
Bunga hoya pendatang baru, warna seronok dan beraroma harum tahan hingga tujuh hari.
Perempuan itu berdiri termangu di dekat Hoya mindorensis merah yang berbunga lebat. Sebanyak 25—30 bunga bergerombol di sebuah dompolan. “Ya Tuhan, cantik sekali,” seru perempuan itu. Paduan warna merah, merah muda, dan putih amat seronok. Nantinya bunga putih berangsur menjadi merah muda bila makin tua. Makanya bunga bola itu dijuluki si bunglon.

Mindorensis merah salah satu koleksi anyar Shintarini Aliwarga. Pehobi hoya di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu memperoleh mindorensis pada Desember 2017. Wanita paruh baya itu berburu hoya ke Thailand dan Filipina. Di Kota Antipolo, Provinsi Rizal, Filipina, ia menemukan mindorensis yang berbulu lebat. Bunga bermekaran dan beraroma wangi. Keruan saja Shintarini jatuh hati pada mindorensis.

Jenis beragam
Aroma harum bunga mindorensis itu mampu bertahan hingga 7 hari. Berada di dekat mindorensis seperti tengah beraroma terapi. Sudah begitu varian mindorensis pun banyak, ada yang berbunga merah dan merah muda. Shintarini mendatangkan total 20 jenis hoya baru. “Yang paling saya sukai patella pink karena bunganya sangat cantik dan besar,” tutur pemilik Nurseri Hoya Moon itu.

Bunga patella pink berwarna merah muda berhias petal merah menyala pada bagian tengah. Hoya itu berbeda dari yang lain karena mahkota terbuka ke belakang. Setiap bunga berdiameter 8—11 cm. Koleksi lain berupa bunga superjumbo. Diameter satu kuntum mencapai 10 cm, padahal umumnya 3—5 cm. Ia makin istimewa lantaran rajin berbunga dalam jumlah banyak. Bentuk bunga mirip bintang mini berpadu dengan warna kuning menyala dengan semburat merah muda di kelopak dan bagian tengah.

Selama ini hoya kuning memang menjadi impian banyak pehobi. Sebab, hoya berwarna kuning masih jarang. Hoya yang memenuhi kedua standar itu, berwarna kuning dan berukuran besar, adalah benvergarai asal Filipina. “Jika hoya kuning sudah muncul pamornya akan setara dengan bunga lain,” ujar Shintarini yang mengoleksi Hoya benvergarai.

Itu yang membuat Shintarini memboyong hoya berwarna kuning ke tanah air pada pengujung Desember 2017. Kini nenek dua cucu itu mengoleksi lebih dari 200 jenis hoya. Shintarini memiliki minimal 5—6 tanaman untuk setiap jenis hoya sehingga total koleksinya mencapai ribuan tanaman.

Nun di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, bermunculan pehobi-pehobi yang khusus menyediakan hoya berbunga indah dan tidak lazim. Sekadar menyebut beberapa pehobi Rika Sari, Hermawan Tian, Chaterine Ningrum Wijaya, dan Zan. Zan mendapatkan hoya koleksi pertamanya saat sedang berjalan-jalan di sebuah hutan di Kalimantan. Bola bunga itu adalah Hoya sp. balapulang.

Mahkota berukuran 2—4 cm itu penuh dengan motif warna, yakni paduan merah muda, merah, dan jingga. Kombinasi warna itu membuat penampilannya kian mewah. Bunga mekar dan mampu bertahan 3—5 hari. “Salah satu nilai plus yakni mudah perawatan lantaran sifat tahan bantingnya. Selain itu, bunga yang indah juga jadi daya tarik,” tutur pria 35 tahun itu. Menurut Zan pasar hoya kini makin luas.

Para penjual bukan hanya menyasar kaum perempuan, tetapi juga para pria. Selain itu hoya memiliki beragam kelebihan sehingga para penggemar optimis tren hoya bakal ramai. Oleh karena itu, mereka berusaha mengisi seluruh pangsa pasar. Selama ini pasar hoya terkesan eksklusif lantaran harga tinggi. Namun, pada 2018 para pekebun bakal melayani seluruh kelas konsumen. “Nantinya saya berharap harga bisa ditekan Rp50.000— Rp300.000 per pot,” ujar Zan.

Maklum setiap penjual mempunyai hoya andalan bermotif unik. Sebut saja Shintarini yang mengandalkan Hoya elliptica yang unik. Seluruh mahkota berwarna merah putih dengan bentuk mahkota yang memanjang dan menonjol, beda dari jenis lain. Tepi petal yang agak ikal dan tumpuk tiga membuat elliptica kian memikat. Dengan penampilan seperti itu ia mencuri perhatian bila sedang mekar. (Tiffani Dias Anggraeni)
