Wednesday, January 28, 2026

Hoya Baru Mencuri Hati

Rekomendasi
- Advertisement -
Hoya sp Sumatera berdaun oval memanjang dengan ujung runcing.

Hoya-hoya baru berbunga menawan. Sudah elok, wangi pula.

Trubus — Shintarini Aliwarga jatuh hati melihat fota hoya berbunga. Kolektor hoya di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, itu memperoleh foto hoya dari sesama pehobi, Amar di Sumatera Utara. Namun, mereka belum tahu persis nama spesies hoya asal Padangsidempuan, Sumatera Utara, itu. Amar mendapatkan foto itu dari hasil perburuan di hutan. Banyak peminat tanaman anggota famili Apocynaceae itu yang berburu langsung ke hutan.

Di kalangan kolektor tanaman hias, foto menjadi senjata andalan untuk menarik perhatian. Mereka lazim mengunggah kecantikan hoya di jejaring media sosial. Kabar hoya baru cepat tersebar lantaran para pehobi membuat grup daring (online) untuk bertukar informasi sekaligus identifikasi jenis. Foto juga vital lantaran hoya mekar dalam waktu singkat, bahkan ada yang sehari mekar lalu besok rontok.

Bunga cawan

Hasrat Shintarini memperoleh hoya baru itu akhirnya terwujud pada 2017. Pemilik Nurseri Moonhoya itu mendapatkannya dari Amar secara gratis. Shintarini merawat pendatang baru itu dengan sepenuh hati. Hampir setahun berselang, tanaman kerabat kamboja itu berbunga meski sempat beberapa kali hampir mati. Keruan saja Shintarini girang bukan main. Ukuran bunganya mungil dan menguarkan aroma harum.

Sebelum mahkota mekar, warna makin matang. Muncul semacam garis yang menjadi perpotongan terbukanya mahkota. Makin dalam ia mengamati detail pertumbuhan, makin terpesona dengan hoya. Hoya sp sumatera—sebutan Shintarini untuk hoya dari Padangsidempuan itu, bentuknya sekilas mirip Hoya narcissiflora. Mahkota bunga lebar dan hampir menyatu satu sama lain terlihat seperti cawan ketika mekar.

Bentuk korona mirip dengan H. narcissiflora dengan warna ungu di bagian tengah. (Dok. Shintarini Aliwarga)

Bedanya, warna bagian luar mahkota Hoya sp sumatera itu ungu kecokelatan bersemu hijau, sedangkan bagian dalam kuning pucat mengilap seperti berlapis lilin dan bersemburat ungu di bagian tepi. Bentuk korona juga mirip dengan H. narcissiflora, tapi bagian tengah berwarna ungu kecokelatan membentuk lingkaran kecil. Menurut perempuan 70 tahun itu mekarnya hoya ada 3 pola jika diamati dari samping.

Semula, mahkota sedikit terbuka memperlihatkan korona, lalu terbuka sejajar, dan akhirnya menghadap ke bawah. Selain Shintarini, pehobi lain yang jatuh hati pada hoya baru itu adalah Ade Andriyani. Kolektor di Bogor, Jawa Barat, itu memperoleh Hoya sp sumatera pada tahun 2018. Ia memperolehnya dari kolektor hoya di Jambi, Christina Winanti. Ade melirik hoya sebab bentuk bunganya unik menyerupai bola.

“Kesannya lucu, ada yang berbulu dan wangi, juga gampang tumbuh. Sudah begitu, anggrek dan hoya sama-sama epifit,” katanya. Begitu juga Rafiah Siregar di Padangsidempuan yang mengoleksi tanaman serupa. Rafiah terpikat hoya lantaran keunikan dan eksotismenya.

Bunga putih

Nun di Malang, Jawa Timur, Levina Wardana mengoleksi hoya berbunga putih asal Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. “Pertama melihat bunganya mekar warna putih langsung suka. Tapi saya tidak tahu identitasnya,” ujar Indah—sapaan akrab Levina. Selain karena berbunga putih, Indah kesengsem tanaman epifit itu lantaran batang yang unik berwarna kuning.

Hoya berbunga putih asal Ungaran, Jawa Tengah. (Dok.Levina Wardana)

Warna batang kuning membuatnya seakan kering hampir mati, padahal menumbuhkan daun segar dan bunga. Daunnya cukup tebal sekitar 1—2 mm dengan panjang 9—10 cm dan lebar 2—2,5 cm. Meski belum mengetahui jenisnya, pemilik Nurseri Pot Levina itu belum berani menyebutnya hoya baru. Ia mengirim sampel Hoya sp dari Ungaran itu kepada peneliti di Kebun Raya Bogor Dr. Sri Rahayu untuk identifikasi.

Tak hanya bunga putih, pehobi hoya sejak 2012 itu juga mengoleksi Hoya sp Ungaran berbunga kuning. Bunga elok juga menguarkan aroma harum. Indah mengatakan, “Biasanya ketika mekar bisa mengeluarkan madu saat sore hari”. Ia memperolehnya dari Muhlisin pada tahun 2014 dan menduga bunga kuning ini bukan spesies baru, melainkan hanya varietas baru. Perempuan asal Surabaya ini juga masih menanti identifikasi dari Sri Rahayu untuk mengetahui kebenarannya.

Koleksi Levina Wardana (dari kiri: Hoya sp Malang, Ungaran bunga putih, dan Ungaran bunga kuning) (Dok. Levina Wardana)

Ketika baru memperoleh hoya, Shintarini membiarkan saja tanaman itu tumbuh sendiri. Ia mengamati karakteristiknya baru menentukan perlakuan tepat. Hoya berdaun oval memanjang dengan ujung runcing itu cukup tangguh. Tanamannya beberapa kali mengering hampir mati, tapi kemudian pulih lantas berbunga. Ada juga hoya yang lama bertunas dan tidak tumbuh daun, tapi malah berbunga terus-menerus.

Shintarini sigap menyemprotkan pupuk B1 setelah tanaman datang atau setelah pindah tanam. Tujuannya untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman. Ia cukup melarutkan 15 ml cairan pupuk B1 dalam 1 liter air, mengaduk rata, dan menyemprotkannya di sekujur tanaman. Interval penyemprotan 3-5 hari sekali. Selain itu, ia juga memberikan perangsang akar untuk hoya yang baru disetek serta pestisida untuk menghalau hama dan penyakit.

Perlakuan itu membuat koleksi-koleksinya memamerkan bunga hampir tiada henti. Lazimnya setelah tanaman berbunga, layu, kemudian berbunga kembali memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk setiap tanaman. Setelah kuncup berubah warna makin matang, itulah saat tepat Shintarini mengundang kerabat dan handai taulan menyaksikan keelokan bunga hoya yang akan segera mekar dan menebarkan aroma harum. (Sinta Herian Pawestri)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img