Tangerang, 6 November 2025 — Pameran perdana Indonesia Agriculture Technology Expo (IndoGriTech) 2025 resmi dibuka di ICE BSD City. Acara yang berlangsung hingga 9 November ini menjadi momentum penting bagi transformasi pertanian Indonesia menuju era yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Peresmian dipimpin oleh Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono, bersama para pemimpin asosiasi industri pangan nasional. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh pelaku pertanian untuk menjadi bagian dari solusi dalam memperkuat ketahanan pangan.
“Negara harus memastikan pertanian tetap untung, petani tidak rugi, dan konsumen juga terlindungi. Teknologi tidak menggantikan manusia, tapi membantu meringankan pekerjaannya,” ujarnya di hadapan tamu undangan. Ia juga menegaskan komitmen pemerintah untuk menyiapkan generasi muda yang mampu menciptakan bibit unggul dalam negeri, sehingga ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap.
Dukungan senada disampaikan Direktur PT Debindo Global Expo, Rafidi Iqra Muhammad, selaku penyelenggara IndoGriTech. Ia menuturkan bahwa pameran ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Pameran ini lahir dari semangat kolaborasi antara pemerintah, industri, dan para ahli. Kami berharap kegiatan ini memberi dampak langsung bagi peningkatan produktivitas pertanian dan peternakan yang berujung pada pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Rafidi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, Ph.D, menilai IndoGriTech bukan sekadar ajang pamer teknologi, melainkan ruang untuk membangun ekosistem industri pangan yang tangguh. “Industri yang kuat hanya bisa bertahan jika inovasi, regulasi, dan energi dari hulu ke hilir bergerak bersama. Di tengah tantangan global, ruang kolaborasi seperti ini menjadi kunci untuk membuka peluang baru,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami, menyoroti peran strategis sektor perunggasan dalam memenuhi kebutuhan protein nasional. Menurutnya, lebih dari 65 persen protein hewani masyarakat Indonesia berasal dari unggas. Ia menekankan pentingnya konsistensi data produksi dan sinkronisasi antara ketersediaan pakan dengan kapasitas produksi nasional agar keseimbangan pasar tetap terjaga. “Transformasi industri menuju sistem yang lebih efisien dan ramah lingkungan adalah langkah yang tidak bisa ditunda,” katanya.
Nada kritis datang dari Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Alat dan Mesin Pertanian Indonesia (Alsintani), Ir. Mindo Sianipar, yang mengingatkan bahwa keterjangkauan pangan harus menjadi perhatian utama. “Kalau harga pakan naik dan telur tak terjangkau, masyarakat kecil bisa kehilangan sumber protein. Pemerintah harus hadir dari hulu hingga hilir untuk memastikan keberlanjutan industri kecil,” ujarnya.
Dengan mengusung tema “Shaping a Resilient Food Estate for Indonesia”, IndoGriTech 2025 menyatukan dua sektor utama pertanian dan peternakan dalam satu ekosistem pangan nasional. Pameran ini menampilkan berbagai inovasi teknologi mulai dari benih unggul, alat pertanian modern, teknologi drone, hingga solusi pengelolaan limbah pertanian dari merek ternama seperti Kotrack, Xinyuan, DJI, dan Aerotron.
Rangkaian kegiatan turut diramaikan oleh Nusantara Food Summit yang digelar bersama media Narasi. Acara ini menghadirkan tokoh-tokoh nasional seperti Prof. Dr. Arif Satria, H. Yandri Susanto, dan Dian Novita, membahas kolaborasi nyata menuju kemandirian pangan. Diskusi publik ini mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas tani dalam satu visi membangun sistem pangan yang tangguh dan inklusif.
Dari panggung pembukaan hingga sesi diskusi, IndoGriTech 2025 menunjukkan bahwa masa depan pangan Indonesia dibangun bukan hanya dengan teknologi, tetapi juga dengan semangat gotong royong lintas sektor. Pertanian dan peternakan tak lagi berdiri sendiri, melainkan berjalan beriringan dalam ekosistem pangan nasional yang mandiri, berdaya saing, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.
(Naya Maura Denisa)
