Monday, August 8, 2022

Di Kerinci Seblat Ada Kepala Ular

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Wajar bila mereka begitu bersuka cita ketika menemukan aristolochioides. Ia salah satu nepenthes yang penampilannya paling unik-mirip kepala ular kobra-dan jumlahnya sangat langka di alam. Untuk menuju lokasi ketakung yang pertama kali ditemukan oleh Prof Willem Meijer pada 1956-ahli Rafflesia di Jerman-itu bukan perkara mudah.

Pada hari pertama, nyali Alfin, Apriza, dan Stewart sempat ciut oleh jejak kaki harimau loreng sumatera yang ditemui berikut kotorannya. ‘Harimau baru lewat sekitar 12 jam lalu,’ kata Alfin mengulangi penjelasan sang pemandu. Maklum, lokasi tersebut habitat Panthera tigris sumatrensis. Kendala lain, pacet. Berulang kali rombongan harus berhenti sejenak untuk menyingkirkan lintah yang menempel di kaki. ‘Saya pernah ekspedisi ke Papua dan daerah Sumatera lain, tapi di sini (Taman Naional Kerinci Seblat, red) paling banyak pacetnya,’ tutur Alfin.

Langka

Setelah perjalanan selama 2 hari satu malam, akhirnya sosok aristolochioides itu pun muncul. Ia tumbuh sekitar 10 m dari danau pada ketinggian lebih dari 2.000 m dpl. ‘Ada sekitar 7 tanaman dewasa yang dijumpai dalam radius 50 m,’ ujar Suska, praktikus tanaman hias di Bogor. Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan waktu sang pemandu lihat pada Januari 2007. Saat itu masih terlihat belasan aristolochioides.

Adrian, hobiis di Kudus, Jawa Tengah, menjumpai 4-5 aristolochioides di ketinggian 1.900-2.200 m dpl. Di sana ia tumbuh bersama N. singalana, N. pectinata, dan N. spathulata. Populasi aristolochioides di alam yang kian menurun juga diamini Stewart. ‘Bahkan ada satu lokasi yang kini tinggal tersisa satu tanaman saja,’ kata hobiis asal Inggris itu. Padahal menurut Alfin, Charles Clarke, penulis buku Nepenthes of Borneo, masih melihat belasan aristolochioides di lokasi tersebut pada 1993.

Kian sedikitnya populasi aristolochioides di alam itu lantaran penjarahan yang dilakukan turis asing dan lokal. Tak heran bila kini ketakung itu termasuk tanaman yang kondisinya kritis. Anggota famili Nepenthaceae itu masuk dalam daftar merah spesies langka International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) 2006.

Terlihat di Sri Lanka

Aristolochioides memang patut jadi incaran. Bentuk kantong nepenthes yang tumbuh merambat dan memanjat itu khas dan unik. Panjang kantong 8-10 cm. Kantong aristolochioides pada batang memanjat biasanya berwarna putih gading dengan bercak ungu. Sedangkan pinggiran dan permukaan bibir bawah berwarna merah gelap. Bentuk daun spesies asal sumatera itu mirip N. bongso, ujung daun seperti perisai.

Dalam mekanisme menjebak mangsa, kantong atas N. aristolochioides mirip Darlingtonia californica atau Sarracenia psittacina. Mulut depan digelapkan oleh tutup dan bibir berwarna merah tua. Dengan begitu serangga kecil tertarik dengan cahaya yang bersinar melalui bagian kantong yang berfungsi seperti jendela berwarna kuning gading. Serangga lalu masuk dari mulut yang berwarna gelap ke bagian dalam kantong yang berkilauan. Begitu masuk ke dalam kantong, serangga tak bisa menemukan jalan kembali karena jalan masuk yang gelap. Pada akhirnya ia kelelahan dan jatuh ke cairan yang ada di dasar kantong.

Kini nepenthes endemik Sumatera itu sudah banyak dibudidayakan di nurseri-nurseri. Contohnya Borneo Exotics di Nuwara Eliya, Sri Lanka. Trubus melihat sekitar 3-5 pot aristolochioides bermedia sphagnum moss di greenhouse di nurseri berketinggian 1.500 m dpl itu. Nun di Australia, nurseri Exotica Plants dan Captive Exotics juga memperbanyak entuyut itu.

Dua nurseri yang disebut terakhir terletak di dataran menengah, sekitar 600 m dpl. Namun, mereka memiliki greenhouse yang suhunya didesain sesuai habitat nepenthes dataran tinggi. Hibridanya seperti N. truncata x N. aristolochioides, N. spectabilis x N. aristolochioides, dan N. ventricosa x N. aristolochioides jauh lebih mudah dirawat.

Nurseri Suska yang terletak di ketinggian sekitar 400 m dpl memelihara 2 pot hibrida: N. thorelli x N. aristolochioides dan N. bellii x (N. thorelli x N. aristolochioides). Perawatan kedua hibrida itu sama seperti nepenthes lain. Digantung di bambu setinggi 160 cm di bawah naungan plastik UV dan shading net 65%. Hasilnya kedua nepenthes itu tumbuh subur dan tampil menarik dengan kantong berwarna merah bercak keunguan.

Di sana hibrida aristolochioides itu setiap bulan mengeluarkan kantong. Bedanya, saat melihat kantong baru itu Suska tidak berjoget, seperti yang dilakukannya dengan Alfin dan Stewart di atas gunung tempat harimau sumatera berkeliaran. (Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img