Tuesday, November 29, 2022

Ketika Jilatan Api Ditabukan

Rekomendasi

Orang seperti Oei Yam Tjhoei disebut rawfoodist alias pemakan makanan mentah. Jumlah mereka terus bertambah, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung.

 

Dokter Oetjoeng Handajanto di Bandung, misalnya, 4 tahun terakhir memilih makanan mentah sebagai santapannya. Gaya hidup itu dipopulerkan oleh Dr Norman Walker PhD pada awal abad 20. Asal tahu saja, Norman yang ahli nutrisi menjalani kebiasaan menikmati makanan mentah selama lebih dari 100 tahun hingga akhir hayatnya pada usia 120 tahun. Ia meninggal pada 1984.

Sembuh migrain

Perkenalan Oei Yam Tjhoei dengan pangan mentah terjadi pada 1994. ketika itu ia mengikuti seminar yang membahas tentang gaya hidup menikmati makanan mentah yang diperkenalkan Norman Walker dalam bukunya Fresh Vegetable and Fruit Juices . Sepulang seminar hasrat mengikuti jejak Norman amat besar. Sebab, gaya hidup itu dinilai menyehatkan. Sementara Oei menderita migrain sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Hingga usianya 40 tahun migrainnya tak juga sembuh.

Malahan derita itu terus berlanjut dan menghebat. Selain sakit di belakang kepala, ia pun menderita sakit seperti ditusuk-tusuk jarum di tengkuk dan leher. Pengusaha yang pernah makan semeja dengan dr Bruce Fife, ahli VCO, itu mondar-mandir menyambangi dokter spesialis. ?Bahkan dulu saya punya dokter langganan,? kata pria kelahiran 5 Februari 1942 itu. Hasil pemeriksaan dokter, migrain Oei akibat stres. Direktur utama perusahaan perakitan dan pembuatan komponen mesin itu akrab dengan aneka obat saraf.

Namun, kondisi Oei tak kunjung membaik. Saat obat dokter tandas, lagi-lagi derita menghampiri pria berusia 64 tahun itu. Ia pun memeriksakan diri ke RS Graha Medika, Jakarta. Hasil diagnosis dokter, ia juga mengidap batu empedu dan harus dioperasi. Ia menolak, ?Saya takut dioperasi,? kata pria asal Kediri, Jawa Timur, itu. Tak puas hasil pemeriksaan dokter di dalam negeri, ia pun melancong ke Beijing, Cina, untuk berobat. Sayang, dokter di sana gagal menemukan penyebab gejala yang diderita Oei. Akhirnya, ia pun kembali dengan tangan hampa.

Namun, setelah rutin mengkonsumsi makanan nabati mentah itu ia lebih sehat. Migrain akut yang dideritanya kini benar-benar sirna. ?Berenang hingga 10 kali lintasan (setara 500 m, red ) pun saya sanggup, ? katanya. Padahal, sebelumnya hanya mampu 50 m. Saat ini, ia juga rutin berolahraga seperti yoga, jogging, dan angkat beban. ?Dulu olahraga 10 menit saja, kepala pusing dan sakit,? kenangnya. Bobot tubuhnya pun berkurang hingga 10 kg dari semula 74 ?75 kg.

Enzim tumbuh

Menurut dr Oetjoeng Handajanto, yang membuka praktek colon hydrotherapy di Bandung, makanan nabati mentah berkhasiat karena kandungan enzim masih aktif. Enzim itu menyebabkan tanaman bisa tumbuh dan berkembang.

Enzim merupakan bagian yang hidup dalam makanan mentah itu. Oleh sebab itu, rawfood sering juga disebut livingfood alias makanan hidup. ?Jika dimasak dengan temperatur di atas 48o C selama 30 menit, enzim makanan akan mati, ? kata Oetjoeng. Enzim juga bermanfaat sebagai katalis agar penyerapan makanan sempurna. ?Menurut hasil penelitian, nutrisi makanan hidup 2.000% lebih mudah diserap,? jelas lulusan Fakultas Kedokteran Bochum University, Jerman, itu.

Makanan hidup kaya enzim sumber nutrisi bagi sel-sel dan organ tubuh, penguat darah, meningkatkan imunitas, mengatur kerja usus, serta meningkatkan energi. Selain itu, makanan hidup kaya serat sehingga membantu menurunkan kadar lemak darah dan membuang logam beracun seperti timbal dan kadmium dari dalam tubuh.

Hasil penelitian University of Texas Medical Center , mengkonsumsi makanan kecambah yang kaya enzim hidup, mampu menekan pertumbuhan sel kanker hingga 99%. Tak heran jika Oei pun konsisten menjalani hidup sebagai rawfoodist. Menurut Dra Emma S Wirakusumah MSc, mengkonsumsi pangan nabati mentah lebih baik daripada makanan yang dimasak. Pasalnya, kandungan gizinya masih utuh. Jika dimasak, vitamin-vitamin tertentu akan hilang. Contohnya vitamin C yang rusak jika dipanaskan pada suhu 80 ?90o C.

Bagi pengkonsumsi pangan nabati mentah, sebaiknya menyantap sayuran atau buah yang baru dipanen. Sebab, semakin lama rentang waktu antara panen dan konsumsi, maka nutrisi juga semakin berkurang. Selain itu, sayuran atau buah-buahan mesti terbebas dari kontaminasi zat kimia yang berasal dari pestisida. Untuk membersihkannya, bahan makanan dicuci di bawah air mengalir atau dikupas.

Tak semua sayuran mentah bisa disantap, seperti kubis dan lobak. Kedua jenis sayuran itu berserat tinggi dan menghasilkan gas ketika dicerna di lambung. Akibatnya, perut menjadi kembung. ?Kubis dan lobak bisa diolah dengan dijus sehingga lebih mudah dicerna, ? ujar master lulusan Centre Michigan University itu.

Vegetarian

Selain rawfoodist , tren gaya hidup lacto ovo ?hanya menyantap bahan pangan nabati, susu, dan telur ?juga kian marak. Tujuannya sama saja, meraih kesehatan prima dengan pola makan. Begitulah setidaknya keyakinan para kaum vegetarian seperti Taswan Wimalaputra. Kepala distributor perusahaan jamu itu menjalani hidup vegetarian sejak 18 tahun lampau.

Ketika di rumah, istrinya senantiasa menyediakan hidangan vegetarian. Namun, ketika makan siang tiba ia menyambangi restoran vegetarian di Jelambar, Jakarta Barat.

Taswan menjadi vegetarian sejak 1988. Setelah mempelajari berbagai literatur dan mengikuti seminar-seminar tentang pentingnya memperbaiki pola makan, ia tergugah untuk menjalani hidup sebagai vegetarian. ?Apalagi sekarang banyak bermunculan penyakit-penyakit degeneratif akibat maraknya jenis makanan yang tidak sehat, ? kata pria kelahiran Palembang itu. Selain menghindari konsumsi daging, Taswan juga menghindari rokok dan minuman beralkohol.

Setelah 18 tahun menjalani hidup sebagai vegetarian, banyak manfaat yang ia rasakan. ?Saya menjadi lebih segar dan tidak pernah mengeluh penyakit berat,? kata Taswan. Selain itu, bobot tubuh cukup ideal. Dengan tinggi badan 167 cm, ia memiliki bobot tubuh 50 kg. ?Dengan begitu, saya bisa beraktivitas lebih banyak. Apalagi itu yang menjadi tuntutan pekerjaan saya, ? ujarnya.

Karena banyak manfaatnya, sang istri pun mengikuti jejak Taswan. Pun anggota keluarga yang lain. ?Di keluarga saya ada 4 orang yang menjadi vegetarian,? katanya. Untuk menyeimbangkan kebutuhan gizi yang berasal dari daging seperti protein dan lemak, Taswan menggantinya dengan mengkonsumsi kacang kedelai dan jenis kacang-kacangan lainnya. Sedangkan sumber lemak bisa diperoleh dari alpukat dan minyak nabati seperti minyak zaitun atau minyak kelapa.

Suplemen

ntuk mendapatkan berbagai informasi tentang gaya hidup vegetarian, Taswan memperolehnya dari buletin dan millis, atau kontak langsung dengan sesama vegetarian.

Taswan mengakui, tidak semua zat gizi yang diperlukan tubuh terpenuhi oleh makanan nabati, seperti vitamin B kompleks dan B-12. Untuk itu, ia juga mengkonsumsi suplemen berupa tablet yang diramu dari bahan nabati yang sudah ditentukan kadar gizi dan komposisinya. Ia rutin mengkonsumsinya sehari sekali 2 tablet sekaligus.

Rawfoodist dan vegetarian yang belakangan marak menjadi jalan untuk mencapai kesehatan. Hanya dengan mengatur pola makan, kesehatan mereka pun terjaga. Jadi, tak perlu harus bolak-balik ke kamar praktek dokter. (Imam Wiguna / Peliput:Vina Fitriani)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img