Kustini sempat masygul ketika hasil panen kakao di kebunnya merosot tajam. Dari sebelumnya mampu menghasilkan 1–2 kuintal, panen menyusut menjadi hanya sekitar 50 kilogram kakao basah per musim. Buah kakao yang seharusnya montok dan berwarna cokelat tua justru menghitam dan membusuk sebelum sempat dipanen.
Serangan hama dan penyakit seperti busuk buah serta serangga pengisap Helopeltis sp. menjadi momok yang terus menghantui kebun kakao milik warga Desa Bogorejo, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung itu. Kondisi tersebut berlangsung selama tiga tahun sejak 2017.
Tanaman Theobroma cacao yang ia rawat sejak awal 2000-an tak lagi mampu dipulihkan. Batang tua melemah, pembungaan minim, dan sebagian pohon mati perlahan. Dari total 450 pohon di lahan seluas 0,5 hektare, banyak yang tidak lagi menghasilkan buah. “Banyak yang kosong buahnya, saya hampir menyerah,” ujar Kustini.
Padahal, di awal menanam kakao, Kustini cukup optimistis. Panen perdana memang hanya sekitar 20 kilogram, namun perawatan yang relatif mudah dan harga yang stabil membuat kakao menjadi sumber penghasilan keluarga. Seiring waktu, produktivitas meningkat hingga akhirnya kembali merosot akibat serangan hama dan penyakit yang kian parah.
Situasi semakin berat ketika usaha pembibitan kakao rumahan yang ia rintis mengalami penurunan permintaan pada 2019. Bibit menumpuk, panen menurun, dan pandemi memperburuk keadaan. Namun, justru dari titik terendah itulah muncul keputusan besar: merombak seluruh kebun kakao.
Kustini memilih menanam ulang menggunakan klon unggul MCC 02. Ia menyambung sendiri bibit dengan batang bawah lokal yang kuat dan pucuk MCC 02. “Kalau sudah jelek tiga tahun berturut-turut, harus berani ambil keputusan,” katanya.
Klon MCC 02 dikenal memiliki biji besar, produksi stabil, serta lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit dibandingkan varietas lokal. Dengan bekal pelatihan dan pengalaman, Kustini menanam ulang kebunnya dari nol dan menerapkan standar budi daya yang lebih baik.
