Pameran IndoGriTech 2025 di ICE BSD City, Tangerang, resmi dibuka dengan semangat kolaborasi menuju pertanian modern yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Ajang ini menjadi wadah bagi pelaku industri pertanian, peternakan, akademisi, dan pemerintah untuk bertukar gagasan, memperkenalkan teknologi terkini, serta membangun jejaring menuju kemandirian pangan nasional.
Peresmian acara dilakukan oleh Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono, yang menegaskan pentingnya transformasi pertanian berbasis inovasi. “Negara harus memastikan petani tetap untung dan konsumen terlindungi. Teknologi tidak menggantikan manusia, tapi meringankan pekerjaannya,” ujarnya di hadapan tamu undangan. Pameran yang berlangsung hingga 9 November ini diharapkan menjadi langkah nyata memperkuat ekosistem pangan nasional dari hulu hingga hilir.
Di tengah deretan stan teknologi, tampak geliat baru dari generasi muda agripreneur yang hadir membawa gagasan segar. Mereka datang bukan sekadar memamerkan produk, tetapi menawarkan cara pandang baru tentang pertanian: lebih cerdas, efisien, dan berpihak pada keberlanjutan lingkungan.
Salah satunya Manager Lembur Hejo Indonesia, Maulana Maqdum, yang menghadirkan sistem pertanian hidroponik otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Dengan teknologi ini, Maqdum membuktikan bahwa keterbatasan lahan tidak lagi menjadi hambatan bagi siapa pun yang ingin bertani di tengah kota. “Pertanian modern harus adaptif. Lahan sempit pun bisa jadi sumber pangan, asalkan mau berinovasi,” tuturnya.
Lembur Hejo menawarkan solusi lengkap mulai dari rancangan greenhouse hingga sistem kontrol iklim otomatis yang dapat diatur melalui gawai. Air digunakan secara efisien, tanpa pestisida kimia, dan hasil panen lebih seragam. “Kami juga memanfaatkan panel surya agar seluruh sistem ramah energi,” tambahnya. Gagasannya tidak hanya mendukung urban farming, tetapi juga mendorong pertanian berkelanjutan di masa depan.

Di sisi lain, Staf Business Development Frogs Indonesia, Ega Septya Rahmat, memperlihatkan bagaimana teknologi drone dapat menjadi sahabat baru para petani. Drone sprayer yang diproduksi di Bantul ini mampu menyemprot satu hektare lahan hanya dalam waktu sekitar 12 menit. “Kalau dulu butuh dua hari dengan tenaga manusia, kini cukup sepersekian waktunya,” ujar Ega sambil memamerkan drone yang dilengkapi sensor penghindar halangan.
Frogs Indonesia mengutamakan komponen lokal dan telah memperoleh sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Teknologi mereka juga tengah dikembangkan dengan fitur LIDAR yang mampu membaca kondisi lahan dan tingkat kesuburan tanah secara akurat. “Drone tidak menggantikan petani, tapi membuat mereka lebih aman dari paparan bahan kimia dan pekerjaan yang berat,” jelasnya.

Sementara itu, dari sektor peternakan, CEO Nusaku Indonesia, Nanang Sugiarto, membawa misi hijau lewat inovasi pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik bernilai tinggi. Produk unggulannya, Bio-Urin dan Vermicompost, kini mulai dikenal luas di kalangan petani hortikultura. “Kami berangkat dari hal sederhana mengubah limbah jadi berkah,” katanya.
Bio-Urin dibuat dari fermentasi urin sapi yang dicampur bahan herbal seperti jahe dan kunyit untuk memperkaya unsur hara. Sedangkan Vermicompost dihasilkan dari proses alami oleh mikroba dan cacing tanah. Menurut Nanang, pupuk ini bukan hanya menambah nutrisi, tapi juga memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia jangka panjang. “Kami ingin menunjukkan bahwa peternakan dan pertanian bisa saling menopang, bukan saling membebani,” tuturnya.
Produk Nusaku kini telah digunakan petani di berbagai daerah, dari Bogor hingga Bali, bahkan mulai dilirik pasar luar negeri. Perusahaannya rutin membuka demplot percontohan agar petani dapat melihat langsung hasil panen yang meningkat setelah menggunakan pupuk organik. “Keberlanjutan bukan sekadar wacana, tapi tanggung jawab yang harus dibuktikan di lapangan,” ujar Nanang.
Dari tangan-tangan seperti Maqdum, Ega, dan Nanang, IndoGriTech 2025 menghadirkan wajah baru pertanian Indonesia. Inovasi yang lahir dari pengalaman dan kepedulian ini menjadi jembatan antara tradisi bertani dan kemajuan teknologi. Dari udara hingga tanah, dari data hingga kompos, setiap gagasan yang muncul di pameran ini menegaskan satu hal: masa depan pangan Indonesia dibangun oleh sinergi, bukan kompetisi.
“Pertanian yang kuat bukan yang serba besar, tapi yang mampu beradaptasi,” ucap Maqdum menutup percakapan sore itu. IndoGriTech 2025 bukan hanya etalase teknologi, melainkan ruang kolaborasi yang menumbuhkan harapan baru bagi kedaulatan pangan nasional.
(Naya Maura Denisa)
