
Anggrek vanda kembali menjadi buruan pehobi dengan hadirnya berbagai varian baru.
Puluhan anggrek vanda berbunga ungu, cokelat, merah, jingga, dan kuning dengan berbagai motif terpampang indah di stan Centra Anggrek pada pameran Flora dan Fauna 2015 di Jakarta. Itulah anggrek vanda varian terbaru yang didatangkan Amay, pemilik Centra Anggrek, 2—3 tahun terakhir. “Setidaknya ada 15 varian baru yang saya datangkan dari Thailand,” ujarnya.
Amay menuturkan vanda varian baru menampilkan warna-warna yang sebelumnya tidak ada di pasaran. “Dahulu warna bunga yang dominan pada anggrek vanda adalah ungu, biru, dan merah,” ujarnya. Kini varian warna bunga jenis anggrek itu makin bertambah, seperti cokelat, jingga, dan kuning.

Varian baru
Menurut Dedek Setia Santoso, pehobi dan pemilik nurseri anggrek di Kota Batu, Jawa Timur, pehobi anggrek di Indonesia lebih suka vanda yang berwarna bunga mencolok, seperti merah, jingga, dan kuning. “Berbeda dengan pehobi asal Asia timur seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok yang lebih menyukai warna kalem, seperti ungu dan biru,” katanya.
Salah satu varian baru yang menarik adalah Ascosenda phaioof yipsuon wah. Varian ini berwarna dasar cokelat kekuningan dengan motif titik-titik berwarna merah. “Varian ini adalah salah satu jenis yang paling diminati konsumen,” kata Amay. Varian lain yang tak kalah menarik adalah Ascosenda kalaudee fragrance yang berwarna bunga merah muda. Salah satu daya tariknya adalah motif bintik berwarna ungu yang khas pada bunga.
Adapun jenis noppern orange rozzy bunganya berwarna jingga polos. Namun, ukuran bunga relatif lebih kecil dibandingkan dengan varian lainnya. “Bunga berwarna jingga termasuk varian warna baru,” kata Amay. Varian golden dream juga mencuri perhatian dengan warna bunga kuning cerah. Pada bagian kelopak bunga bagian dalam terdapat motif titik-titik yang menambah nilai estetika tanaman anggota famili Orchidaceae itu.
Varian baru yang tak kalah menawan adalah jenis sandeviana. Uniknya, warna mahkota bunga bagian atas dan bagian bawah sandeviana berbeda. Mahkota bagian atas berwarna ungu muda dan bagian bawah ungu tua. Varian lain yang mirip sandeviana adalah garnet beauty. Mahkota bagian atas berwarna merah muda terang dan bagian bawah merah muda yang relatif lebih gelap. Pada garnet beauty juga terdapat motif titik-titik abstrak.

Perawatan mudah
Menurut Amay kehadiran varian vanda-vanda baru ternyata disambut baik para pehobi. “Mungkin para pencinta anggrek sudah kangen dengan vanda varian baru sehingga respon pasar bagus,” kata Amay. Padahal, menurut Dedek harga vanda biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan anggrek jenis lain. “Itu karena vanda perlu waktu relatif lama untuk membungakannya,” ujarnya.
Perempuan asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu mengatakan sebenarnya anggrek vanda adalah tanaman asli Indonesia. Namun, di Thailand vanda diperbanyak dan dikawinsilangkan sehingga variannya semakin beragam. Dedek menambahkan di Negeri Gajah Putih vanda diproduksi massal. “Oleh sebab itu harganya bisa lebih terjangkau sehingga cocok untuk pehobi menengah ke bawah,” katanya.
Meski demikian, anggrek vanda silangan lokal pun tak kalah menawan. “Vanda hasil silangan lokal pun ada kelas ekslusif yang harganya bisa 10 kali lipat bahkan lebih dibandingkan dengan harga vanda impor,” paparnya. Amay mendatangkan vanda yang memasuki umur menjelang berbunga. “Jadi disini tinggal membungakannya,” katanya. Ia tidak membeli anakan atau klon karena perlu waktu lama hingga fase pembungaan.
Amay menuturkan setidaknya membutuhkan waktu 5 tahun dari bibit dalam botol hingga vanda siap berbunga. Menurut pembudidaya anggrek sejak 1998 itu vanda adalah salah satu anggrek yang cocok dipelihara oleh pehobi karena lebih mudah perawatannya dibandingkan dengan anggrek jenis lain. “Vanda tidak memerlukan media tanam seperti tanah. Jadi lebih praktis dalam penempatannya,” paparnya.
Vanda juga dapat dibudidayakan di lahan sempit, tidak mudah mati, dan jarang terkena hama dan penyakit tanaman. “Vanda cenderung memerlukan intensitas cahaya matahari hingga 50%, tapi tetap harus menggunakan naungan,” kata Amay. Ia menambahkan vanda juga tanaman yang cukup kuat meskipun diguyur oleh air hujan.

Disiplin
Bagaimana cara membungakan vanda? Menurut Rendi Nugraha, pengelola kebun Centra Anggrek, untuk membungakan vanda perlu kedisiplinan. Contohnya penyiraman dan pemupukan. “Penyiraman butuh 2—3 kali sehari. Jika sedang berbunga jangan sampai bunga terkena air siraman,” katanya. Vanda memerlukan penyiraman lebih rutin karena tanaman menggantung di udara tanpa media tanam.
Rendi menyarankan pemupukan sebaiknya minimal seminggu sekali dengan pupuk cair yang disemprotkan menggunakan sprayer. “Pupuk yang digunakan adalah NPK cair. Semua merek pupuk bagus, yang penting harus diperhatikan dosisnya,” papar Rendi. Untuk fase vegetatif Rendi menyarankan dosis NPK yang seimbang agar pertumbuhan batang dan daun seimbang.
“Setelah pertumbuhan tanaman terlihat baik baru berikan pupuk berkadar fosfor dan kalium lebih tinggi untuk pembungaan,” kata Rendi. Jika perawatannya baik, vanda bisa berbunga 2—3 kali dalam setahun. “Daya tahan bunga berbeda di tiap tempat, tergantung iklim. Jika kondisi iklim seperti di Jakarta mungkin hanya bertahan 2—3 pekan. Namun, jika di daerah dingin seperti di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, bisa hingga 1—2 bulan,” kata Amay. (Muhamad Fajar Ramadhan)
