Itu berbeda dengan suasana 2 tahun silam. Ketika itu hijaunya rumput di tengah taman kota sangat sulit ditemui. ?Dulu setiap 6 bulan sekali rumput taman mesti dibongkar-pasang. Perawatan pun menjadi lebih sulit,? kata Sungkana SP, pengelola taman-taman yang tersebar di Sleman. Bongkar-pasang rumput dilakukan karena struktur tanah mengeras.
Setiap bongkar-pasang, Sungkana menambahkan 2 m3 kompos pada tanah seluas 10 m2 dengan ketebalan 15 cm. Kompos dipilih karena bahan organik itu memperbaiki kesuburan tanah. Sayang, pemakaian kompos secara tunggal dengan dosis itu tak mampu menopang kehidupan rumput lebih dari 6 bulan. Itu karena taman yang dibuat di tengah kota tanahnya berasal dari tanah urugan.
Kini sejak setahun terakhir bongkar-pasang tak dilakukan lagi. Sungkana menggunakan soil conditioner alias kondisioner tanah sebagai campuran media tanah. Ia mencampur 1 kg kondisioner tanah -berbahan copolymer asam acrylamide dan acrylic – untuk tanah seluas 2 m2 . ?Rumput bisa tumbuh prima selama 2 tahun,? ujarnya. Sungkana pun menyiram taman hanya 2 hari sekali, lazimnya 2 kali sehari. Karena itu hijaunya rumput tak terganggu walau kemarau datang.
Soil conditioner
Menurut Yos Sutiyoso, praktikus pertanian di Jakarta, kondisioner tanah ialah bahan yang mampu membuat kondisi tanah atau media menjadi lebih baik. Umumnya sifat tanah yang diperbaiki meliputi: struktur tanah, aerasi dan drainase tanah, serta kemampuan memegang air dan hara tanah. ?Kompos dan pasir pun sebetulnya kondisioner tanah alami, ? katanya. Bahkan, beberapa kalangan memasukkan kapur – yang berperan meningkatkan pH ?dan pupuk sebagai kondisioner tanah.
Pada kenyataannya istilah kondisioner tanah hanya populer untuk bahan-bahan yang mampu memperbaiki sifat fisik tanah seperti:struktur tanah dan kemampuan memegang air tanah. ?Dewasa ini tujuan utama konsumen memakai kondisioner untuk menstabilkan struktur tanah, ? kata Lanny Lingga, praktikus pertanian di Bogor.
Pengelola padang golf dan taman banyak menggunakan kondisioner. Maklum, rumput golf dan taman umumnya tumbuh di atas tanah yang dicampur pasir. Dengan pemberian kondisioner, pasir yang sulit menahan air menjadi mampu memegang air.
Lanny pernah mengamati pertumbuhan rumput golf di sebuah padang golf di Cikarang, Bekasi. Ketika itu pengelola kebingungan karena rumput tak kunjung prima walau beragam pupuk dibenamkan. Namun, setelah ditaburkan kondisioner tanah, dua bulan kemudian rumput telah menghijau.
Dua golongan
Secara umum kondisioner tanah dibedakan menjadi 2 golongan:organik dan anorganik. Kondisioner organik berasal dari fraksi-fraksi bahan organik seperti asam humat dan asam fulvat. Di pasaran dijual dalam bentuk butiran hitam seperti arang. Sementara kondisioner anorganik berbahan baku batuan vulkanik atau polymer yang mampu mengisap air. Dalam bentuk kering, kondisioner anorganik berbentuk kristal putih. Setelah menyentuh air, butiran itu akan mengembang dengan cepat karena menyerap air. Bentuknya pun berubah menjadi gel.
Dengan kemajuan teknologi, batasan organik dan anorganik pun menjadi agak kabur. Hasil penelitian Dr Willem Van Cotthem dan tim peneliti dari Universitas Belgia misalnya. Ia mampu memadukan 20 komponen – organik dan anorganik – menjadi sebuah kondisioner tanah yang dapat membantu proses pertumbuhan tanaman secara sinergis. Ia pun memperkaya bahan itu dengan hara mikro seperti B, Fe, Mo, Cu, Mn, dan Zn.
Penelusuran Trubus, hasil penelitian Van Cotthem itu kini menjadi salah satu rujukan para profesional di bidang lingkungan, pertanahan, reboisasi, dan industri hortikultura. Mereka ramai-ramai menggunakan kondisioner tanah karena mampu menghemat penggunaan pupuk hingga 50%. Bahkan, menurut Lanny Lingga, pemain tanaman hias, pot pun mulai menggunakan kondisioner tanah. (Destika Cahyana/Peliput:Evy Syariefa dan Syalita Fawnia Rachman)
