani Dias Anggraeni)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img