Begomovirus Ancam Produktivitas Sayuran, Kenali Gejala dan Cara Pengendaliannya

Rekomendasi

Serangan Begomovirus menjadi salah satu ancaman bagi produktivitas tanaman sayuran, terutama cabai dan tomat. Infeksi virus ini dapat menyebabkan daun menguning, bermotif mosaik, dan keriting. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat dan kualitas serta hasil panen berpotensi menurun.

Penyebaran Begomovirus umumnya dibantu oleh kutu kebul (Bemisia tabaci) sebagai serangga vektor. Karena itu, pengendalian penyakit tidak cukup hanya dengan menangani tanaman yang menunjukkan gejala. Petani juga perlu memperhatikan keberadaan serangga pembawa virus dan kondisi lingkungan pertanaman.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya pengendalian Begomovirus secara terpadu melalui deteksi dini, pemantauan populasi serangga vektor, penggunaan benih sehat, serta penerapan sanitasi lahan. Pengembangan varietas sayuran tahan atau toleran virus juga menjadi strategi untuk menekan risiko serangan dan kehilangan hasil.

Hal tersebut dibahas dalam Webinar HortiActive #31 bertema Mewaspadai Serangan Begomovirus pada Komoditas Sayuran di Indonesia yang diselenggarakan Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Rabu (28/10).

Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, mengatakan pengendalian Begomovirus menjadi perhatian penting karena berkaitan langsung dengan produktivitas sayuran. Komoditas tersebut tidak hanya berperan dalam mendukung ketahanan pangan, tetapi juga memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatan masyarakat.

Menurut Puji, pengembangan varietas sayuran tahan virus dan pemanfaatan sumber daya genetik yang memiliki sifat ketahanan perlu diperkuat. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengelolaan penyakit tanaman secara berkelanjutan.

Dalam webinar tersebut, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura BRIN, Catur Hermanto, memaparkan kompleksitas patosistem Begomovirus pada tanaman sayuran di Indonesia. Ia menjelaskan hubungan antara virus, tanaman inang, dan berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan penyakit.

Pemahaman terhadap hubungan tersebut menjadi dasar dalam menentukan strategi pengendalian yang sesuai dengan karakteristik penyakit dan kondisi pertanaman.

Dari sisi perlindungan tanaman, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Ahli Madya UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Timur, Prasetyo, membahas serangan Begomovirus pada tanaman sayuran di Malang Raya. Pembahasan mencakup kondisi serangan di lapangan, pengenalan gejala penyakit, serta pentingnya pemantauan dan pengendalian sesuai kondisi setempat.

Sementara itu, Crop Breeding Manager Group Pepper PT Benih Citra Asia, Muhammad Ichsan Tarigan, mengulas perakitan dan strategi peredaran bibit sayuran tahan virus. Pemuliaan tanaman dinilai memiliki peran penting dalam menghasilkan varietas dengan ketahanan terhadap virus. Selain itu, distribusi benih juga perlu diperhatikan agar varietas unggul dapat dimanfaatkan petani.

Ketiga perspektif tersebut menunjukkan bahwa pengendalian Begomovirus membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari peneliti, petugas perlindungan tanaman, hingga industri perbenihan.

Melalui penguatan deteksi dini, pengendalian serangga vektor, sanitasi lahan, dan penggunaan varietas tahan, risiko kehilangan hasil akibat serangan Begomovirus diharapkan dapat ditekan. Langkah tersebut sekaligus mendukung keberlanjutan produksi sayuran dan ketahanan pangan nasional.



Artikel Terbaru

Jejak Petani: Mengembangkan Kebun Plasma Nutfah Sukun, Merawat 2.000 Pohon dari Berbagai Daerah

Berawal dari keinginan mengembangkan tanaman konservasi di kampung halaman, Sunaryanto berhasil merawat ribuan pohon sukun di Kebun Plasma Nutfah...

More Articles Like This