Budi daya kepiting bakau dengan teknik vertical crab house menjadi alternatif pengembangan usaha perikanan di lahan terbatas. Namun, metode tersebut masih menghadapi kendala dalam pengendalian kualitas air yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting.
Dosen Departemen Teknik Instrumentasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ir. Safira Firdaus Mujiyanti, S.T., M.T., mengungkapkan bahwa penerapan budi daya menggunakan metode vertical crab house saat ini belum sepenuhnya efektif dan efisien. Hal itu diketahui berdasarkan hasil survei dan wawancara dengan pembudidaya kepiting di Surabaya, Jawa Timur.
Salah satu persoalan yang dihadapi pembudidaya adalah tingginya risiko kematian kepiting akibat kualitas air yang tidak terkontrol. Padahal, kondisi air menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan hingga proses pergantian cangkang atau molting.
Pembudidaya kepiting bakau di Surabaya, Tonny Berthiolios, mengatakan bahwa salinitas atau kadar garam air menjadi salah satu parameter utama yang harus diperhatikan. Berdasarkan pengalamannya, salinitas ideal untuk kepiting bakau berada pada kisaran 15–25 ppt.
Selain itu, tingkat keasaman (pH) air perlu dijaga pada rentang 6,5–7,5. Apabila pH terlalu tinggi atau basa, kepiting umumnya mengalami kesulitan saat molting. Kondisi tersebut dapat merugikan pembudidaya, terutama yang memproduksi kepiting soka.
Suhu air juga perlu dipertahankan pada kisaran 27–33 derajat Celcius. Suhu yang terlalu rendah dapat menurunkan nafsu makan kepiting dan menghambat proses molting. Sementara itu, kadar amonia perlu dijaga agar tidak terlalu tinggi.
Selama ini, pembudidaya masih mengandalkan pengukuran dan pengendalian kualitas air secara manual. Cara tersebut membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak serta belum memungkinkan pemantauan kondisi air secara langsung atau real-time.
Otomatisasi Kualitas Air
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Safira bersama tim dari Departemen Teknik Fisika dan Teknik Informatika ITS mengembangkan sistem otomatisasi pengendalian kualitas air bernama VertiCrab.
Teknologi tersebut dirancang untuk menjaga kondisi air budi daya agar sesuai dengan habitat alami kepiting bakau. Sistem VertiCrab mengendalikan empat parameter utama, yakni temperatur, pH, salinitas, dan amonia.
Dalam pengaturan temperatur, VertiCrab menggunakan pemanas atau heater serta pompa air arus searah (DC). Ketika suhu air melebihi batas yang ditentukan, pompa akan menambahkan air dengan temperatur lebih rendah.
Pengaturan pH dilakukan menggunakan larutan pengatur keasaman yang dialirkan melalui pompa DC mini. Sementara itu, salinitas dikendalikan dengan menambahkan larutan garam sintetis ketika kadar garam menurun. Jika salinitas terlalu tinggi, sistem akan menambahkan air tawar.
Adapun pengendalian amonia dilakukan menggunakan skimmer untuk membantu mengurangi kandungan amonia dalam air.
Sistem sirkulasi air juga dirancang untuk menjaga kebersihan lingkungan budi daya. Air ditampung dalam wadah berkapasitas 95 liter, kemudian dipompa menuju boks kepiting. Setelah melewati boks, air dialirkan kembali melalui sistem penyaringan.
Filter air tersebut terdiri atas tiga komponen, yaitu busa, bioball, dan kulit kerang. Ketiganya berfungsi menyaring kotoran fisik sebelum air masuk ke skimmer untuk mengurangi kadar amonia yang berasal dari kotoran kepiting.
Pemantauan Melalui Gawai
VertiCrab dilengkapi empat sensor untuk membaca kondisi temperatur, pH, salinitas, dan amonia. Data dari sensor kemudian diolah menggunakan mikrokontroler untuk menggerakkan aktuator, seperti relay, heater, dan pompa sesuai dengan batas parameter yang telah ditentukan.
Data pengukuran selanjutnya dikirimkan ke pusat data dan dapat diakses melalui perangkat pintar, seperti telepon seluler atau tablet yang terhubung dengan jaringan Internet of Things (IoT).
Dengan sistem tersebut, pembudidaya dapat memantau kondisi air dari jarak jauh secara real-time. Apabila terjadi perubahan parameter di luar batas normal, sistem dapat memberikan peringatan melalui notifikasi pada perangkat pengguna.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa penerapan VertiCrab mampu meningkatkan peluang hidup kepiting budi daya hingga 97,23%. Akurasi sensor pH mencapai 97,86%, sensor temperatur 97,77%, dan sensor salinitas 97,19%.
Pengujian sistem pengendalian juga menunjukkan bahwa nilai setiap parameter kualitas air dapat dipertahankan dalam rentang yang telah ditentukan sesuai kondisi optimal habitat kepiting. Selain itu, pertumbuhan massa kepiting mencapai 32,25% selama empat minggu pengamatan.
Aplikasi KeBak Pantau Kondisi Kepiting
Selain pengembangan VertiCrab, pengelolaan budi daya kepiting soka juga didukung aplikasi KeBak yang dikembangkan PT Berjaya Inovasi Global (BiG).
Anggota tim periset KeBak PT BiG, Abdurrahman, menjelaskan bahwa aplikasi tersebut dirancang untuk membantu pembudidaya mengelola data kepiting dan kualitas air dalam kegiatan operasional sehari-hari.
Melalui aplikasi KeBak, pengguna dapat memantau data penerimaan kepiting, kondisi kepiting, hingga ringkasan hasil pemeliharaan. Informasi yang tersedia meliputi jumlah kepiting yang diterima, jumlah kepiting hidup dan mati, kepiting yang siap dipanen, serta kondisi dan jenis kelaminnya.
Aplikasi tersebut juga memungkinkan pembudidaya mengatur batas minimum dan maksimum sejumlah parameter kualitas air, seperti pH, salinitas, dan suhu ruangan.
KeBak dilengkapi fitur otomatisasi pada bagian pemantauan air. Jika hasil pengukuran menunjukkan nilai yang melewati batas minimum atau maksimum yang telah ditentukan, aplikasi akan mengirimkan notifikasi kepada pembudidaya maupun petugas operasional.
Pengembangan teknologi pemantauan dan otomatisasi tersebut diharapkan dapat membantu pembudidaya mengurangi risiko kematian kepiting, mempermudah pengawasan proses molting, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan budi daya kepiting bakau dan kepiting soka.
Foto. Alat kontrol pH, kadar garam, dan temperatur pada aplikasi KeBak. (PT BIG)
