Pot hias dan sukulen unik mendatangkan omzet puluhan juta rupiah per bulan.
Agustinus Glen Calvin merintis Bellaspina sejak 2015.
Trubus — Augustinus Glen Calvin, S.H. menyodorkan sansevieria mungil berdaun 3 setinggi 6 cm dalam pot setinggi 10 cm. “Coba lihat ini,” kata pemilik etalase tanaman hias di Yogyakarta itu. Tidak hanya tanamannya yang unik, pot gerabah itu pun tampil cantik dengan motif polkadot di atas warna dasar hitam. Glen lantas menunjukkan berbagai tanaman lain di pot-pot lain yang tak kalah cantik. Kaktus, haworthia, atau tilandsia berukuran mini terpajang apik dan layak menjadi hiasan unik.
Pot dekoratif dan tanaman unik itu menjadi andalan Bellaspina, nama etalase tanaman hias itu. Ia membanderol aneka pot unik itu Rp15.00—Rp350.000 per pot tanaman. Harga itu sangat terjangkau. Maklum, “Pasar kami mahasiswa dan ibu rumah tangga,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu. Glen dan timnya juga merangkai tanaman dalam pot (potskaping) atau dalam wadah kaca (terarium).
Pot lukis
Glen kerap menggelar lokakarya perawatan atau cara merangkai tanaman. Tidak hanya itu, Bellaspina juga terikat kontrak dengan beberapa kafe di Yogyakarta yang menjadikan tanaman hias sebagai dekorasi. Mereka bertanggung jawab menjaga keindahan tanaman di sana. Meski sepintas nilainya “receh”, sentuhan dekoratif ala Bellaspina menjadikan produk mereka digemari pelanggan. Omzet bulanan gerai mungil itu tidak bisa dianggap remeh, berkisar Rp40 juta—Rp70 juta.
Bellaspina lahir tanpa sengaja. Suatu hari, seorang pembeli di toko kelontong milik orang tua Glen tertarik dengan tanaman hias yang dipajang ibunya. Sang pembeli ingin membeli kaktus, yang tidak mereka jual. Anak ketiga dari empat bersaudara itu melihat peluang. Bermodal tabungan Rp2 juta, ia memajang berbagai jenis kaktus. Berikutnya istri Glen, Yustesia Nurcahyaningrum, turun tangan.
Gemas melihat pot gerabah polos dengan warna terakota yang lugu, Yustesia berinisiatif memberi warna. Belum puas, Tesa—panggilan Yustesia—menambahkan berbagai corak unik. Bahkan ia masih gemas meski, “Saat ini kami mempunyai 40 corak pot gerabah,” kata Glen. Lukisan pot gerabah itulah yang melambungkan Bellaspina sejak 2015. Pot yang mereka lukis paling kecil berdiameter 3 cm sampai paling besar 40 cm.
Kreasi Bellaspina tampil beda dengan media tanam berwarna.
Selain untuk dijual, pot-pot itu juga mereka jadikan komponen tanaman unik. Karya terarium atau potskap mereka titipkan di beberapa mal di Yogyakarta serta gerai marketplace yang mendatangi mereka sebelumnya. Mereka memanfaatkan media sosial, laman daring, dan aplikasi percakapan untuk berhubungan interaktif dengan konsumen.
Pada 2018, mereka mulai mengadakan pelatihan berdasarkan permintaan. “Yang meminta pelatihan antara lain sekolah, komunitas mahasiswa, instansi, bahkan kafe,” ungkap ayah 1 anak itu. Laman daring itu bahkan menarik minat pehobi mancanegara.
Banyak ditiru
Tanaman hias dalam pot dekoratif karya Bellaspina.
Tantangan pengembangan bisnis sangat Glen rasakan. Apalagi di Yogyakarta komoditas dekoratif atau ornamental tidak menjadi prioritas. Itu sebabnya pria berusia 28 tahun itu berusaha berbeda dengan pebisnis lain yang menawarkan komoditas serupa. Ketika memulai 4 tahun lalu, di Yogyakarta baru ada sekitar 10 akun daring yang berbisnis tanaman hias termasuk Glen. “Sekarang ada 200 akun. Begitu saya membuat kreasi baru, lainnya langsung meniru,” katanya.
Media sosial yang melampaui sekat daerah membuat penjual tanaman hias di daerah lain cepat meniru karya Bellaspina dan mendulang hasil lebih banyak. “Teman-teman di sekitar ibu kota mendapat hasil berkali-kali lipat karena volume pasar dan daya beli di sana lebih besar. Tapi tidak apa-apa, rezeki tidak akan tertukar,” kata Glen. Mereka melebarkan cakupan dengan membuat suvenir pernikahan, yang justru laku.
Glen menyatakan pernah mengirim suvenir ke daerah yang jauh, seperti Aceh, Maluku, atau Papua. Ia juga kerap membawa Bellaspina mengikuti pameran di Yogyakarta dan sekitarnya, termasuk beberapa kali ke Jakarta. Lazimnya bisnis, penjualan tanaman hias juga mengalami masa surut. Ia merasakan penjualan anjlok lebih dari separuh sejak memasuki 2019. “Mungkin terkait politik,” katanya menebak.
Sudah begitu sejak beberapa bulan lalu, jalan menuju lokasi Bellaspina diperbaiki sehingga pembeli kesulitan datang. Glen ingin mempertahankan pasar. Oleh karena itu, ia memperbanyak unggahan di media sosial dan konsisten meluncurkan aksen baru berdasarkan berbagai rujukan. (Argohartono Arie Raharjo)